Halte Baru Samarinda  Foto : Kaltim Pos

Basa Basi WIsata

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar pidato dari para pejabat yang bunyinya kira-kira begini “Dulu kita punya hutan yang lebat dan luas, tapi kini hutan kita hampir habis. Kita juga punya gas dan minyak bumi, namun kini juga hampir habis. Demikian juga dengan emas dan barubara. Kita sebentar lagi tak punya apa-apa karena sumberdaya alam kita sudah habis. Karena itu kita harus mulai mengembangkan kekayaan lain, seperti keindahan alam yang tersisa serta kebudayaan kita yang kaya sehingga menjadi komoditas wisata yang akan memberi pendapatan baik bagi pemerintah maupun masyarakat,”

Buat mereka yang pertama kali mendengar pidato semacam itu mungkin akan terharu melihat kesadaran seorang pejabat bahwa sumber daya alam akan habis karenanya harus segera diantisipasi. Tapi saya yakin ada banyak orang yang sudah berkali-kali mendengar pidato serupa sehingga tak tersentuh sedikitpun atas kata-kata yang diucapkan pejabat itu.

Bahwa banyak orang sudah memperingatkan bahwa sumberdaya alam yang tidak terbarukan akan habis karena terus diekploitasi, tak sedikit pula yang sudah menyusun strategi untuk mengantisipasinya bahkan hingga yang disebut sebagai rencana aksi, road map dan lain sebagainya. Tapi kemudian semua berhenti disitu, dan tidak ada aksi nyata yang kemudian dilakukan untuk mengimplementasikan baik strategi, road map maupun rencana aksi tersebut.

Jadi pidato soal wisata, kebudayaan, itu merupakan sebuah klise, sama dengan pidato lain soal anti korupsi, kota cerdas, kota hijau, bio energi, kemandirian pangan dan lain sebagainya. Sesuatu yang terus diulang dan diulang.

Ketika pertumbuhan ekonomi merosot, pendapatan menurun, menjadi jamak ketika seorang pejabat lalu bicara banyak soal potensi wisata dan budaya. Sesuatu yang kerap kali bernada gloryfikasi, pengagung-agungan atas apa yang kita sangka sebagai kekayaan yang abadi. Padahal apa yang kita anggap sebagai kekayaan yang tiada akan habisnya itu sesungguhnya kita habisi juga seiring dengan ekploitasi sumberdaya alam.

Bagaimana mungkin pemandangan alam kita akan indah, sungai akan elok, air terjun mengucur deras jika hutan dipangkas habis, jika tanah digali dan dikeruk begitu dalam. Degradasi alam seperti itu secara otomatis akan mengikis kebudayaan yang hidup ditempat itu. Sebab kebudayaan kita dibangun atas kondisi lingkungan, laku dan ekpresi budaya kita bertumbuh dan tergantung kepada apa yang disediakan oleh lingkungan. Dan begitu lingkungan rusak maka kebudayaanpun akan ikut rusak.

Masuknya investasi dalam bentuk industri dan terutama beroperasi di bagian pedalaman, yang kerap kali merupakan benteng dari kekayaan keindahan alam dan kebudayaan akan membawa budaya, perilaku dan sikap baru yang biasanya bertolak belakang dengan apa yang hidup pada masyarakat setempat.

Berkaca dari pengalaman berbagai daerah lain, yang disebut pembangunan wisata selalu merupakan loncatan berpikir, sebuah transformasi. Gunung Kidul misalnya yang dikenal sebagai daerah minus, karena tanahnya yang kering berbatu-batu, akhirnya mampu menjadikan apa yang selama ini dianggap menjadi kelemahan menjadi sebuah kekuatan. Kini daerah itu dikenal sebagai kawasan ekowisata, karena bebatuan karst yang khas dengan banyak gua dan sungai-sungai di bawah tanah.

Sementara kita di Samarinda sejauh yang nampak dalam pantauan, pengembangan wisata dibangun melalui event, baik yang diadakan di daerah maupun luar daerah hingga ke luar negeri dalam bentuk muhibah kebudayaan (baca : kesenian). Kita langsung ingin mengundang orang datang dengan pemanis yang hanya ditampilkan di panggung hiburan.

Kita mempunyai sebuah desa yang ditetapkan menjadi desa wisata kebudayaan yaitu Pampang. Desa ini cukup dikenal, tapi nampaknya dibiarkan begitu saja sehingga dari waktu ke waktu reputasinya sebagai desa wisata justru menurun. Entah apa yang dilakukan oleh para pejabat yang gemar berpidato soal pariwisata terhadap desa ini, dukungan seperti apa yang diberikan, proses tahap demi tahap seperti apa yang dikerjakan disana hingga kemudian seluruh warga desa ini mampu mengembangkan layanan wisata untuk para pengunjung yang datang kesana.

Pemerintah seharusnya tidak usah terlalu banyak melakukan upaya promotif terhadap lokasi atau daerah wisata. Sebab dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini, upaya promotif justru akan dilakukan oleh orang per orang, oleh para pengunjung yang puas dan senang datang ke tempat itu. Mereka akan dengan sukarela memberi kesaksian, melalui tulisan, foto dan video yang mudah untuk diakses oleh siapapun di seluruh penjuru dunia.

Di jaman orang suka narsis dan ekshibit di lokasi-lokasi unik serta indah, segera foto-foto akan tersebar di jejaring sosial media dan akan memancing orang lain yang belum pernah datang ke tempat itu untuk menetapkan jadwal mendatanginya.

Kembali ke Pampang, ternyata desa atau kampung itu tak bisa didatangi sewaktu-waktu. Sebagai desa wisata, kegiatannya hanya ada di hari Minggu dalam bentuk culture show berupa pertunjukkan tari-tarian. Jadi andai ada wisatawan yang datang ke Samarinda, dan tidak tinggal sampai dengan hari minggu maka sulit untuk melihat sajian tetarian tradisional di Kota Samarinda. Padahal, berbagai kegiatan promotif dan materialnya, selalu bernuansa tradisi masyarakat Dayak. Dan begitu orang datang kesini, apa yang dipromosikan sulit untuk ditemukan.

Namun inilah watak daerah yang sudah lama dininabobokan oleh kekayaan sumberdaya alamnya. Dan ketika sumberdaya alam mulai menipis maka muncullah impian tentang pariwisata. Jadi mohon maaf, apapun yang dibicarakan oleh pemimpin kita tentang pariwisata tak lebih merupakan impian siang bolong, meskipun beliau tidak sedang tidur siang.

@yustinus_esha

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *