Lahan terbuka hijau yang akan dikembangkan sebagai hutan kota di Samarinda kondisinya semakin berkurang. Foto: Yustinus S. Hardjanto

Samarinda Banyak Uangnya

Sampai hari ini saya masih selalu senyum-senyum sendiri setiap ingat kejadian yang sudah berpuluh tahun lalu itu. Seorang teman yang lahir dan besar di Manado selalu bersemangat menceritakan (mempromosikan) Bunaken kepada siapapun (yang bukan orang Manado) yang ditemuinya. Dari ceritanya yang dahsyat itu, tergambar betapa luar biasanya yang disebut dengan Bunaken.

Apa yang membuat saya tersenyum bukan cerita yang berlebih soal Bunaken. Melainkan teman saya ini sebenarnya belum sekalipun menginjakkan kaki di tempat yang dia ceritakan secara berbusa-busa itu. Semua cerita itu dia himpun dari kisah-kisah yang didengarkan dari mereka yang telah pergi kesana, yang umumnya bukan diving atau snorkeling melainkan mengikuti ibadah padang di tepian pantai Pulau Bunaken.

Bunaken memang salah satu penanda dari Kota Manado yang pernah mengiklankan diri sebagai Ibu Kota Pariwisata Dunia. Bunaken terkenal karena warga Kota Tinutuan itu gemar menceritakannya dengan aneka bumbu-bumbunya. Maka tak jarang banyak orang menganggap Bunaken itu menempel di daratan Manado, sehingga ada yang menanyakan rute kendaraan angkutan umum (Angkot atau Taxi) untuk pergi kesana.

Lain Manado lain pula Samarinda. Dulu sebelum tinggal di Samarinda, setiap kali ada yang mendengar saya akan mampir Samarinda, selalu dititipi untuk membeli oleh-oleh Kuku Macan dan Lampit. Dan saya sebelum meninggalkan Samarinda akan mampir ke Citra Niaga untuk mencari oleh-oleh itu. Dan dilihat dari sejarahnya, Citra Niaga seharusnya bisa menjadi salah satu penanda dari Kota Samarinda, karena kawasan itu secara arsitektural pernah mendapatkan penghargaan Aga Khan Awards.

Tapi perlahan-lahan, magnet Citra Niaga menjadi kurang kuat. Namanya kian hari kian surut dan bahkan membuat orang enggan untuk pergi kesana. Entah karena banyak bermunculan pusat perbelanjaan lain atau karena citra dan auranya yang kemudian memburuk karena dianggap sebagai tempat yang kerap terjadi aktivitas kejahatan.

Namun konon di Jakarta, di pusat-pusat perbelanjaan dan hiburan, nama Kota Samarinda begitu termahsyur. Orang Samarinda dikenal royal berbelanja dan menghambur uang entah untuk aneka barang maupun kesenangan. Kata seorang teman, begitu turun di Bandara Soekarno Hatta dan naik taksi kemudian menyebut diri sebagai orang Samarinda, sopir taksinya akan cenderung ramah dan mudah diajak ngobrol.

Memang kata teman itu ada benarnya, beberapa kali menaiki taksi di Jakarta, sopirnya yang masih muda bilang ingin merantau ke Samarinda. Menurut dia banyak temannya sukses karena merantau ke Samarinda (Kalimantan Timur). Jadi di luaran sana, Samarinda dicitrakan sebagai kota yang banyak uang, sehingga cocok untuk menjadi daerah perantauan.

Seorang pedagang pernah mengatakan pada saya bahwa paling mudah untuk cari uang di Samarinda itu adalah jualan makanan. “Kalau jualan makanan pasti laku,” begitu ujarnya. Dan sekali waktu saya pernah mendengar obrolan dari sekumpulan pekerja bangunan yang memperbincangan salah seorang temannya. Seorang temannya yang datang sama-sama untuk menjadi pekerja bangunan kemudian banting setir menjadi penjual nasi goreng. “Lha mau enak piye, wong dia itu tukang batu kok malah jadi tukang masak,” ucap seseorang diantara mereka tanpa bermaksud menghina. Mendengar itu yang lain terkekeh. Namun ternyata mereka yang ‘ngrasani’ itu ternyata kerap berhutang nasi goreng pada teman yang diceritakan itu. Sebab meski banyak proyek bangunan di kota Samarinda, namun urusan bayar membayar tenaga kerja ternyata tak selalu lancar.

Ekploitasi sumberdaya alam yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi Kalimantan Timur mulai menunjukkan gejala-gejala suram di masa mendatang. Ada wacana ekonomi pertanian paska tambang. Dan tentu saja Samarinda tak bisa memilih alternatif itu karena luas lahan yang potensial untuk pertanian tak cukup untuk menjadi penopang perekonomian. Maka Samarinda memilih untuk mengembangkan jatidiri menjadi kota jasa.

Entah jenis jasa apa yang layak menjadi jatidiri untuk Kota Samarinda sekaligus mampu menopang denyut nadi kehidupan kota dan warganya. Sektor jasa yang kelihatan tumbuh adalah perdagangan, perhotelan, kuliner dan hiburan malam. Namun apakah ini mampu menjadi penopang perekonomian?. Kecil kemungkinannya karena apa yang ‘dijual’ bukanlah produk-produk lokal atau kita bukanlah produsen jasa, melainkan hanya penjual jasa yang keuntungannya dibawa keluar bukan berputar dan kemudian memicu produksi di kota ini.

Lalu bagaimana dengan wisata?. Bahwa ada potensi besar tentu saja benar. Sebuat saja Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya. Tapi kita hampir tak punya visi yang jelas soal bagaimana mendayagunakan potensi itu untuk menarik wisatawan dari luar daerah. Yang terjadi justru ‘promosi liar’ lewat berbagai account sosial media yang memposting lubang-lubang bekas tambang dan dipromosikan sebagai danau nan indah.

Mempromosikan Samarinda sebagai kota yang dipenuhi danau tentu saja merupakan sebuah pengingkaran atas perilaku kebijakan yang membiarkan lingkungan kota ini disakiti secara keji. Menyebut lubang tambang yang ditinggalkan karena ketiadaan tanggungjawab lingkungan sebagai danau indah, bening dan biru seperti cermin bisa jadi pertanda nyata bahwa sesungguhnya kita tak mencintai dan menghormati lingkungan kota ini.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *