Tuang Kopi Foto : Julak @jarakada

#coffeeducation : Nge-Gayo 2

Tuang Kopi Foto : Julak @jarakada

Tuang Kopi Foto : Julak @jarakada

Entah karena enak diucapkan, kerap kali ketika memesan single origin kopi, saya kerap menyebut kopi Gayo sebagai pilihan. Kalau waiters bilang “Gayo lagi kosong” baru kemudian saya menyebut Mandailing, Sidikalang atau Bali Kintamani. Di kafe tertentu sesekali saya menyebut Wamena Papua, atau kalau sedang iseng, saya minta Santos Brazil.

Arabica Gayo terutama yang ditanam di Takengon memang ternama. Kopi Gayo sejak lama menjadi komoditas unggulan dari Dataran Tinggi Gayo. Konon perkebunan kopi sudah mulai dikembangkan disana sejak tahun 1908.

Kopi Gayo yang dihasilkan oleh petani di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah namanya sudah mendunia. Aroma dan rasanya sangat khas. Menurut para pencecapnya, aromanya harum, rasanya gurih dan rasa pahitnya tidak terasa.

Kopi berjenis arabika saat ini memang sedang naik daun di Indonesia. Perkembangannya masif lewat coffee-coffee house baik internasional maupun lokal. Karena kelakuan penjajah Belanda, kebanyakan masyarakat Indonesia mengenal dan mengkonsumsi kopi robusta, karena kopi arabica hanya ditujukan untuk ekport.

Saya sendiri bukanlah perasa kopi yang baik, lidah saya masih perlu di-kalibrasi agar bisa mengenali karakter dan rasa kopi secara lebih tajam. Saya juga belum pernah pergi ke tanah Gayo untuk menyaksikan bebukitan yang dipenuhi dengan tanaman kopi, menghirup aroma kembang kopi nan harum di kala musim kopi berbunga.

Hanya saja kalau sekarang akrab dengan Gayo, ini juga bukan gaya-gayaan atau pingin naik kasta dalam urusan kopi. Gayo kemudian menjadi akrab karena di lantai 3 Segiri Grosir Samarinda ada warung kopi Gayo cabang dari warung serupa yang konon ternama di pasar Santa Jakarta.

Minum kopi di warung yang semua pilihan kopinya adalah Gayo, mulai dari speciality, honey process, wine, peaberry, longberry dan luak liar memang terasa nikmat karena kesekitarannya tak terlalu ramai. Suasana akan lebih asyik – ketika menunggu pesanan kopi yang diseduh dengan teknik Vietnam Drips sehingga tetes-tetesnya cukup lama memenuhi gelas – dengan berbincang soal batu-batuan. Dan cerita tentang kopi yang berpadu dengan batu akik tak terasa telah menguapkan waktu hingga terbaca sebuah pesan “Bulik jam berapa?”.

@yustinus_esha

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *