Salah satu lubang bekas tambang yang dibiarkan

Terpaksa Bisa

Dalam perjalanan hidup, saya yakin ada banyak momen dimana kita akhirnya bisa melakukan atau menguasai sesuatu karena terpaksa. Ambil contoh kebiasaan saya menulis. Kebiasaan ini dulu diawali oleh keterpaksaan karena tanggungjawab. Dimana setiap minggu saya harus melaporkan segala sesuatu yang saya kerjakan. Laporan dalam pertemuan meski disampaikan secara lisan namun harus disertai dengan lembar narasi untuk kemudian disimpan agar bisa dikompilasi menjadi laporan bulanan.

Dalam minggu-minggu awal saya berkali-kali gelagepan menjawab berbagai pertanyaan karena ketidaklengkapan apa yang saya sampaikan. Setelah itu setiap malam atau sehabis beraktifitas saya selalu menuliskan apa yang saya lakukan, apa yang saya perbincangan, apa tanggapan orang yang saya temui dan apa rencana yang akan dilakukan jika ada masalah atau sesuatu langkah yang harus diambil.

Itulah awal dari kebiasaan untuk menulis dan kemudian terus berlanjut hingga sekarang. Dan keterpaksaan-keterpaksaan itu bukan hanya sekali melainkan terus berulang. Sepanjang ingatan saya, banyak kali saya melakoni pekerjaan atau aktivitas yang sekali baru dan belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Dengan keyakinan bisa misalnya saya menerima pekerjaan membuat film dokumenter tentang microfinance di Kepulauan Raja Ampat. Pekerjaan itu saya iyakan dan sanggupi disaat belum pernah sekalipun saya membuat film dokumenter. Namun berbekal kepercayaan dari yang memberi pekerjaan saya menenteng kamera dan tripod pergi mengerjakan sendirian. Dan ketika mengerjakan film itu, saya bahkan belum menguasai satupun program editing video. Jadi saya mengedit film itu sambil belajar menggunakan sofware video editing.

Suatu ketika laptop saya hilang. Jadilah saya seperti petani tanpa cangkul. Lalu ada pengumuman lomba penulisan ide film cerita anti korupsi berhadiah laptop. Berbekal laptop pinjaman saya mulai menuliskan ide cerita film antikorupsi dengan basis kisah yang rangkai dari aktivitas teman-teman antikorupsi di Samarinda. Dan itu adalah ide film cerita pertama yang saya tuliskan, saya bahkan tak tahu bagaimana sebenarnya menuliskan ide cerita film. Namun akhirnya saya mendapatkan hadiah laptop yang masih saya pakai sampai sekarang.

Di Samarinda ada puluhan lubang tambang yang dibiarkan. Mungkin mereka yang menggali dan yang mengawasi berpikir tak bisa ditutup lagi karena berbagai alasan. Dan suatu ketika lubang itu menelan korban. Ada satu lubang menewaskan dua bocah. Dari gambar yang diambil oleh seorang kawan, saya melihat lubang itu cukup luas dan dalam. Setahun kemudian saya datang ke lokasi itu untuk mengambil gambar, ternyata lubang itu sudah rata. Lubang tempat tenggelamnya dua bocah itu sudah tertutup tanah dan mulai ditutupi aneka tetumbuhan.

Lubang tambang ternyata tidak sulit untuk ditutup jika ada kemauan. Namun ternyata lubang-lubang lain tetap dibiarkan terbuka dan terus menelan korban. Dan lagi-lagi lubang-lubang itu kemudian ditutup jika sudah ada korban yang mati tenggelam di dalamnya. kematian bocah diawal ternyata tidak menjadi pembelajaran untuk menyimpulkan bahwa lubang bisa ditutup. Sehingga aktivitas menutup lubang tambang selalu didahului dengan tenggelamnya bocah di lubang itu.

Bicara soal bisa karena terpaksa, nampaknya kematian bocah di lubang tambang yang ada di Samarinda tidak menjadi bahan pembelajaran baik bagi pelaku usaha pertambangan maupun para pihak lain yang terkait dengannya. Tidak bisa menjadi alat pemaksa dari pemegang otoritas kota untuk menekan para pengusaha pertambangan yang hanya menggali dan kemudian pergi meninggalkannya.

Orang kerap bilang, keledai binatang yang sering dianggap paling bodoh itu tak akan jatuh atau terperosok di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bicara soal lubang tambang di Samarinda, para pihak yang bertanggungjawab atasnya telah berkali-kali jatuh ke lubang yang sama. Kurang lebih ada 10 bocah yang menjadi korban di lubang tambang mulai tahun 2011 hingga 2015 ini.

Dan kini mereka yang turut bertanggungjawab jatuh berkali-kali di lubang yang sama itu justru tersenyum lebar karena urusan pertambangan tak lagi ada di tangannya. Perpindahan kewenangan soal pertambangan ke pemerintahan di tingkat lebih tinggi seolah-olah turut menghapus dosa-dosanya di masa lampau.

Mereka yang tak mau terpaksa belajar itu kini ingin terus memimpin kota ini. Andai kemudian mereka terpilih kembali maka puluhan tahun mereka berkuasa tak akan ada banyak perubahan yang akan terjadi. Sebab perubahan hanya akan terjadi jika seseorang mampu untuk belajar meskipun itu terpaksa.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *