10981435_461165974060721_6192351113812130828_n

Mereka Bilang Jangan Pilih Saya

Nonton Televisi sore hari sambil tiduran di atas kasur kerap kali bikin keterusan. Ketiduran, begitu orang kerap menyebutnya yang berarti tidak sengaja tidur. Beberapa hari lalu saya sempat ketiduran sore-sore. Dan dalam tidur yang cukup singkat itu ternyata saya bermimpi. Mimpi saya tentang pasangan calon pemimpin kota yang aneh.

Di luar mimpi, warga kota Samarinda yang selama tiga tahun berturut akan berpartisipasi dalam pemilu sampai dengan saat penutupan pendaftaran pasangan calon ada satu keanehan. Tahun 2013 memilih gubernur dan wakil gubernur, tahun 2014 memilih presiden, anggota legislatif dan perwakilan daerah, dan tahun 2015 ini akan memilih walikota dan wakil walikota.

Anehnya meski berbulan-bulan jalanan dan tempat-tempat strategis di Kota Samarinda dihiasi wajah-wajah tokoh yang memproklamirkan diri siap memimpin kota, nyatanya pada hari H yang mendaftar hanya satu pasangan. Entah yang lain kemana, namun yang pasti baliho-baliho calon yang tidak terdaftar masih belum diturunkan dari tempatnya. Namun KPUD masih membuka kesempatan pendaftaran kedua pada awal bulan Agustus 2015. Dan menurut bisik-bisik dari kawan yang didapuk mengawal partai, dipastikan setiap partai besar akan mendaftarkan calonnya karena kalau tidak pengurusnya bakal dirombak.

Dalam mimpi sore, yang menurut para pakar pembaca mimpi tidak bisa dipercaya sebagai mimpi orisinil karena Rapid Eye Movement-nya dibawah 10.000 kali per detik, saya menyaksikan 4 calon walikota sedang berkampanye. Keempatnya adalah orang yang saya kenal baik sehingga mengagetkan buat saya kenapa mereka bersedia menjadi calon walikota.

Mimpi saya tidak interaktif sehingga saya tidak berbincang dengan empat calon walikota itu. Saya hanya menduga-duga bahwa mereka mencalonkan diri karena terpaksa. Sebagai warga yang patriotik mereka hendak menyelamatkan sesuatu yang lebih besar ketimbang kedudukan sebagai walikota. Dan kelihatan jelas saat mereka kampanye, wajah dan boddy language-nya nampak tidak nyaman dan kikuk. Setahu saya mereka adalah orang-orang yang anti popularitas.

Namun jadwal dan tahapan pemilu harus diikuti. Karena sudah kadung terdaftar, mereka harus berkampanye, memperkenalkan diri secara lebih luas kepada masyarakat dan minta agar dipilih. Semua harus berlomba untuk merayu dan meyakinkan rakyat betapa mereka ingin mengabdikan dirinya untuk kemajuan kota dan warganya. Dan dalam kampanye keempat orang yang saya kenal ini hanya menggunakan waktu sesingkat-singkatnya. Intinya mereka mengatakan “Saudara-saudariku sesama warga Samarinda, tak perlu saya berpanjang lebar, silahkan lihat dan baca visi serta misi dan harapan saya di alat peraga kampanye yang tersebar di seluruh kota”.

Dan masih dalam mimpi, karena penasaran saya berkeliling kota untuk menemukan alat peraga kampanye yang kebanyakan dipasang di tiang listrik, tiang telepon dan dipaku di pepohonan. Dan inilah yang saya jumpai :

Nama calon nomor urut 1 : Suskadi yang mengusung visi : Berusaha Keras Meningkatkan Kualitas Diri dengan misi : Ibadah Setiap Hari. Dan tagline dari kampanyenya adalah Terima Kasih Atas Kepercayaan Anda Pada Saya, Mohon Beri Waktu Saya Untuk Memperbaiki Diri. Oleh Karena Itu Jangan Pilih Saya.

Nama calon nomor urut 2 : Gunampar yang mengusung visi : Menjadi Yang Terbaik dengan misi : Bersama Sesama Sama Sama Jadi Orang Baik. Dan tagline dari kampanyenya adalah Dengan Memilih Saya Berarti Anda Tidak Membiarkan Saya Jadi Orang Baik.

Nama calon nomor urut 3 : Daniyya yang mengusung visi : Menjadi Warga Yang Benar dengan misi : Berbuat Untuk Masyarakat, Memberi Manfaat Sebesar-besarnya. Dan tagline kampanyenya adalah Memilih Saya Berarti Anda Tega Membebani Hidup Dengan Masalah.

Nama calon nomor urut 4 : Kusyahrin yang mengusung visi : Memajukan Daerah Lewat Karya Nyata dengan misi : Kreatifitas Menjadi Urat Nadi Masyarakat. Dan tagline kampanyenya adalah Memilih Saya Berarti Menjerumuskan Dalam Bidang Yang Tidak Saya Kuasai.

Dan seketika saya terbahak-bahak membaca semua alat peraga kampanye yang aneh bin ajaib karena semua calon yang punya visi dan misi mulia itu mengharap untuk tidak dipilih. Seketika itu pula saya terbangun dan bersyukur bahwa semua itu hanya mimpi.

Dan biasanya saya berusaha untuk mencari apa makna mimpi itu, namun karena ini mimpi di sore hari maka saya hanya menganggap sebagai bunga tidur, hiasan dari tidur yang tidak disengaja. Dan agar mimpi itu lekas berlalu, saya ke dapur menjerang air panas dan kemudian mempersiapkan vietnam drip untuk menyeduh kopi Toraja Blend yang menurut penjualnya berkarakter light and fruity.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *