Taman Bhayangkara  Sumber : beritakaltim.com

Ruang Terbuka Umum

Apakah Samarinda kekurangan ruang terbuka umum?. Jika yang dimaksud dengan ruang terbuka umum adalah ruang hijau, mungkin benar kalau Samarinda kekurangan. Sebab konon ruang terbuka hijau dalam bentuk hutan kota dan lain-lain tidak sampai 1% dari luas Kota Samarinda. Luasan ini jelas berada jauh dibawah yang diamanatkan oleh undang-undang.

Tapi kalau yang dimaksud adalah ruang yang bisa menjadi tempat warga Samarinda berkumpul atau berinteraksi serta melakukan aktifitas publik maka Samarinda sejatinya tidak kekurangan ruang terbuka umum.

Ruang terbuka umum, memang kerap dikonotasikan ‘hijau’. Area ini di Samarinda meliputi beberapa taman dan hutan kota. Ada taman panjang yang tidak selalu berarti hijau berada di tepian Sungai Mahakam mulai dari Jembatan Mahakam hingga Pelabuhan Samarinda. Lalu ada beberapa taman seperti Taman Pintar, Taman Segiri dan beberapa taman lainnya termasuk taman yang terletak di tempat sepi, yang berada di tepi jalan menuju Karang Paci.

Ruang terbuka umum yang juga kerap dimanfaatkan adalah kompleks bangunan seperti halaman atau seputaran Stadion Segiri, Stadion Madya Sempaja, Stadion Palaran, Islamic Centre dan Citra Niaga. Belum lagi koridor jalan seperti kompleks Balaikota, Tepian Karangmumus di Muso Salim dan beberapa trotoar yang cukup lebar seperti Jalan Kusuma Bangsa dan Basuki Rahmat. Kawasan lain yang potensial sebagai ruang terbuka umum adalah polder, seperti polder Air Hitam dan kolam retensi lainnya dekat Mall Lembuswana.

Ruang terbuka umum sebenarnya akan semakin luas jika saja ruang jalan di Kota Samarinda tertata rapi dan baik. Hampir semua jalan besar atau jalan utama di Kota Samarinda mempunyai trotoar. Sayang trotoarnya tidak sama lebar. Di banyak tempat trotoar juga mempunyai jebakan-jebakan yang membuat kurang aman dan nyaman. Selain itu di banyak ruas jalan, trotoar tidak dilindungi oleh pohon peneduh sehingga siapapun yang melewatinya akan terpapar panas dan hujan.

Trotoar yan seharusnya menjadi ruang pejalan kaki kerap kali juga mati fungsi karena dirampok oleh parkiran dan pedagang kaki lima atau lapak-lapak lainnya. Dengan demikian trotoar tidak lagi menjadi ruang jalan yang terbuka. Pejalan kaki yang melewatinya harus menyingkir dan menggunakan badan jalan untuk melangkahkan kakinya.

Halangan di trotoar bukan hanya mobil dan motor terparkir serta lapak pedagang melainkan juga jalan masuk yang tidak senada dengan trotoar hingga tempat pembuangan sampah sementara dan lain sebagainya yang membuat pejalan kaki harus zig-zag jika melewatinya.

Tidak mudah memang mengatasi okupasi trotoar oleh pihak-pihak yang ingin enak sendiri menempati ruang longgar untuk berbagai kepentingan. Hanya saja kalau ada inisiatif menatanya kerap kali juga menimbulkan persoalan baru. Seperti di salah satu sisi jalan Basuki Rahmat, dimana trotoar yang cukup luas kerap dipakai untuk parkir mobil atau menjadi jalan motor jika jalanan macet karena terjadi penumpukan kendaraan di lampu merah.

Trotoar yang dipercantik itu, kini dilengkapi penghalang berupa besi bulat yang cukup besar. Penempatan besi penghalang yang ditanam di trotoar itu tidak memungkinkan mobil melewati. Pun demikian dengan motor terkecuali pengendaranya punya ketrampilan lebih dalam berakrobat. Namun yang dipikirkan nampaknya hanya mobil dan motor, sementara mereka yang seharusnya menggunakan trotoar untuk melintas tidak dipikirkan. Sebut saja kaum difable yang memakai kursi roda. Siapapun yang berkursi roda bakal kesulitan atau bahkan gagal melewati trotoar mulai dari depan Gedung DPRD Kota Samarinda hingga Gedung KPU Propinsi Kalimantan Timur itu. Demikian juga dengan ibu dan bapak yang mungkin jalan pagi atau sore sambil mendorong kereta bayi.

Sekali lagi dari sisi potensi sebenarnya ada cukup ruang terbuka umum di Kota Samarinda yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang interaksi, ruang pertemuan dan kesempatan kepada warga untuk menikmati suasana kota dengan nyaman. Permasalahannya adalah tidak semua ruang terbuka umum ditata dengan kesadaran untuk menyediakan ruang bagi warga.

Salah satunya adalah ketersediaan ruang parkir misalnya. Di beberapa tempat keramaian, parkir menjadi faktor krusial. Dengan maksud menikmati suasana, kerumunan warga yang berkendara akhirnya menggunakan ruang jalan untuk memarkir kendaraannya. Alhasil kenikmatan sebagian warga itu membawa rasa tidak nyaman bagi warga lain yang sedang melintasi jalanan.

Persoalan lain adalah ketersediaan kamar kecil/toilet di ruang terbuka umum. Ketiadaan mobile toilet atau toilet permanen membuat warga terutama laki-laki kemudian membuang air kecil di sela pepohonan atau di pinggiran sungai. Dan ini bisa menimbulkan bau yang tidak sedap dan menganggu.

Faktor lain adalah penataan penjual makanan dan minuman serta barang lain yang biasanya ramai di tempat terbuka umum. Ramai pedagang yang tidak tertata akan menimbulkan suasana yang tidak nyaman dan juga akan mempersulit pengelolaan limbah atau sampah yang dihasilkan oleh aktivitas jual beli itu.

Tentu ini merupakan Pekerjaan Rumah bagi para pihak yang terkait. Di banyak kota ruang terbuka umum menjadi ruang produktif bukan hanya dari sisi ekonomi melainkan juga diskursus kreatif lainnya. Ruang terbuka yang nyaman akan menjadi medan bagi berbagai komunitas untuk mengasah perhatian dan kemampuannya dalam bidang tertentu. Dan semua itu bisa menjadi penanda yang tidak hanya mengundang warga sendiri untuk hadir disana melainkan juga warga dari kota atau bahkan negara lainnya.

Semoga ruang terbuka umum di Kota Samarinda yang dibeberapa lokasi sudah mulai dibenahi akan mendatangkan energi produktif dan kreatif bagi warganya. Meski disana-sini terdengar kabar bahwa ruang terbuka umum justru menimbulkan konflik utamanya konflik penguasaan lahan parkirannya.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *