#coffeeducation : Berbagi : Kopi Bikin Happy

Seduh Kopi Syphon

Seduh Kopi Syphon

Apa yang ingin dirasakan oleh para penikmat kopi?. Pasti mereka menginginkan rasa kopi yang memiliki variasi. Dan kopi memang memungkinkan penikmatnya untuk mendapatkan rasa yang berbeda meski dari biji yang sama. Rahasianya ada pada teknik seduh.

Sebagai pengemar kopi dengan positioning yang belum jelas, saya hanya mengenal teknik seduh tradisional yang kerap disebut kopi tubruk dan sesekali menikmati seduhan mesin di gerai-gerai kopi modern atau hotel. Memasuki tahun 2015 seiring dengan menggilanya perbincangan tentang batu dan drone, pengetahuan dan pengalaman menikmati sensasi kopi yang berbeda-beda mulai saya rasakan.

Dari bincang-bincang dengan beberapa kawan saya memperoleh informasi tentang beberapa kedai kopi yang menyajikan single origin dan speciality coffee. Berbekal informasi itu saya mulai mendatangi beberapa kedai kedai kopi tersebut untuk merasakan sensasi rasa kopi yang diseduh dengan teknik manual brewing.

Warung Kopi Gayo di lantai 3 Segiri Grosir menjadi tempat favorit untuk berkumpul. Kedai ini menyajikan kopi Arabika Gayo yang berasal dari Kecamatan Takengon. Cara penyajian yang utama adalah dengan teknik seduh Vietnam Drip.

Berawal dari perbincangan disitu, terbersit keinginan untuk memperdalam pengetahuan dan pengalaman tentang kopi. Ellie Hasan, seorang teman yang mengelola Galeri Samarinda Bahari menyambut gagasan itu dan segera mengontak teman kuliahnya yang sangat mencintai kopi.

Membawa kopi dan ngopi ke rumah, begitu inti dari gagasan itu. Gagasan yang oleh Ellie kerap disebut sebagai impian manis ini telah dua kali terlaksana. Rifky Ramadhan, teman Ellie membagi ilmunya tentang kopi dengan memboyong alat dan biji kopinya sendiri. Kami hanya duduk manis, sesekali bertanya dan memotret kanan kiri menunggu Rifky menyajikan secangkir kopi olahannya.

Private brewing sendiri sudah berjalan dua kali. Pada kali yang kedua, Rifky mengajak Mas Dwi Setyono, pengelola Cafe Second Floor dan teman-teman lain dari Bubuhan Kopi Samarinda. Pada kesempatan ini Mas Dwi mendemonstrasikan ketrampilannya menyeduh kopi secara manual. Salah satu biji kopi yang dibawanya adalah kopi Ethiopia.

Di sela-sela kesibukannya menyeduh kopi, Mas Dwi terus memberi berbagai informasi seputar kopi. Sessi berbagi informasi semakin intens ketika semua telah menikmat berbagai jenis kopi yang diseduh dengan teknik V 60 dan Aeropress. Salah satu yang menarik adalah cerita Mas Dwi tentang kopi Liberica yang ternyata bisa ditemukan di Kaliorang, Kutai Timur. Sayangnya oleh para penanamnya pohon kopi Liberica cenderung akan dimusnahkan karena kurang mendatangkan keuntungan.

Soal kopi, Samarinda memang masih perlu edukasi. Menurut Mas Dwi, kebanyakan orang yang datang ke kafe tujuan utamanya bukan menikmati kopi hitam, melainkan mencari suasana, menghabiskan waktu sambil online atau ngobrol-ngobrol sambil menyeruput minuman setengah kopi atau bahkan bukan kopi sama sekali.

Syukurnya, beberapa pemilik atau pengelola coffee shop tidak pelit untuk berbagi informasi. Soal manual brewing misalnya, saya mendapatkan penjelasan panjang lebar untuk pertama kalinya dari Agus yang mengelola Kedai Kopi Nusantara di Jalan Juanda Samarinda. Ketika saya tanyakan soal apa itu manual brewing, Agus segera beranjak dan kemudian datang kembali ke meja sambil membawa berbagai peralatan untuk seduh kopi secara manual.

Pada suatu kesempatan, saya berkumpul dengan teman-teman di rumah Om Firdaus. Tujuannya adalah ngopi bareng sambil mencoba berbagai alat seduh kopi manual yang dibeli oleh Ade Fadli atau lebih dikenal sebagai Timpakul. Salah satu yang dicoba adalah Moka Pot. Hasilnya bisa ditebak, kurang memuaskan karena takaran, tingkat panas air, kasar halusnya gilingan semuanya serba kira-kira.

Nah ketika berbincang soal teknik seduh dengan Bung Harwin, owner dan pengelola Anima Cafe yang terletak di ruko sebelah belakang POM Bensin Juanda, tersebutlah Moka Pot. Harwin menawarkan untuk menikmati seduhan dengan Moka Pot pada kesempatan berikut kalau kami ngopi di Anima. Tak cuma menawarkan, Harwin kemudian masuk ke dalam mengambil Moka Pot dan kompor kecil yang khusus ditujukan untuk memanasinya. Apa yang diceritakan oleh Harwin membuat kami tertawa kecut waktu mengingat saat mencoba-coba menyeduh dengan Moka Pot tanpa bimbingan seorang mentor.

Kini berbagai kopi telah saya rasakan. Berbagai metode seduhpun sudah saya kenal. Tugas selanjutnya adalah mengkalibrasi lidah saya agar semakin peka untuk mengenali rasa dan sensasi masing-masing jenis kopi. Sayangnya kepekaan lidah saya mungkin sudah berkurang karena kegemaran merokok sejak SMA. Namun meski lidah saya tak terlalu peka menangkap sensasi kopi, menyeruput segelas kopi dan mendengar berbagai cerita tentang kopi selalu bikin happy.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *