Anak Buang Sampah

Belajar Dari Yang Salah dan Mencontoh Dari Yang Keliru

Menyusuri Sungai Karang Mumus dari hilir ke hulu atau sebaliknya selalu menarik hati. Setiap kali perjalanan selalu ada ‘bonus’ yang didapat berupa penglihatan dan pengetahuan baru tentang sungai yang menjadi jantung Kota Samarinda ini.

Namun selalu ada resiko untuk sebuah perjalanan yang mengasyikkan, umpamanya beberapa bagian badan akan terasa pegal. Sebab perjalanan menyusuri Sungai Karang Mumus selalu mempunyai resiko bertemu dengan sumbatan aneka sampah yang perlu dibongkar agar perahu bisa lewat.

Awalnya adalah niat baik, ingin membersihkan sungai dari rerumputan atau tetumbuhan lain seperti Enceng Gondok. Rumput dipangkas dan kemudian di tumpuk di pinggir sungai demikian pula dengan Enceng Gondok. Tumpukan itu kemudian mengering, namun saat hujan turun dan air volume air sungai bertambah, tumpukan rumput atau Enceng Gondok yang mengering itu terhanyut.

Ketika air surut, rumput dan Enceng Gondok yang telah tercampur dengan batang berbagai pohon serta sampah lainnya membentuk barikade tebal di sungai karena tersangkut rerumputan yang tumbuh subur di kanan kiri sungai. Menyingkirkan semua ini tentu butuh tenaga ekstra. Jalan paling mudah adalah menghanyutkan sedikit demi sedikit, namun ini juga menimbulkan resiko timbulnya barikade baru dalam perjalanan pulang nantinya.

Sesampahan di Sungai Karang Mumus adalah salah satu masalah utama. Sampah adalah faktor penting dalam krisis sosial ekologis yang menimpa Sungai Karang Mumus. Sudah banyak yang melakukan ‘kerja bakti’ untuk membersihkan area tertentu dari sampah. Sayangnya membersihkan itu tidak dimaknai sebagai mengangkat dan kemudian membuang pada tempatnya.

Ada banyak kerja bakti di sepanjang Sungai Karang Mumus yang dilakukan dengan cara mengaruk sesampahan dan kemudian menghanyutkan. Membersihkan adalah membuat bersih salah satu tempat (lokasi kerja bakti) dengan cara menghanyutkan sesampahannya mengikuti arus ke bawah. Alhasil lokasi yang dibersihkan itu untuk sementara bersih karena sesampahannya telah dikirim ke wilayah hilirnya. Namun bersih ini bersifat sementara karena tak lama lagi juga akan menerima kiriman sampah dari hulu, atau bahkan sampah yang dihanyutkan akan kembali dikirim ke lokasi semula oleh air pasang yang masuk dari muara yaitu aliran Sungai Mahakam.

Soal sampah memang ada perilaku yang nampaknya sama baik di darat maupun di air. Egoisme dalam urusan kebersihan, bahwa kebersihan lingkungan sendiri itu penting hanya saja itu kerap diwujudkan dengan cara membuang atau mengelontorkan sesampahan di lingkungan lainnya.

Sikap dan perilaku semacam ini kemudian menetap karena diturunkan. Anak-anak akan belajar dari apa yang dilakukan oleh orang tua dan lingkungannya. Ada banyak contoh ketika orang tuanya malu atau tak enak membuang sampah ke sungai maka mereka akan menyuruh anak-anaknya. Andai sesampahan yang akan dibuang jumlahnya banyak maka mereka akan menunggu malam atau saat sepi untuk menghanyutkannya.

Yakinlah bahwa semua orang pasti akan merasa tidak pantas atau tak enak hati ketika melihat kasur,bantal-guling, sofa, kulkas, lemari, spring bed mengapung dan hanyut diatas air sungai. Namun perasaan itu ditekan mati ketika akan membuang barang miliknya yang sudah tidak terpakai lagi. Menekan perasaan sendiri hanya karena malas atau enggan mengeluarkan banyak tenaga atau bahkan ongkos ketika harus membuang semua barang-barang itu di tempat pembuangan yang semestinya.

Tradisi, kebudayaan atau pembelajaran haruslah merupakan sesuatu yang positif. Namun tak bisa dipungkiri bahwa kita kerap mengembangkan tradisi, kebudayaan dan pembelajaran yang buruk. Sesuatu yang dilakukan menetap dan turun temurun tentu saja susah dirubah. “Begitu cara kami membuang sampah atau membersihkan sungai dari dulu”.

Padahal sungai dulu dan sungai kini sudah berbeda, sampah dahulu dan sampah kini juga sudah berbeda. Dulu sampah yang dibuang lebih bersifat sampah organik,dan sesampahan itu kemudian akan menjadi penyubur atau nutrisi untuk biota yang ada di dalam air yang jumlahnya masih banyak. Sekarang sampahnya lebih banyak sampah non organik yang susah atau bahkan tidak bakal hancur atau terurai dalam waktu lama.

Pun demikian dengan kebiasan MCK di sungai. Kenapa sekarang menjadi masalah?. Karena kualitas air sungai sekarang jauh dibawah kualitas sungai di masa lalu. Saat sungai belum tercemar oleh limbah dan sampah domestik serta industri. Buang air besar mungkin dulu bukan masalah karena tinja tak akan mengambang jauh dan kemudian luruh. Begitu plung jatuh, tinja sudah ditunggu oleh segerombolan ikan yang ganas melahapnya.

Sungai adalah ruang kehidupan, lanskap perlu dijaga dan dirawat. Jika kemudian Sungai Karang Mumus semakin hari semakin merana, berubah mulai dari air, tampakan, kedalaman, kelebaran dan lainnya, itu karena kita semua, masyarakat, pemerintah dan pengusaha masih saja belajar dari yang salah dan mencontoh dari yang keliru.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *