“The Poor People’s Floating Mall” design : Antonio Ismael Risianto

Siapa Bakal Jadi Walikota Kita ?

mati-listrik

Apakah anda tahu siapa yang bakal menjadi penghuni surga?. Pastinya kita semua dibekali dengan pengetahuan dan keyakinan sebagai orang yang beragama tentang sosok seperti apa yang bakal diterima dan ditempatkan oleh Allah Yang Maha Kuasa di surga. Tapi soal kepastian siapa yang akan masuk surga tentu kita tahu, karena semua itu adalah hak sepenuhnya dari Yang Maha Kuasa.

Soal surga atau neraka, hitung-hitungan dari Tuhan beserta Malaikat pembantunya pasti tidak semudah tambah dan kurang atau kali dalam matematika. Jangan membayangkan bahwa Tuhan dan Malaikat-NYA adalah akuntan yang berdiri di depan pintu gerbang dengan membawa alat hitung untuk kemudian membuat neraca bagi siapa saja yang menghadap-NYA.

Jadi untuk apa kita rajin berdoa, beribadah, bersedekah, berbuat baik dan seterusnya kalau tidak ada kepastian akan masuk surga setelah mati?. Ya, itu adalah upaya untuk hidup baik agar berkenan kepada-NYA. Hanya saja soal masuk neraka atau surga semua berada dalam kuasa mutlak dari Tuhan. Penilaian tidak sekedar pada seberapa banyak, tetapi juga apa yang tidak terlihat di mata orang lain. Bukankah perbuatan baik yang tidak dilandasi oleh niat baik atau ketulusan hati tidaklah lebih baik dari perbuatan jahat?.

Jadi soal surga atau neraka, janganlah takabur atau cepat-cepat mengambil kesimpulan soal siapa yang bakal menghuninya. Kita boleh berusaha tapi soal nasib orang setelah mati pulangkanlah semuanya kepada keputusan Yang Maha Kuasa.

Mirip dengan soal keyakinan terhadap surga dan neraka, sikap yakin akan menang kerap juga terlihat pada tim sukses atau pendukung pasangan tertentu dalam pemilihan kepala daerah. Bahkan ketika calon pasangan atau peserta pemilihan kepala daerah belum ditetapkan oleh KPU, tidak sedikit dari tim sukses sudah mengatakan lawannya KO.

Setelah reformasi selain melahirkan pemilihan langsung, demokrasi melahirkan sekelompok masyarakat baru yang disebut tim sukses atau disingkat timses. Tim pendukung calon atau kandidat kepala daerah ini bertindak bak imagolog, orang-orang yang memproduksi citra sebagaimana perusahaan iklan maupun para pembuat program di televisi. Kandidat selalu dicitrakan sebagai yang paling baik, paling mumpuni dan paling mempunyai komitment untuk memajukan daerah.

Timses ini walau sebagian besar bukanlah murid yang pintar matematika ketika duduk di bangku sekolah, begitu fasih ketika diminta hitung-hitungan untuk mendukung keyakinannya bahwa kandidat yang didukungnya akan menang. Seolah-olah masyarakat pemilih dianggap sebagai deretan angka-angka yang begitu mudah dihitung.

Dalam kenyataannya keyakinan bakal menang kerap didukung oleh berbagai skenario termasuk di dalamnya laku-laku kecurangan. Tak mengherankan kalau sebagian besar pemilihan kepala daerah berakhir di meja sengketa. Bahkan ketika pasangan sudah ditetapkan sebagai pemenang, masih tertinggal amunisi yang bisa menyeret siapapun untuk kembali dipersoalkan dalam ruang hukum. Kasus yang paling muktahir adalah yang terjadi kepada Bambang Widjojanto yang didakwa mengarahkan saksi dalam persidangan sengketa pilkada.

Di tataran permukaan, perjalanan menuju hari pemilihan diwakili dengan persaingan tagline dan niat baik serta aneka visi dan program para kandidat lewat bermacam alat peraga kampanye. Tapi dibalik itu ada banyak kesibukan yang tidak terlihat, timses bergerak ke berbagai penjuru bahkan hingga ke Ibukota untuk mengkondisikan berbagai pihak yang ‘dianggap’ mampu menjamin kemenangan.

Kita yang dulu selalu diajarkan untuk membenci sikap ‘menghalalkan segala cara’, dalam praktek pemilihan kepala daerah justu hal itu yang kerap dilakukan. Dengan demikian timses selalu berlapis-lapis, mulai dari kategori relawan sebagai lapis terbawah hingga kategori ring satu yang kemudian akan menjadi tim inti di sekitar kandidat jika terpilih nanti.

Kembali ke soal keyakinan menang 100% atas sesuatu yang tidak hanya tergantung kepada diri sendiri atau kelompok, semua itu tak lebih dari laku menarik kesimpulan yang terlalu cepat. Tentu saja semua yang maju sebagai kandidat ingin menang. Namun takabur bila mengatakan pasti menang, sebab kepastian kemenangan itu hanya akan terjadi ketika KPU sudah mengumumkan perhitungan suara yang diperoleh para kandidat dan kemudian ditetapkan adanya pemenang hingga kemudian dilantik. Bahkan ketika ditetapkan sebagai pemenang, pasangan calon belum tentu aman karena masih dibuka peluang bagi calon lainnya untuk melakukan gugatan.

Jadi kepara para calon kepala daerah, sadarilah bahwa yang menentukan kemenangan itu bukan tim sukses melainkan masyarakat pemilih. Ketika anda-anda mampu memenangkan hati para pemilih, maka kemungkinan besar anda adalah pemenang.

@yustinus_esha

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *