lampion-samarinda

Permainan Dari Kreasi Ke Konsumsi

Siang, tak peduli panas atau hujan, sepulang sekolah setelah melempar tas dan seragam sekolah diatas dipan, anak-anak segera berhambur ke tanah lapang. Sambil berjalan kesana tak lupa meneriakkan nama temannya kala melewati pintu depan rumah tetangga. Dan ketika berkumpul di tanah lapang itu selalu saja ada permainan yang dimainkan bersama. Keasyikan bermain bersama, terkadang diisi oleh jeda teriakan ibu atau bapak yang memanggil pulang karena bocah-bocah itu lupa makan, tidur siang dan mandi sore hari.

Gambaran kondisi dan keseharian bocah-bocah seperti itu mungkin kini jarang ditemui. Kondisi itu adalah cerita masa lalu, masa saat saya masih kanak-kanak. Hari-hari adalah bermain bersama. Permainannya tergantung kepada musim atau trend mainan saat itu. Musim mainan dipengaruhi oleh cuaca atau musim. Di musim penghujan misalnya, saya dan teman-teman main kapal-kapalan dan plosotan atau kami sebut ski. Saat peralihan dari musim hujan ke musim panas, ketika tanah mulai retak, mulailah kami berburu jangkrik.

Tapi di luar trend mainan karena musim, ada banyak jenis permainan yang bisa dilakukan bersama. Semua hal bisa dijadikan mainan karena permainan saat itu adalah permainan yang dibuat sendiri berdasarkan interaksi dengan alam. Ketika main masak-masakan, kami membuat minyak dengan meremas-remas daun wora wari bang. Kue atau mangkok-mangkok-an dibuat dari debu. Debu dikumpulkan dibuat seperti gunung lalu ujungnya diludahi atau dikencingi, tunggu beberapa saat dan debu yang terkena air ludah atau air kencing akan berbentuk seperti kue atau mangkok.

Namun jaman terus berubah. Permainan kini tak lagi menjadi sebuah kreasi melainkan konsumsi. Permainan adalah medan usaha yang maha besar. Para produsen berlomba untuk menghasilkan permainan yang bisa menjadi trend diantara anak-anak. Muncul juga penyedia mainan di pusat perbelanjaan atau tempat keramaian lainnya. Tinggal membayar tiket masuk atau membeli koin dan kartu berbagai permainan bisa dimainkan sepuasnya.

Yang disebut dengan permainan bukanlah sesuatu yang sekedar membuat bocah-bocah senang. Setiap permainan selalu mempunyai tujuan. Disadari atau tidak permainan sederhana seperti petak umpet sekalipun mengajarkan sebuah keahlian, taktik atau strategi agar bisa bersembunyi selama mungkin. Lalu ada slodoran atau gobag sodor, permainan ini mengajarkan kemampuan untuk berkelit, menghindar dari hadangan lawan. Dengan demikian segenap permainan untuk bocah-bocah pada dasarnya berguna untuk membantu perkembangan entah itu fisik, psikis maupun kemampuan intelektualnya.

Permainan modern atas salah satu cara juga memenuhi berbagai macam aspek entah kognitif maupun afektif. Namun dibandingkan dengan permainan tradisional atau permainan di jaman saya kanak-kanak dulu, permainan di jaman sekarang, jaman anak saya lebih membutuhkan dana. Selain itu permainan modern cenderung mempunyai kekurangan dalam aspek relasi sosial. Permainan modern jauh lebih mengasyikkan jika dimainkan sendiri dan tak perlu bantuan orang lain untuk memainkannya.

Apakah perbedaan gaya dan jenis permainan anak-anak jaman dulu dan anak-anak jaman sekarang menghasilkan perbedaan kualitas dalam ketahanan mental, ketahanan tubuh dan kreatifitas, tentu semua perlu penelitian yang lebih mendalam. Namun secara kasat mata, permainan di jaman dulu, jaman saya kanak-kanak lebih mengajarkan interaksi dengan alam. Sementara permainan di jaman sekarang cenderung lebih minim interaksinya dengan alam.

Dan interaksi dengan alam akan memancing kreatifitas karena permainan dibuat berdasarkan apa yang ada disekitar tempat tinggal atau tempat bermain. Sementara anak-anak sekarang untuk berinteraksi dengan alam harus menyediakan waktu dan anggaran tertentu. Dan inilah yang membedakan anak dulu dan anak sekarang, untuk bermain anak-anak jaman dulu mesti berkreasi sementara anak-anak sekarang tinggal berbelanja.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *