56ce87e824a9d583048b4568

Mengurangi Plastik

“Ini aksiku, mana aksimu”

Itu adalah tagline sebuah kampanye yang dilakukan oleh sekelompok anak muda untuk mendorong aksi nyata dalam kepedulian terhadap keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Mereka memberi contoh, tip dan trik, langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh banyak orang.

Salah satu cara sederhana yang diajarkan untuk mengurangi sampah platik (botol/gelas) minuman kemasan adalah dengan membawa wadah minum (tumbler) jika bepergian. Wadah itu diisi degan air minum dari galon, bukan dari kemasan yang sekali pakai lalu dibuang.

Soal sampah plastik kemasan memang jadi masalah besar lingkungan hidup saat ini. Masalah ini tidak hanya terjadi di perkotaan, melainkan juga sudah merambah ke pedesaan. Globalisasi kemasan plastik jauh lebih cepat dari penetrasi produk global lainnya.

Diakui atau tidak, kemasan plastik memang sangat membantu dalam penyebaran produk. Semua menjadi lebih praktis, terkemas aman sehingga bisa disebarluaskan sampai pelosok yang paling jauh.

Tapi demam plastik sejatinya tidak hanya mewabah diantara produsen atau pabrikan modern, melainkan juga merasuk pada produsen dan pedagang tradisional. Kemasan seperti dedaunan, lama kelamaan menghilang.

Pemakaian plastik meledak dan semakin subur karena sikap atau perilaku konsumennya. Salah satunya adalah kita kerap kali membeli segala sesuatu tanpa rencana. Seperti halnya membeli makanan misalnya. Begitu ingin kita langsung mampir, bungkus dengan plastik dan tenteng bawa pulang.

Sangat jarang kita menemukan orang yang membeli makanan dengan membawa rantang atau wadah dari rumah. Sesuatu yang sebenarnya lazim kita lakukan beberapa puluh tahun lalu. Kita membawa rantang karena membeli makanan memang direncanakan dan berangkat dari rumah.

Ledakan pemakaian plastik kemasan juga didorong oleh perilaku kita, masyarakat yang sekarang menjadi tahkluk, memilih untuk menjadi konsumen semata. Di tengah berkembangnya teknologi komunikasi yang mendorong para pemakainya menjadi prosumen, untuk barang-barang konsumsi dengan alasan kepraktisan, effisiensi mendudukkan dirinya semata sebagai pemakai.

Saya ingat di jaman kecil dulu, kerap kali ramai-ramai dengan beberapa tetangga bersama-sama membuat sabun cuci. Caranya dengan mengaduk beberapa bahan yang satu dua diantaranya bisa menimbulkan gatal di tangan kalau terpercik. Satu kali membuat bisa menghasilkan sabun yang cukup untuk kebutuhan sebulan bagi beberapa keluarga.

Soal makanan kecil, nenek dan ibu saya selalu membiasakan untuk membuat sendiri, bukan membeli. Maka nenek misalnya sehari-hari kerap kali hanya beraktifitas di dapur membuat jenang, dodol, pisang goreng, kue kering dan lain sebagainya.

Mungkin sekarang ini kebanyakan orang tua bekerja, sehingga tidak punya waktu lagi untuk menyibukkan diri membuat pangganan bagi anak-anaknya. Dan pilihan termudah adalah memberikan uang jajan sehingga anaknya bolak-balik ke warung dan terus memproduksi sampah plastik.

Jadi apakah pengenaan biaya untuk tak plastik di pusat perbelanjaan akan mengurangi sampah plastik secara significant?. Bisa dipastikan tidak, karena soal membayar tak plastik itu sudah biasa dilakukan oleh masyarakat saat berbelanja di pasar tradisional.

Kebijakan ini lagi-lagi merupakan jalan pintas yang sebenarnya tak akan menghasilkan apa-apa karena plastik memang tidak kurangi, plastik tetap tersedia hanya perlu ditebus dengan beberapa ratus rupiah. Pengurangan sampah plastik seharusnya didorong dari berbagai lini, bukan hanya dari sisi konsumen saja, melainkan juga dari produsen.

Para produsen perlu ditekan agar mengembangkan kemasan yang ramah lingkungan. Sementara itu pemerintah juga mempunyai lembaga atau badan penelitian, seharusnya badan atau lembaga ini diberi tugas untuk menemukan bahan kemasan yang praktis, mudah digunakan dan tidak merusak atau membebani lingkungan dalam jangka panjang.

@yustinus_esha

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *