12705354_1303782286315352_5909612790033445263_n

Kantong Plastik Lebih Banyak Dari Ikan di Sungai Karang Mumus

Semingguan lalu, saat nongkrong di beton turap tepian Sungai Karang Mumus seorang teman mengatakan bakal lebih asyik kalo sambil memancing. Dia mengatakan hal itu sambil melangkah menuju warung gorengan untuk membeli ote-ote sebagai umpan pancingnya.

Teman yang hobby memancing ini memang selalu membawa satu set pancingan yang disimpan pada bagasi dibawah jok motornya. Ada satu gagang pancing dan satu kotak berisi mata kail dalam berbagai ukuran, pemberat, senar dan tang kecil untuk memasang pancing.

Umpan telah dipasang dan pancing dilontarkan. Arus yang deras di bawah membuat senar tertarik menjauh. Dan ketika coba untuk mengulung senar, terasa agak berat. Senar terus di gulung dan tak lama kemudian ketahuan bahwa yang membuat berat adalah plastik yang tersangkut di mata pancing.

Dua tiga kali begitu terus kejadiannya. Plastik dalam berbagai ukuran yang selalu terkail. Hingga akhirnya teman saya itu bosan memancing. Selain itu dia juga khawatir kalau nanti mata kailnya tersangkut pada karung sampah yang telah terbenam sehingga susah ditarik keluar.

Ada banyak orang yang memancing di tepian Sungai Karang Mumus, sungai yang dulu menyimpan banyak jenis ikan dan udang. Sekarang, jarang melihat seorang pemancing menarik senar dan kemudian terlihat ikan yang mengelepar.

Di bagian hilir, ikan yang banyak tersisa adalah ikan cicak atau ikan sapu-sapu. Meski kalau beruntung terkadang disaat air Sungai Mahakam pasang ada ikan Patin yang kemudian masuk ke badang Sungai Karang Mumus.

Air yang tercemar membuat Sungai Karang Mumus kehilangan kesuburannya. Ikan-ikan yang dulu hidup kemudian menghilang karena tak beroleh makanan di dalam air serta kehilangan tempat berkembang biak.

Kini yang lalu lalang dan bersemayan di dalam air Sungai Karang Mumus bukanlah ikan melainkan sampah plastik. Plastik berbagai macam model ada di Sungai Karang Mumus. Jumlah dan beratnya mungkin jauh lebih besar daripada ikan yang masih hidup di dalam sungai.

Adalah mudah bagi siapapun untuk melempat botol atau gelas bekas minuman kemasan langsung ke Sungai Karang Mumus ketimbang mencari tempat atau kotak sampah. Dan juga amat mudah ditemukan sampah yang dikemas rapi dalam kantong plastik mengapung permukaan Sungai Karang Mumus ketika airnya pasang.

Plastik yang mengapung lama kelamaan akan berat karena kekeruhan air Sungai Karang Mumus. Lumpur yang kemudian menempel di kantong plastik lama kelamaan akan membuat kantong menjadi berat dan tenggelam. Maka sepanjang aliran Sungai Karang Mumus kemudian menjadi kuburan aneka plastik.

Entah berapa ton plastik yang telah terkubur di lumpur Sungai Karang Mumus. Dan entah sampai kapan kemudian sampah plastik itu akan membusuk dan hancur lebur. Yang pasti butuh ratusan tahun untuk meleburkan plastik di alam.

Sementara itu kita makin hari makan akrab dengan plastik. Semua serba plastik yang kemudian kita buang. Sampah plastik terus kita produksi, sementara hanya sedikit yang kemudian didaur ulang. Sebagian lainnya dibuang begitu saja, sembarangan.

Saat hujan deras beberapa jam dan kemudian banjir dengan sangat mudah dikenali bahwa yang ditebar oleh aliran air banjir adalah sampah plastik. Plastik yang ringan mudah dibawa oleh aliran air, masuk ke got dan kemudian ke sungai, sehingga jadilan sungai kita menajadi sungai plastik.

Beruntung akhirnya teman saya itu bosan memancing di Sungai Karang Mumus karena selalu mendapat sampah plastik. Coba saja seandainya dia mendapat ikan dan kemudian digoreng ternyata bukan lezat dan gurih melainkan berasa plastik. Pasti dia akan jengkel dan mengucap sumpah serapah termasuk tak mau nongkrong lagi di tepi Sungai Karang Mumus.

@yustinus_esha

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *