56ce87e824a9d583048b4568

Diet Kresek

Sebulan sudah, peraturan tentang membayar plastik di tempat perbelanjaan diterapkan. Sejauh mana peraturan itu mampu mengurangi penggunaan plastik untuk kantong belanjaan?. Sepertinya tidak ada yang mencatat atau meneliti hal itu, bahkan sebagian justru mengatakan tidak efektif.

Mereka yang jeli bahkan mengatakan bahwa para pengusaha lebih senang dengan peraturan ini karena memperoleh tambahan uang untuk menebus kantong plastik. Padahal sebelumnya kantong plastik diberikan dengan gratis atau sudah dihitung sebagai bagian yang dibayarkan bersama dengan belanjaan.

Nah, kemana uang tambahan dari konsumen yang membayar kantong plastik yang tadinya gratis itu, apakah itu jadi pendapatan pemilik perbelanjaan atau dikumpulkan pada badan tertentu untuk digunakan bagi kepentingan tertentu. Tidak ada jawaban yang terang soal ini.

Plastik adalah salah satu jenis sampah yang paling besar volumenya saat ini. Dan banyak yang merasa terganggu dengan sampah ini. Sebut saja got dan parit yang tersumbat karena tumpukan plastik yang umumnya adalah wadah atau kemasan kebutuhan sehari-hari. Sayangnya meski kita terganggu dengan sampah plastik, tetap saja menjadikan plastik sebagai salah satu benda favorit untuk menjadi wadah atau pengemas sehari-hari.

Dan plastik akan menjadi favorit selama belum ada penganti yang sama dengannya namun lebih ramah lingkungan. Melarang atau mengatur-atur pemakaian disana sini tetap tidak akan terlalu berdampak banyak dalam mengurangi penggunaan plastik.

Plastik bisa menjadi favorit atas salah satu cara juga diakibatkan oleh kampanye gaya hidup modern yang menekankan kebersihan dan kerapatan dalam membungkus sehingga tidak mudah dikontaminasi. Hal ini membuat pembungkus-pembungkus tradisional kemudian tersingkir. Dulu yang lazim dipakai sebagai pembungkus adalah dedaunan. Namun kemudian gaya hidup modern menempatkan daun sebagai pembungkus tradisional. Akibatnya semua yang dulu dibungkus daun, seperti tempe dan lontong, sekarang dibungkus plastik.

Kembali soal tas plastik di tempat perbelanjaan, bisa dipastikan tidak akan efektif pengurangannya apabila hanya dengan cara membayar. Pasalnya tas plastik jauh lebih praktis ketimbang harus membawa tas belanja dari rumah. Dan tidak semua orang yang mampir belanja tadinya berencana untuk belanja.

Diet plastik tidak seharusnya hanya menjadi produk kebijakan dalam bentuk peraturan dalam hal belanja belaka melainkan harus dalam kerangka yang lebih luas. Adalah percuma mengurangi konsumsi plastik di kalangan konsumen apabila produsen juga tetap rakus menggunakan plastik untuk mengemas produknya.

Para pengambil kebijakan juga harus mengalokasikan anggaran untuk riset dan pengembangan guna menemukan bahan lain yang serupa dengan plastik atau bahkan lebih baik tetapi tidak merusak lingkungan atau menimbulkan sampah yang sulit diurai.

Di negeri ini terlalu banyak peraturan yang tidak menyasar persoalan pokoknya. Peraturan yang hanya memberatkan pemakai namun tak menyentuh produsennya. Para pembuat peraturan juga kerap berpikir bahwa aturannya akan menyelesaikan atau membantu mengurangi persoalan, walau nyatanya justru menambah persoalan baru.

Beginilah jika sebuah produk kebijakan selalu dianggap sebagai sebuah pencapaian kinerja dari sebuah badan dan pejabat publiknya.

@yustinus_esha

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *