Bocah Penjual Koran - majalahborneo.wordpress.com

Intimidasi Gaya Bocah Pengamen dan SPG Rokok

Ada beda yang besar antara bocah (perempuan) pengamen dan Sales Promotion Girls meski sama-sama berpakaian serba hitam. Namun malam tadi (Rabu, 11 November 2015) saat ngopi-ngopi di tepian Muso Salim saya menemukan model yang paralel antara keduanya agar kita mengeluarkan uang entah dari saku atau dompet.

SPG yang tentu saja dipilih dengan kriteria menarik mata laki-laki datang dan menawarkan rokok. “Beli dong tinggal satu bungkus ini”. Dan meski ditolak dengan berbagai macam celoteh, tetap dia mengulang kembali tawarannya. Bahkan kemudian memasukkan bungkus rokok ke kantong baju seorang teman. Teman itu mengeluarkan rokok dari sakunya dan berkata “Wah, saya batuk kalo merokok ini,”

SPG itu kemudian bertanya nama teman itu untuk ditulis di buku log laporannya, dan setelah menuliskan dia meminta teman itu bertanda tangan. Begitu diulangnya hingga ada 3 teman yang diisi dalam buku catatannya. Selain mencatat, dia juga terus menawarkan rokoknya. Dan rumus terus berdiri disamping, bersikap seolah dominan itu akhirnya mampu meluluhkan seorang teman hingga kemudian membeli rokok yang konon tinggal sebungkus, padahal masih ada banyak bungkus di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari tempat kami duduk-duduk.

Ketika SPG itu pergi menuju ke mobilnya dalam hati saya berpikir, model pemasaran apa yang dilakukan oleh perusahaan rokok ini. SPG itu sama sekali tak mengenalkan rokok itu dan rokok itu toh juga dijual di warung-warung yang berderet di sepanjang jalan. Dan bisa dipastikan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membayar SPG dan operasionalnya pasti jauh di atas pendapatan yang diperoleh dari penjualan mereka.

Tak lama setelah SPG pergi datanglah segerombolan pengamen, bocah-bocah perempuan berumur antara 9 – 12 tahun itu membagi diri dan berdiri berdua-dua pada tiap meja. Bermodal satu okulele mulailah mereka menyanyikan lagu. Tidak jelas benar apa lagu yang dinyanyikan dan suara mereka jauh dari rasa nyaman untuk didengarkan lewat telinga.

Tak genap satu lagu dinyanyikan dan mulailah mereka mendekatkan badan meminta uang. “Om, seribu om,” pintanya sambil menadah tangan seraya menatap dengan wajah yang sama sekali tak akrab. Jika tak ada reaksi dari yang diminta mereka terus mengucap mantra “Seribu om”. Dan ketika diberi merekapun langsung ngeloyor pergi. Di meja sebelah intimidasinya lebih parah, dua bocah itu bahkan duduk di kursi yang kosong sambil terus meminta agar diberi uang.

Entah ada hubungan apa antara pengamen dan SPG, kenapa mereka bisa mempraktekkan model yang hampir mirip untuk memaksa orang mengeluarkan uang dari dompetnya. Namun buat saya dampak dari perilaku atau strategi dalam menjalankan pekerjaannya tentu berbeda. Saya tak terlalu memikirkan gaya SPG menawarkan produknya, namun saya justru kepikiran dengan gaya bocah-bocah (perempuan) yang ngamen dengan lagu seadanya dan lebih kencang meminta uangnya.

Bocah-bocah yang usianya masuk dalam kategori wajib belajar ini berkeliaran di jalanan di saat mereka harus beristirahat. Itu berarti mereka tak menghabiskan hari dengan belajar dari buku pelajaran. Mereka justru berkeliaran di jalan dan mempelajari budaya jalanan serta kemudian mempraktekkannya agar mendapat uang.

Seorang teman mengatakan bahwa bocah-bocah ini bisa lebih kasar bila berada di perempatan jalan. Mereka kerap menendang-nendang atau bahkan mengores cat mobil dengan obeng bila tak diberi uang. Teman itu juga pernah melihat ketika ada seorang ibu yang mengendarai motor memperingatkan perilaku mereka itu, ternyata motor ibu itu juga ikutan ditendang.

Jumlah bocah-bocah (perempuan) pengamen ini cukup banyak dan tidak sulit untuk ditemui. Suatu kali saya pernah melihat mereka segerombolan lari dari arah Jalan Diponegoro, masuk ke arah Gang 11, di Jalan Abul Hasan. Rupanya mereka takut karena ada patroli Satpol PP. Dan begitulah respon dari para pihak untuk mengatasi persoalan semacam ini, pendekatan yang dipakai adalah pendekatan ketertiban umum.

Saya berharap sesekali para pemimpin entah itu eksekutif maupun legislatif juga Satuan Kerja Pemerintah Daerah yang terkait dengan anak-anak, nongkrong di pinggiran jalan, melihat dengan seksama aktifitas anak-anak ini di jalanan. Agar memperoleh pemahaman yang dalam dan ‘merasa’ betapa mereka ini kalau dibiarkan maka kelak akan menimbulkan persoalan yang lebih besar lagi bagi kota ini. Pemahaman ini penting agar para pihak yang bertanggungjawab tidak lagi melakukan pendekatan penertiban semata melainkan memberdayakan mereka.

Saya terkesan pada apa yang dinyatakan Cak Lontong dalam satu sessi Mata Najwa di Universitas Indonesia. Cak Lontong yang sotoy itu mengatakan “Kemiskinan tidak berkurang dan bahkan cenderung bertambah karena diperangi. Sesuatu yang diperangi pasti akan melawan sehingga jumlahnya malah terus bertambah,”

Pernyataan yang menimbulkan gelak tawa itu sesungguhnya bisa menjadi sebuah refleksi, bahwa selama ini kita cenderung memerangi masalah sosial, bukan merangkulnya dan mengenali dari dalam sehingga mereka bisa didorong untuk berubah dan turut membangun adab perkotaan.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *