Salah satu lubang bekas tambang yang dibiarkan

Martir

“Hallo, ini Dodit ya?”

“Iya, maaf saya bicara dengan siapa ini?”

“Saya Cemen, direktur PT. Sampah Abadi. Bisakan kita bertemu?”

“Oh, iya bapak, saya tunggu di sekretariat saya,” jawab Dodit sambil menutup teleponnya.

Sekitar dua jam kemudian, Dodit mendengar pintu depan sekretariatnya diketuk dengan keras. Dodit bergegas membukakannya. “Selamat malam, ini kah Pak Dodit,” ujar orang yang mengetuk pintu.

Dodit mengiyakan, sambil mempersilahkan masuk sambil berusaha tetap tenang, menyembunyikan kekagetannya. Sebab ternyata yang mengaku sebagai Cemen, datang bertamu dengan membawa serombongan besar orang, yang wajahnya tak bisa dibilang ramah.

“Begini, Pak Dodit, kami minta bapak beserta organisasi yang sampeyan pimpin tak usah lagi ikut campur dalam urusan pembusukan sampah di sungai. Kami ini legal, bekerja berdasarkan ijin jadi tak usah direcoki,” kata Cemen membuka perbincangan.

Dodit berusaha menyimak yang disampaikan Cemen, namun berusaha tetap waspada, karena sebagian tamunya berdiri lantaran kursi tak cukup, beberapa bahkan berada di dekat Dodit dengan sikap seakan siap menerkam.

“Saya tidak menyangkal usaha Pak Cemen itu legal, tapi yang disebut legal bukan berarti selalu benar,” jawab Dodit singkat.

“Apanya yang tidak benar?. Kami kerja baik-baik, bisa memperkerjakan orang kita disini, banyak yang hidup dari usaha yang kami kerjakan ini,” sanggah Cemen.

“Benar, tapi kita tak bisa menutup mata, bahwa usaha pembusukan sampah di sungai ini telah memakan korban. Anak-anak tak bisa berenang lagi di sungai, perahu tak bisa lewat, dan anak-anak yang kemudian nekat menceburkan diri, banyak yang meninggal,” papar Dodit.

“Ya, tapi itu tak bisa dipakai menyalahkan kami ini. Tempat kerja kami jelas, tanda-tandanya juga jelas, jadi siapapun yang masuk ya itu penerobos,” ujar Cemen kembali membantah.

“Kenyataannya tidak begitu Pak, kami menyaksikan dimana-mana, tidak ada batas yang jelas, tidak ada peringatan yang mudah dibaca atau dilihat orang. Jadi mereka bukan penerobos, tapi korban dari pembiaran,” ujar Dodit.

“Jadi sampeyan menuduh kami ini pembunuh?”

“Ya tidak juga, tapi yang bapak lakukan, mungkin bukan bapak tapi teman-teman bapak lainnya, punya potensi untuk menjadi area yang menyebabkan kematian,” tegas Dodit.

“Ah, sampeyan ini pinter ngomong saja. Tahu tidak gara-gara omongan sampeyan ini dan laporan-laporan yang masuk ke pemerintah, kami kehilangan pekerjaan. Siapa yang mau memberi makan orang-orang ini, sampeyan kah?” kata Cemen dengan nada suara mulai meninggi.

“itu dari sisi bapak, tapi di sisi lain siapa yang bisa menganti puluhan nyawa yang hilang, berapa harganya?. Dan mungkin masih akan ada korban lainnya nanti?. Setiap orang berhak mendapat penghasilan, mencari cara untuk menjalankan kehidupan. Tapi tetap ada pihak lain yang harus dipertimbangkan, karena mereka juga punya hak yang sama,” jawab Dodit tetap tenang.

“Kamu ini njawab terus, apa ini maunya,” ujar Cemen masih tetap dengan suara tinggi.

“Ya, tetap kami akan membela kepentingan banyak orang. Terus menuntut kepada pemerintah agar menyediakan dan mewujudkan ruang hidup yang nyaman dan aman untuk semua warganya. Tak ada niat untuk menganggu pekerjaan orang lain,” sahut Dodit.

“Lho, nggak bisa ini buktinya kita nggak bisa bekerja,”

“Kalo itu di luar kuasa kami, apakah kami bisa menghentikan operasi perusahaan bapak?. Nda bisa, yang bisa kami lakukan ya hanya menyampaikan ke pihak yang berkaitan, apa saja yang kami temukan dan mereka akan memverifikasi, alangkah bodohnya kalau mereka menelan mentah-mentah laporan atau penyampaian kami,” terang Dodit.

“Sudah, begini saja. Berhenti urusi urusan kami, kalau tidak ya tahu sendiri,” ujar Cemen sambil beranjak pergi.

Sambil pergi tak lupa rombongan Cemen membuat kegaduhan untuk menegaskan bahwa mereka tetap tidak senang dan tak terima baik penjelasan dari Dodit.

Tepat di muka pintu depan, kembali Cemen berkata “Jangan sekali-kali melapor ke polisi,”

Dodit tidak menyahut dan membiarkan Cemen berlalu. Setelah itu Dodit mengumpulkan teman-temannya, menenangkan mereka dan mengatakan “Inilah buah dari pekerjaan kita, untuk menjadi berarti terkadang kita perlu menjadi martir,”

 

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *