Taman Cerdas  Foto : anggatepian.wordpress.com

Street Marketing

Pembeli adalah raja, begitu umpama yang kerap kita dengan dalam dunia jual beli. Tapi benarkah begitu?. Ternyata tidak selalu, sebab para penjual sering kali membuat sendiri kelas atau kategori diantara pembeli. Mereka yang dianggap kelas atas akan dilayani dengan sangat baik sementara kelas bawah akan ditanggapi dengan sambil lalu.

Mereka yang merasa dirinya pada kelas A sebagai konsumen biasanya memang sangat menyadari bahwa pembeli adalah raja. Maka begitu masuk outlet dan tidak ada penjual yang datang menyambut dan menyapa serta menawarkan bantuan akan membuat mereka kehilangan mood belanja. Sementara mereka yang masuk dalam kategori kelas bawah kerap kurang percaya diri. Begitu masuk pusat perbelanjaan dan penjual bertanya atau mengikuti membuat mereka justru terganggu, bukannya merasa dibantu melainkan merasa dicurigai, dikuntit agar tidak nilep barang.

Saya sendiri tidak punya pengalaman sebagai penjual, namun saya sadar bahwa melayani pembeli tidaklah mudah. Orang pergi ke sebuah tempat untuk membeli sesuatu biasanya mempunyai harapan tertentu. Misalnya pergi ke rumah makan, biasanya karena ingin menikmati makanan yang bukan hanya mengenyangkan melainkan juga memuaskan lidah dan hati. Sambutan yang tidak tepat atau kesalahan dalam melayani bisa-bisa membuat pelanggan batal memesan atau kalau sudah terlanjur pesan maka akan menikmati sambil tersunggut-sunggut.

Bukan sekali dua kali, saya menyaksikan orang membatalkan pesanan atau kemudian meminta pesanan dibungkus untuk dibawa pulang karena penjual yang kurang tanggap atau kurang memuaskan layanannya. Sayapun berkali-kali mem-blacklist tempat-tempat tertentu karena layanannya yang membangkitkan emosi buruk dalam diri.

Kemarin sore (Jum’at, 7 Agustus 2015) di salah satu perempatan, saya menyaksikan marketer dari sebuah resto franchise yang berada di salah satu pusat perbelanjaan bertindak diskriminatif. Sepasang pegawai resto itu membagi-bagikan brosur yang mungkin berisi menu baru atau paket promosi kepada pengguna jalan yang tengah berhenti karena lampu merah. Terlihat jelas bahwa mereka hanya membagikan brosur kepada pengendara mobil. Tak satupun dari pengendara motor yang bertumpuk di lampu merah diberi brosur.

Saya yakin bahwa pelanggan resto itu tidak semuanya bermobil, jadi pembagian brosur hanya kepada pengendara mobil memancing perhatian saya. Saya perhatikan seragam yang mereka pakai dan di dada sebelah kiri bisa terbaca resto tempat pembagi brosur itu bekerja. Untungnya emosi saya tidak terpancing melihat perilaku diskriminatif itu sehingga tak membuat saya berfatwa untuk haram datang ke resto itu. Sebab bukan sekali dua kali saya masuk ke resto itu untuk mengantar anak saya yang kerap meminta makan disana karena iklan di layar televisi.

Barangkali keputusan untuk membagi brosur pada pengendara mobil berasal dari inisiatif pembagi brosur sendiri. Sebagai pegawai resto itu, mereka pasti memposisikan tempat bekerjanya sebagai tempat berkelas. Konsekwensinya, mereka menganggap para pengunjung yang meramaikan resto tempat kerja mereka sebagai masyarakat Samarinda Kelas A atau B. Salah satu indikator utamanya adalah mempunyai mobil.

Padahal sekali lagi, sejauh saya tahu resto itu bukanlah resto fine and dining yang menyasar kelas tertentu dalam masyarakat. Maka pembagian brosur kepada pelanggan tertentu justru menimbulkan efek negatif karena berlaku diskriminatif.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *