Kademba 10

Membantu Alam Memulihkan Diri

Ketika belajar soal etika lingkungan, terkait dengan keutuhan ciptaan ada sebuah kewajiban yang menyebutkan barang siapa mengeploitasi (merusak, merubah wajah alam) harus mengembalikan pada kondisi paling mendekati keadaan semual. Oleh karena itu penting bagi siapapun yang akan ‘mengelola’ Sumber Daya Alam untuk mendokumentasikan rona awal dari lokasi atau wilayah operasi atau kerjanya.

Para bijak memberikan nasehat sederhana terkait dengan pemanfaatan alam. Mereka mengatakan “Petiklah atau pungutlah buah yang sudah masak”. Bahwa bumi dan segala isinya benar diciptakan untuk manusia, namun manusia tidak boleh semena-mena mengambilnya. Yang boleh atau bisa diambil hanyalah yang ada di puncak, produk klimak.

Gejala paling sederhana dari ‘keserakahan’ manusia nampak dalam produk karbitan. Salah satu contohnya adalah buah yang belum matang sudah diambil, kemudian diperam beberapa hari dengan menggunakan karbit. Hasilnya Mangga, Pisang, Pepaya dan lain-lain yang nampaknya masak pohon, namun rasanya tidak manis dan menyegarkan.

Keserakahan secara sederhana bisa digambarkan sebagai watak atau perilaku mengambil lebih besar dari yang dibutuhkan. Watak ini menjadikan manusia mengekploitasi alam tanpa memperhatikan kepentingan alam itu sendiri. Alam seolah miliknya, meski sejatinya hanya dikuasakan, dipinjamkan untuk sementara.

Bumi Kalimantan Timur dengan Samarinda sebagai Ibukotanya, menyediakan hampir semua yang diperlukan oleh warganya untuk menjadi sejahtera. Pada mulanya berbagai hasil hutan non kayu menopang kehidupan dan ekonomi warga maupun pemerintahannya di masa lalu.

Dan kemudian hutan hujan tropisnya dijadikan komoditas utamanya. Kayu-kayu besar yang berumur ratusan tahun dibabat. Ada istilah tebang matahari atau membabat habis sehingga sinar matahari menimpa permukaan tanah. Demi memburu kayunya, semua ditebang. Maka yang habis bukan hanya pepohonan melainkan juga apapun yang tadinya hidup dan berkembang karena ada pepohonan yang lebat disitu.

Mungkin yang menebang dan memberi ijin tebang pada waktu itu berpikir pepohonan yang dirubuhkan itu masih banyak, ada dimana-mana. Atau pepohonan itu bisa ditanam kembali. Tapi nyatanya kecepatan penanaman kembali tak sedahsyat kecepatan pembabatan. Dan kalaupun hutan yang dibabat itu ditanami kembali maka akan ditanami berbagai jenis tanaman yang bukan merupakan tanaman semula, melainkan tanaman penghijauan yang cepat pertumbuhannya.

Andai kemudian hutan itu hijau kembali dan dipenuhi tetumbuhan, maka itu tak mendekati keadaan semula. Binatang-binatang yang tadinya hidup dalam lingkungan itu juga tak akan kembali,karena pepohonan yang ditanam bukan dedaunan atau yang menghasilkan buah serta bijian yang merupakan makanan mereka.

Ketika hutan sudah dihabisi dan tinggal menjadi semak belukar kemudian dibongkar untuk diambil batubaranya. Wajah alam kembali berubah karena bebukitan menghilang menyisakan lubang dalam dimana-mana. Tak tersedia cukup tanah untuk menutupi lubang-lubang itu semuanya.

Kesuburan tanah Kalimantan Timur yang luruh ketika hutannya ditebang habis semakin parah ketika tanahnya diobrak-abrik. Kesuburan yang berabad-abad dibangun oleh pepohonan dan aneka mahkluk lain dalam hutan kemudian menghilang. Akibatnya tanah yang tersisa tak akan bisa dipakai menanam jika tidak diberi bantuan dengan nutrisi buatan. Alhasil bercocok tanam menjadi aktifitas yang mahal ongkosnya.

Ekonomi yang dibangun dengan memanen habis barang primer memang kerap mendatangkan pemasukan besar, namun itu hanya fenomena sesaat. Dan kita menjadi kelabakan jika apa yang kita panen habis itu tak lagi laku. Dan itu yang kini terjadi, ketika harga batubara cenderung menurun, permintaan tak lagi banyak kita kebingungan, apalagi yang harus dijual, apalagi yang harus diobral.

Sebenarnya bukan hanya hutan dan lahan yang rusak dan menimbulkan resiko bencana ekologis. Sungai-sungaipun tak kalah merananya. Salah satu contohnya adalah Sungai Karang Mumus yang merupakan jantung Kota Samarinda. Sungai ini diterpa sedimentasi parah akibat pembukaan lahan di daerah hulu untuk pertambangan, perumahan dan juga perladangan.

Kanan kiri sungai juga mengalami tekanan yang semakin berat akibat terus bertumbuhnya pemukiman. Pemukiman yang bukan saja merampas badan sungai melainkan juga menghasilkan sampah dan limbah yang langsung dibuang ke sungai.

Berpuluh tahun keadaan ini dibiarkan begitu saja. Kalaupun ada upaya untuk mengatasinya hanya bersifat parsial dan tidak berkelanjutan. Padahal meski terus dirusak, sebenarnya Sungai Karang Mumus masih menyediakan sumberdaya lokal, berbagai jenis tanaman yang bisa diberdayakan untuk memperbaiki keadaannya.

Yang diperlukan hanyalah campur tangan manusia, kerelaan warga dan komitment pemerintah Kota Samarinda untuk membantu alam mempercepat pemulihan dirinya.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *