Karangmumus5

Namaku Karang Mumus

Aku dikenal dengan sebutan Karang Mumus. Entah sebutan itu berasal dari mana, sebab ada yang mengatakan bahwa Mumus adalah sebutan sayang-sayang untuk anak laki-laki. Sementara Karang adalah sebutan untuk gundukan entah tumpukan batuan atau sedimentasi sehingga memunculkan gundukan di tepi atau tengah sungai. Maka Karang Mumus adalah karangan tempat anak-anak laki-laki bermain-main.
Namun ada yang menyebutkan bahwa Mumus berasal dari kata Gumus, semacam buah jambu air. Barangkali ini yang kemudian menjadikan aku dinamakan sebagai Karang Mumus, karena di daerah-daerah sedimentasinya banyak ditumbuhi oleh Gumus. Dan sebutan nama daerah atau sungai dengan memakai nama buah adalah sesuatu yang lazim di Kalimantan Timur serta daerah-daerah lainnya.
Dari berbagai cerita yang berkembang, konon muasal nama Karang Mumus berasal dari kisah bahwa di muara sungai (yang berada di Sungai Mahakam) banyak ditinggali buaya. Kehadiran buaya-buaya yang jumlahnya sangat banyak ini kemudian menganggu kehidupan warga. Banyaknya buaya di muara membuat mereka berebut makanan, apapun yang jatuh akan dimakan. Bahkan konon batu jatuhpun akan diperebutkan oleh buaya-buaya itu.
Nah batu (karang) yang jatuh (mumus) itulah yang kemudian diabadikan dalam nama sungai sehingga disebut sebagai Karang Mumus. Dan dari sini juga muncul kebiasaan warga untuk memberi makan buaya. Karena buaya-buaya itu kemudian diberi makan (dipelihara) maka mereka kemudian tidak menganggu warga yang beraktivitas di Sungai Karang Mumus.
Penjelasan lain diberikan oleh Ahmad Wijaya, Direktur Yayasan Bioma (Biosfer dan Manusia). Menurutnya sebutan Karang adalah sebutan yang lazim diberikan kepada anak sungai yang cukup besar. Sebutan lain yang dikenal adalah Kedang untuk anak sungai yang besar. Sementara sebutan Sei adalah sebutan sungai pada umumnya.
Entah penjelasan mana yang paling benar untuk Sungai Karang Mumus. Namun apapun cerita muasal dari nama Karang Mumus semua sebenarnya mempunyai makna yang berguna untuk menyelami arti dan kedudukannya bagi Kota Samarinda.
Aku, Karang Mumus sejak semula adalah penyangga kehidupan Kota Samarinda. Kota ini tumbuh dari tepianku. Tepian yang kala itu masih ditumbuhi aneka pepohonan tempat hidup berbagai satwa. Pepohonan yang mendatangkan manfaat untuk warga, entah berupa buah atau bahan makanan maupun akar-akarannya yang terendam di air sebagai tempat segala jenis ikan berpijah dan berkembang biak.
Dulu di badanku tumbuh dan hidup berbagai jenis ikan yang akrab dengan warga Kota Samarinda. Ikan yang bisa ditangkap,dipancing dan dijala untuk kebutuhan sehari-hari maupun diperdagangkan. Ada juga Udang dan Kijing, sejenis kerang yang hidup di dasar atau lumpur sungai.
Bicara soal penghidupan, di sepanjang tepianku juga dulu banyak terdapat Wantilan, tempat pengergajian kayu. Saat itu kedalamannya masih leluasa untuk dilewati oleh perahu dan kapal-kapal dengan ukuran cukup besar. Perahu dan kapal lalu lalang membawa berbagai komoditas untuk diperdagangkan termasuk salah satunya adalah rotan.
Kini disalah satu sisi tepianku masih bisa ditemui jejak rotan. Di Jalan Tarmidi, dekat dengan Jembatan Baru, ada deretan para penjual produk-produk dari Rotan yang tentu saja tak lagi diangkut melalui sungai. Soal Rotan dulu ada cerita bahwa pernah ada Kapal Rotan yang tenggelam di badan airku. Kapal itu tak ditemukan selama beberapa hari hingga memunculkan cerita tentang Kerajaan Buaya.
Aku dahulu adalah jantung Kota Samarinda. Denyut kehidupan kota ini berada di sepanjang badan air aliranku. Kapal niaga lalu lalang membawa aneka komoditas dari dan ke Samarinda. Di tepianku banyak batang tempat anak-anak bermain, mandi dan terjun ke sungai. Tempat masyarakat memenuhi kebutuhan airnya untuk keperluan sehari-hari. Airku saat itu masih jernih, dasar sungai bisa terlihat dengan jelas.
Keadaan mulai berubah, saat Kota Samarinda mulai bertumbuh. Di tepianku mulai muncul permukiman baru dan pusat perekonomian seperti pasar dan berbagai jenis usaha lainnya. Badanku yang lebar mulai menyempit, karena sebagian diduduki oleh mereka yang lapar lahan dan mencari jalan penyelesaian yang gampang dengan merampok ruang kehidupanku.
Mereka yang bermukim, berusaha dan beraktivitas di lingkunganku kemudian secara serampangan membuang apapun yang tak mereka perlukan ke dalam aliran airku. Akibatnya wajahku menjadi compang-camping dan menjijikkan karena dipenuhi sampah dan juga limbah. Airku terkadang menghitam dan bau. Meski begitu mereka yang tinggal di badan dan tepianku masih saja memanfaatkan airku untuk keperluan mereka sehari hari. Padahal jelas-jelas badan yang berwenang kerap menyatakan bahwa status airku tercemar berat.
Di bagian kepalaku sana, bagian hulu sepanjang daerah aliranku lahan-lahan terus dibuka, bukit diratakan, tanah digali dan seterusnya untuk pertambangan, perumahan, perladangan dan lain sebagainya. Kanan kiriku kini adalah lahan kering terbuka. Pepohonan, hutan sekunder yang tersisapun kini semakin menghilang, bahkan semak-semakpun cenderung dihilangkan, ditebas dan kemudian dibakar.
Lahan terbuka, hilangnya rawa-rawa, membuat ketika hujan tiba, air permukaan akan mengalir sambil membawa lumpur. Akibatnya kedalamanku semakin hari semakin berkurang. Aku sekarang ini masuk dalam kategori perairan dangkal karena sulit untuk menemukan lagi kedalamanku yang lebih dari 5 meter.
Lihatlah, Waduk Benanga yang dulu ketika selesai dibangun luasnya 100 hektar lebih. Sekarang tinggal tersisa berapa?. Luas yang tersisa tak lebih dari 20% dari luas semula. Tinggal sedikit permukaan yang tampak genangan airnya, selebihnya adalah pemandangan tanah lapang yang dipenuhi dengan rerumputan, tetumbuhan perdu berduri, hamparan Enceng Gondok dan gundukan tanah yang menyembul di sana-sini.
Dulu Waduk Benanga yang terhubung dengan rawa rawa Pampang adalah reservoar, tempat menyimpan cadangan air sebelum mengalir melewati beton bendungan menuju muara. Kini jika hujan di daerah hulu, air langsung masuk ke Waduk Benanga dan tidak sempat tersimpan sehingga mengalir langsung ke badanku. Dan kemudian kini kerap kali aku dituduh sebagai penyebab banjir di Kota Samarinda.
Siapa yang melihat wajah dan tampilanku sekarang ini, tak sedikit mungkin yang menangis sedih. Namun sayangnya hanya sedikit yang tergerak hatinya untuk tidak membuang sampah dan aneka limbah lagi ke badanku. Kalaupun ada yang rajin membersihkan badanku, kebanyakan hanya menyingkirkan sesampahan dari kolong rumahnya atau belakang rumah dengan cara dihanyutkan bukan diangkat. Sampah hanya menyingkir dari lingkungannya sendiri tetapi tetap mengotori badanku.
Ada yang mengatakan sudah dari dulu mereka membuang sampah, limbah dan kotoran manusia. Mungkin mereka lupa, apa yang dibuang dahulu dan sekarang ini sudah jauh berbeda. Dulu yang dibuang adalah sampah organik, saat belum banyak kemasan yang terbuat dari plastik. Namun sekarang hampir semua yang dibuang adalah material yang sudah dihancurkan oleh alam. Pun demikian juga dengan limbah. Yang dibuang adalah limbah-limbah yang menyuburkan berbagai organisme dalam air yang membuat air kekurangan oksigen, sehingga ikan dan mahkluk lain yang berguna menghilang, menyingkir ke bagian hulu dan pertumbuhannya terganggu.
Jika selalu kembali ke cerita dulu-dulu maka aku pasti akan cepat mati. Dulu yang tinggal di tepianku tidak sebanyak sekarang. Dulu yang dibuang ke badanku tidak semassal saat ini. Dulu aku masih sehat sehingga mampu menahan tekanan. Tetapi aku sekarang sudah sekarat, tak lagi mampu menahan atau bahkan menyembuhkan diriku sendiri.
Campur tangan, aku butuh campur tangan dari siapapun yang memperoleh kemanfaatan dari adaku. Itu berarti adalah warga Kota Samarinda, Pemerintahannya dan juga para usahawan, kaum swasta, pengusaha yang bekerja di wilayah yang berhubungan denganku.
Entah apa sebutan yang tepat untuk mereka yang terus memanfaatkanku, mengambil dan menduduki badanku tapi tak mau turut menjaga dan merawatku. Apakah aku harus menyebut mereka bebal, rampok, begal atau kaum munafik yang hanya memikirkan kehidupan kelak tapi menutup mata terhadap dunia disekitarnya.
Dahulu di tepianku adalah tempat lahir dan tumbuhnya banyak pejabat. Dimana mereka sekarang ini, adakah mereka sekarang sudi mengotori tangan dan kakinya di airku untuk membersihkan diriku. Ataukah mereka tetap mengambil untung dari kondisiku sehingga tak segera meniatkan tekat untuk segera menyembuhkan sakitku. Kalo aku hanya didekati dari proyek ke proyek saja, maka siapkan saja proyek besar yaitu kuburanku.
Wahai siapapun kalian, entah pejabat, pemuka agama, tokoh masyarakat, cerdik pandai, pengusaha dan warga pada umumnya tidak malukan kalian pada sekelompok kecil masyarakat yang kini bergiat melakukan bersih-bersih badanku. Kelompok yang menamakan diri sebagai Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus.
Jangankan malu, bahkan sebagian dari kalian menyebut mereka gila, mengarami lautan dan mengecat langit. Karena kalian menyangka mereka akan membersihkan badanku, padahal tidak karena pasti mereka tak akan mampu.
Mereka hanya ingin kita semua terbuka mata terhadap kondisiku yang sesungguhnya. Perilaku apa yang menyerang diriku dan apa akibatnya. Mereka ingin semuanya sadar bahwa ada banyak kelakuan, baik individu, kolektif maupun kebijakan yang salah yang membuat aku makin merana dan ternista.
Semoga semakin banyak yang akan mengungkapkan apa yang tersembunyi di sepanjang aliranku. Pengungkapan yang akan membuat siapapun sadar dan kemudian bertindak untuk turut merawat dan menjagaku secara konsisten. Aku menekankan soal konsistensi karena selama ini banyak rupa laku yang menyatakan kepedulian atasku tidak dilakukan secara konsisten, hanya ramai diawal lewat berbagai upacara dan launching namun kemudian senyap tanpa tindak lanjut. Ada ribuan yang berjanji untuk membersihkan diriku dengan mengores tanda tangan pada selempang kain panjang, namun setelah itu entah kemana, bahkan lembaran yang penuh tanda tangan itu tak tahu disimpan dimana.
Jadi siapapun yang peduli, berhentilah membuat event jika tak ada kelanjutannya. Untuk apa baut lomba foto kalau kemudian foto-foto itu tak dibunyikan. Untuk apa menanam jika kemudian tanaman itu tak dijaga dan dipastikan pertumbuhannya. Untuk apa memotong rerumputan di tepian jika kemudian dihanyutkan. Untuk apa memindahkan penduduk jika permukiman baru tak dicegah. Untuk apa aku dikeruk jika badanku terus dirampok, disempitkan dengan berbagai alasan. Untuk apa aku ditanggul jika ruang terbuka hijau diduduki untuk berbagai kepentingan.
Aku hingga kini adalah aku yang ragu meskipun ada setitik cahaya di tengahku. Aku ragu akan umurku, akan adaku. Adakah aku akan bisa kembali menjadi jantung dan kebanggaan bagi kota ini.
Pondok Wiraguna, 09/05/2016
@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *