mati-listrik

Nipu Dengan Kasih Nomor Baru

Siang ketika menunggu pesanan makanan di salah satu resto cepat saji, handphone saya berbunyi. Saya lihat dilayar jajaran nomor, berarti penelepon tidak terdaftar di buku telepon saya. Biasanya saya tidak mengangkat, namun daripada duduk tanpa kesibukan maka saya angkat saja. “Hallo ….siapa?”.

Dan penelepon di seberang menjawab “Mas ini nomor baru saya, ingat suara saya khan?”.

Seperti biasa kalau ditanya saya hanya ketawa-ketawa. “Ingat..ingat ,” jawab saya sambil berusaha mengidentifikasi suara penelepon. Tapi saya tak bisa memastikan itu siapa, meski sekilas saya seperti pernah mendengar suaranya.

“Kalau ingat, siapa saya mas?. Masak lupa sih?”

Saya jadi merasa tak enak, dikira tak memperhatikan atau mengenali teman. Tapi saya beranikan diri saja bertanya “Iya, siapa ya saya lupa”.

“Yang polisi mas, di polda. Masak lupa punya teman polisi?”

Seumur-umur tinggal di Samarinda saya memang tak punya teman polisi apalagi bertugas di Polda. Polisi yang saya kenal adalah tetangga rumah dan tak pernah saya bertukar nomor telepon dengannya. Jadi saya bilang “Oh, Barto ya, Polda Sulut?”.

Dan dengan cepat penelepon itu menjawab iya lalu bertanya bagaimana kabar keluarga. Saya bilang baik saja. Dan kemudian penelepon itu mengatakan “Ini nomor saya yang baru ya, nomor saya yang lama dibuang saja ganti dengan nomor ini. Masih ada kan nomor saya yang lalu?”

Saya jawab iya saja. Padahal saya tak punya nomor Barto, nama polisi yang saya kenal dulu sewaktu tinggal di Manado. Namun saya yakin yang menelepon ini bukan Barto, tapi teman lain yang saya belum identifikasi dan dia tak mau memberitahukan siapa dirinya. Dan kemudian saya berusaha mengakhiri pembicaraan karena memang saya tak terbiasa telepon lama-lama kalau sekedar berha-ha-hi-hi. Sebelum mengakhiri pembicaraan, penelepon menitip salam untuk semua keluarga dan kemudian mengucapkan salam. Dan ucapan salam itu makin meyakinkan saya kalau penelepon itu bukan Barto. Jadi dalam hati saya masih bertanya-tanya siapa ya?.

Sore menjelang malam, nomor yang sama kembali menelepon. Kali ini menyapa “Sibuk kah mas?”. Saya jawab enggak, karena memang saya tidak punya kesibukan selain menemani anak. Kemudian penelepon itu yang masih saya sangka sebagai teman yang tak mau membuka jatidiri, menyampaikan permintaan pertolongan. Dia minta tolong untuk meminjam uang dalam jumlah tertentu. Alasannya ATM nya sudah mencapai limit untuk menarik uang.

Saya mulai menemukan keanehan, sebab selama ini tak ada teman yang mau pinjam uang lewat telepon. Lagi pula saya belum mengenali betul penelepon yang saya sangka adalah salah satu teman itu. Singkatnya apapun alasannya saya bilang tidak punya uang dan memang saya tidak bohong.

Gagal meminjam uang kemudian dia minta tolong untuk mengisikan pulsa. Alasannya dia sedang ada tamu dan tak enak untuk meninggalkannya. Dan lagi-lagi saya punya alasan, saya tak bisa meninggalkan rumah karena harus menemani anak. Dan penelepon itu memaksa, dengan mengatakan kan ada penjual pulsa di dekat rumah, masak nggak bisa pergi sebentar. Dan saya tetap menjawab tidak, anak saya tak bisa ditinggal.

Kemudian dia mulai melunak. “Ya nanti kalau sudah bisa, tolong belikan ya ndak banyak, 50 ribu saja. Kalau sudah dikirimkan kasih tahu ya”. Dan setelah itu perbincangan diakhiri.

Saya mulai merasa ada yang tidak beres. Pertama soal limit ATM. Kalau ada uangnya dia bisa saja tranfer ke rekening temannya baru kemudian minta tolong ditarikkan. Kedua alasan minta pulsa karena akan menghubungi teman dan pulsanya tak cukup. Nah kalau pulsa tak cukup kenapa telepon saya, berarti ada pulsa.

Karena curiga, saya kirimkan nomor penelepon itu, rencananya ke beberapa teman untuk bertanya ini nomor siapa. Saya masih berusaha kalau-kalau itu memang salah satu teman saya. Dan nomor baru saya kirim ke satu teman sambil saya sertai kejadian atau polah penelepon itu. Dan tak lama teman yang saya beri nomor itu mengatakan “Modus itu mas, tipu-tipu”. Dan dia menyebutkan nama seorang teman yang mengalami hal serupa.

Ketika teman itu mengatakan bahwa apa yang dilakukan penelepon itu modus, maka saya memutar kembali kejadian dari saat pertama bunyi telepon masuk. Satu persatu saya rangkai kejanggalannya. Dan pada akhirnya saya setuju bahwa orang dengan nomor tertentu yang mengaku sebagai teman itu adalah penipu. Dan karena gagal meyakinkan saya untuk mentransfer uang, maka dia berusaha agar tak terlalu rugi dengan minta ganti pulsa yang dipakainya untuk menelepon saya.

Dan ketika saya sudah meyakini bahwa penelepon tadi ada penipu dengan modus memberi nomor telepon baru, tiba-tiba masuk sms yang bunyinya “Maaf, pulsanya sudah dikirim atau belum”. Kalimat ini semakin meyakinkan bahwa penelepon yang kemudian meng-sms ini memang bukan teman saya. Kalau teman pasti dia akan menyapa, bro, kakak, mas atau apapun sebutan akrab yang biasanya disertakan oleh teman-teman saya.

Beruntung ketika modus tipu-tipu ini terjadi, saya seharian itu tengah mencoba meracik-racik teh. Dan meminum teh wangi yang dicampur dengan teh fruity ternyata cukup menenangkan jiwa. Sehingga saya menghadapi kejadian itu dengan tenang dan tak muncul niat sedikitpun untuk menunggu penelepon itu menelepon kembali untuk kemudian saya maki-maki. SMS-nya yang menanyakan pulsapun tidak saya jawab.

Awalnya saya memang berniat mengumumkan nomor telepon yang masuk sebagai nomor penipu. Tapi niatan itu saya urungkan sebab sekarang dengan mudah orang berganti nomor telepon sehingga menghafal nomor telepon yang mungkin saja sebentar lagi dibuang adalah kesia-siaan. Apa yang terpenting adalah menerima telepon dengan tenang dan tidak mudah percaya apa yang dikatakan oleh penelepon. Kemudian coba verifikasi ke orang lain agar kita tidak melakukan sebuah tindakan yang kemudian membuat kita rugi hanya gara-gara permintaan seorang ‘teman’ yang tidak membuka jatidirinya ke kita.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *