Tuang Kopi Foto : Julak @jarakada

#coffeeducation : Nge-Gayo 1

Tuang Kopi Foto : Julak @jarakada

Tuang Kopi Foto : Julak @jarakada

Dalam benak saya, nama kopi yang pertama nyantol di kepala adalah Kopi Kotamubago. Entah ini kopi jenis apa dan bagaimana pengolahannya, saya sama sekali tak tahu. Tapi yang pasti kopi inilah yang saya seruput minimal 3 gelas sehari sewaktu saya tinggal di Manado Sulawesi Utara.

Selama tinggal di Manado, karena sering numpang tinggal di rumah keluarga yang bermoyang Toraja, saya juga cukup sering menikmati seduhan kopi Toraja. Kopinya digiling lebih lembut dan disanggrai gelap (dark). Kelak ketika gerai kopi modern pertama dibuka di kompleks reklamasi teluk Manado, Cappucino Toraja selalu menjadi pilihan ketika memesan minuman untuk ditemani dengan Tuna Sandwich.

Sekali waktu saya melancong ke Pematang Siantar dan disana saya mengenal kopi Sidikalang dan Mandailing. Di sela berbincang dan minum kopi di warung terselip perbincangan tentang kopi Aceh yang dalam benak tersirat sebagai kopi yang dicampur ganja sehingga nikmat terasa.

Kopi Aceh kemudian saya nikmati saat dulu sering berkumpul dengan jaringan antar iman. Dalam berbagai pertemuan teman dari Aceh selalu datang membawa kopi sebagai oleh-oleh untuk dinikmati bersama. Namun saya bukanlah pencecap kopi yang handal sehingga yang tersisa hanya cerita bahwa saya sudah minum kopi Aceh.

Sempat beberapa kali singgah di Makassar namun soal kopi tak begitu jadi perbincangan karena saya lebih tertarik untuk mengekplorasi rasa ikan laut segarnya. Robusta Makassar, Kalosi Toraja saya baca justru ketika melihat daftar pilihan kopi pada salah satu kedai kopi di Kota Samarinda. Begitu juga ketika datang ke Kupang. Yang saya cari justru Moke dan Sei Babi, walau ketika pulang saya membeli oleh-oleh kopi Flores.

Berkali ke Papua, saya juga tak membincang kopi Wamena. Saat menyinggahi warung kopi satu-satunya di Waisai, Ibukota Kabupaten Raja Ampat, penjualnya yang berasal dari Sulawesi Selatan tak terlalu berminat diajak berbincang soal kopi. Dan ketika saya datang untuk kedua kalinya, kedai itu sudah tak buka lagi.

Jujur saja meski suka kopi dan selalu minum kopi, saya tak terlalu cerewet soal kopi apa dan bagaimana cara menyeduhnya. Saya hanya ribut kalau kopi terasa apek dan hambar saja. Meminum dan membincang kopi dengan intensif sambil mengkalibrasi lidah agar lebih peka terhadap rasa dan aroma kopi baru baru muncul beberapa waktu terakhir ini.

Kini kode ajakan untuk minum kopi tak lagi “ngupi-ngupi kah?” melainkan “nge-gayo yuk” atau “anima”, “Nusantara”, “Malabar” dan seterusnya. Membaca mention “nge-gayo” berarti kode untuk minum kopi di Kedai Kopi Gayo yang ada di lantai 3 Segiri Grosir Samarinda. Demikian pula ketika ada hastag #coffeeducation berarti ada rencana untuk melakukan private manual brewing entah di Galeri Samarinda Bahari atau Kopi Bawah Pohon Mangga samping Orca Media di Jalan Kusumawijaya.

Dua kali mengikuti private manual brewing atas kebaikan Ellie Hasan, pengelola Galeri Samarinda Bahari dan kerelaan berbagai yang luar biasa dari ‘barista’ Rifky Rhamadan dan Hilda, pasangan hidupnya yang sangat bersahabat, saya beroleh bukan hanya sensasi rasa aneka single origin coffee melainkan seluk beluk kopi dari sisi sejarah, karakter, perlakuan paska panen hingga cara penyajiannya. Satu hal yang pasti pergaulan dengan manual brewing membuat saya terbiasa minum kopi tanpa gula lagi.

@yustinus_esha

2 comments on “#coffeeducation : Nge-Gayo 1

  1. Although it can be difficult to create drip coffee, you can make it
    better. There is no reason to turn a blind eye to the coffee practices being utilized worldwide that may or may not affect the environment for
    the worse. Your body can’t tell the difference between a
    normal cis fatty acid and an artificial trans fatty acid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *