Pengendara Zig Zag menghindari Lubang - Foto Asfianur

Jalanan Cermin Budaya Kita

“Sampai bulan Desember polisi dan petugas dinas perhubungan akan mengadakan operasi lalu lintas,” begitu disampaikan oleh seorang teman yang sempat kena tilang gara-gara surat kendaraannya tidak lengkap.

Operasi tertib lalu lintas ini memang penting. Sebab kondisi lalu lintas Kota Samarinda sebenarnya sudah genting. Bukan karena pertambahan jumlah kendaraan yang tidak terkendali, melainkan karena perilaku pengendara dan pemilik kendaraan di jalanan yang sebagian besar tak lagi berakal serta menganggap jalanan sebagai miliknya sendiri.

Saya sendiri sekarang kalau tidak penting-penting amat, berusaha untuk mengurangi berkendara keluar rumah. Bukan karena tak ingin menghabiskan bensin, melainkan tak ingin berdosa. Musababnya setiap kali berkendara, belum juga ratusan meter, seringkali saya sudah mengumpat. Mengeluarkan makian, sumpah serapah meski itu dalam hati.

Tidak sulit untuk menemukan pengendara yang tak punya sopan santun, berkendara tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Seperti keluar dari gang nyelonong begitu saja dengan antengnya. Berbelok tanpa lampu sein, atau berhenti di jalan tanpa memperhatikan posisi kendaraannya menghalangi orang lain.

Banyak jalan-jalan sempit di Kota Samarinda yang layaknya jalan utama. Banyak kendaraan hilir mudik namun disitulah pertunjukkan kebebalan dan tak punya hati dipertunjukkan. Di jalanan yang sempit dan ramai itu banyak orang dengan seenaknya memarkir mobil hingga menyebabkan perjalanan tak lancar. Namun bunyi klakson dari pengendara yang terjebak macet tak membuat mereka yang memarkir mobil itu tergerak untuk memindahkan di tempat yang lebih lapang.

Jalan sempit, mobil yang mengular, ternyata tak membuat pengendara motor sadar bahwa ada ada hambatan di depan sana. Dan layaknya orang yang super sibuk, takut kehilangan waktu barang satu dua detik, mereka tetap memacu kendaraan, mengambil ruang pengendara di lajur yang berbeda. Dan alhasil jalanan semakin macet. Motor dengan kemampuan sisip menyisip dan pengendara yang hanya memikirkan dirinya sendiri memang kerap membuat keadaan menjadi lebih ruwet.

Dalam kondisi seperti ini maka operasi tertib lalu lintas memang menjadi penting. Namun sayangnya operasi tertib lalu lintas umumnya hanya ditujukan untuk memeriksa kelengkapan administrasi kendaraan, kelaikan kendaraan dan keabsahan seseorang mengendarai kendaraan. Tapi tak sekalipun ditujukan untuk mengecek atau memverifikasi bahwa benarkah para pengendara ini laik membawa kendaraan bukan sekadar secara legal formal melainkan juga pengetahuan dan pemahamannya berlalu lintas.

Kita tidak bisa berandai-andai bahwa para pengendara yang mempunyai SIM sekalipun mempunyai ketrampilan berkendara secara baik dan benar. Pasalnya untuk memperoleh SIM masih banyak orang ‘baik’ yang mau membantu pemohon melewati berbagai prosedur tes.

Operasi mestinya juga dilakukan bukan sekedar mencegat kendaraan yang lewat, tapi juga dengan men-sweeping kendaraan di jalanan yang diparkir sembarang, diparkir tidak pada tempatnya. Ini menjadi penting agar tidak timbul kelucuan (untuk tidak mengatakan ke-bego-an), seperti misalnya untuk menghindari mobil parkir di trotoar maka badan trotoar dipasangi beberapa tiang besi. Sebuah penyelesaian yang nampaknya efektif mencegah mobil dan motor parkir atau menjadikan trotoar sebagai jalan, namun menimbulkan persoalan baru, misalnya pemakai kursi roda juga bakal kesulitan melewati trotoar itu.

Tak bisa dipungkiri bahwa kini semakin banyak orang menghabiskan waktu di jalanan. Sehingga jalanan adalah cermin kehidupan kita yang sesungguhnya. Kesemerawutan jalanan adalah gambaran dari amburadulnya kehidupan bersama kita. Tak heran jika disana sini banyak orang main serobot menduduki tanah orang lain, mengambil hak orang lain dengan terang-terangan tanpa rasa malu. Tak peduli dengan kesusahan orang lain dan seterusnya.

Di jalanan kita bisa melihat bahwa banyak orang selamat bukan karena tertib dan terampil berkendara, melainkan hanya sekedar beruntung. Dan begitulah pula kita dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memperoleh jabatan penting, menjadi pemimpin bukan karena terampil dan layak menduduki jabatan itu karena kemampuannya melainkan karena diuntungkan oleh situasi dan didukung oleh aksi-aksi yang membuat orang yang lebih pantas tersingkir atau tergusur karena takut bersaing dengan cara-cara yang tidak pantas.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *