Mulai diuruk begitu makan korban  Foto : yustinus esha

Tempat Bermain Yang Berbahaya

Salah satu lubang bekas tambang yang dibiarkan

Salah satu lubang bekas tambang yang dibiarkan

Homo Sapiens atau manusia adalah mahkluk yang berpikir (berkebijaksanaan) merupakan sebuah konsep yang saya yakin pernah kita dengar di bangku sekolah dahulu. Selain itu manusia juga kerap disebut sebagai Homo Economicus.

Saya yakin hanya sedikit dari antara kita yang pernah mendengar atau diajarkan konsep Homo Ludens atau manusia adalah mahkluk yang suka bermain. Seluruh hidup manusia adalah perjalanan memainkan sesuatu atau menjalani permainan yang harus dimainkan.

Permainan dalam pengertian sehari-hari kerap dikonstruksi sebagai wilayah aktifitas anak-anak. Sebuah aktivitas bersenang-senang, tidak serius dan bernuansa iseng. Padahal dalam kenyataannya tidak demikian sebab ada banyak yang disebut dengan permainan tidak bisa dilakukan dengan main-main karena bukan hanya butuh ketrampilan saja melainkan juga sumberdaya lainnya.

Sadar atau tidak, salah satu bentuk pengakuan bahwa manusia perlu ruang dan sarana bermain adalah tersedianya banyak games-games, bukan hanya jenis melainkan juga console-nya, arena bermain di mall-mall dan pembangunan taman bermain di berbagai wilayah perkotaan.

Di Samarinda muncul beberapa taman yang dihiasi dengan patung dan lampion aneka bentuk. Lokasi yang kerap disebut sebagai taman ini segera menjadi ruang bermain favorit bagi sebagian warganya, entah untuk bermain maupun menjual dan menyewakan mainan.

Tapi kehadiran ruang bermain tidak merata di seluruh wilayah kota. Dan anak-anak dengan rasa keingintahuan yang besar, rentang berfikir yang tidak panjang kerap kali memilih atau bermain di tempat yang tak seharusnya menjadi arena bermain.

Tempat yang seharusnya tidak menjadi ruang bermain misalnya lubang bekas tambang. Lubang ini jumlahnya ratusan dan tersebar di antero Samarinda. Sebagian berada di dekat pemukiman. Airnya yang tenang dan nampak jernih memancing anak-anak untuk bermain di sekitarnya.

Lubang atau danau bekas tambang yang tentu saja berbeda dengan danau alami ini telah memakan korban jiwa 10 anak, generasi masa depan Samarinda. Mereka dengan rasa ingin tahunya, menjadikan lubang bekas tambang sebagai tempat bermain tanpa sadar akan bahaya yang mengintai.

Siapapun tentu saja bisa menyalahkan orang tua yang tidak mengawasi anak-anaknya dengan baik sehingga bermain di tempat yang berbahaya. Namun hal ini hanya akan menyebabkan saling salah menyalahkan yang tidak menyumbangkan alternatif untuk menyelesaikan persoalan lubang-lubang yang terbiar ini.

Adalah tugas penyelenggara pemerintah untuk bertanggungjawab dalam menyediakan ruang hidup, ruang bermain yang aman dan nyaman untuk warganya. Lubang-lubang tambang yang terbiar di Kota Samarinda bukanlah lubang yang baru ditinggal 1 atau 2 minggu yang lalu, melainkan sudah bertahun lamanya.

Jumlah lubang yang banyak dan tersebar dimana-mana membuktikan penyelenggara pemerintah ‘bermain-main’ dengan tanggungjawabnya. Mereka tak memainkan peran yang sesungguhnya dan lebih memilih untuk banyak berkilah. Mengumbar alasan ini dan itu yang terus bertahan selama beberapa tahun lamanya.

Ketika turut menelusuri kematian Raihan beberapa bulan lalu. Saya menemukan bahwa lubang tempat Raihan tenggelam ternyata airnya dimanfaatkan oleh warga sekitarnya untuk keperluan rumah tangga. Puluhan rumah menghubungkan dapur mereka dengan lubang tambang melalui pipa-pipa paralon. Wilayah pemukiman yang cukup padat dan tidak bisa disebut sebagai daerah pinggir atau terpencil ini ternyata belum menikmati aliran air bersih yang disediakan oleh PDAM. Kesulitan air bersih membuat mereka melirik air bekas lubang tambang yang tak pernah kering itu sebagai pilihan termudah sekaligus termurah untuk memastikan ketersediaan air bersih di rumahnya.

Warga yang memanfaatkan air bekas lubang tambang tanpa treatment apapun sejatinya sama saja dengan anak-anak yang tanpa pertimbangan panjang bermain dan mencoba berenang di kolam bekas lubang tambang. Orang tua, dewasa dan anak-anak ini sama-sama mengabaikan bahayanya. Mereka sama-sama memainkan sebuah permainan yang berangkat dari ketiadaan.

Regim kepemerintahan di Kota Samarinda tak lama lagi akan berganti. Pemilihan kepala daerah akan digelar dalam tahun ini. Pemilihan kepala daerah adalah kesempatan bagi warga dan daerah untuk melakukan rotasi kepemimpinan, menganti para pemain apabila pemain lama tidak menunjukkan kinerja yang memuaskan. Akankah Samarinda mempunyai pemain baru dalam menjalankan roda kepemerintahan dalam 5 tahun ke depan?.

Bukannya mau pesimis atau negative thinking, mencermati perkembangan bursa pencalonan nampaknya harapan munculnya pemain baru kecil kemungkinannya. Pemain lama yang terbukti kerap kali bermain dengan dirinya sendiri lagi-lagi menawarkan dirinya untuk mengabdi dan menjadikan Samarinda sebagai tempat yang baik untuk warganya.

Baliho, stiker dan poster kini menjadi ruang permainan baru bagi para pemain lama untuk menghadirkan diri dalam wajah yang baru. Mereka seolah memainkan permainan petak umpet, mencoba slogan dan tagline mulia untuk menutupi perjalanan dalam menjalankan roda kepemerintahan di waktu yang lalu yang tak memuaskan warganya. Sebut saja ketersediaan energi, air bersih, banjir yang tumbuh menjadi masalah klasik Kota Samarinda, semua masalah ini bertahun-tahun tak menunjukkan gejala teratasi persoalannya. Dan kekecewaan warga, derita karenanya tentu tak akan bisa dihibur dengan semenisasi jalanandan terang lampion aneka rupa di tepian sungai Mahakam.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *