13319903_10209208293820186_5052499827782811400_n

Membunuh Karangmumus

Bagaimana pembangunan direncanakan?. Dokumen pembangunan mengacu pada Rencana Jangka Panjang dan Menengah, berdasarkan prioritas-prioritas pembangunan yang dilandasi oleh visi dan misi pemimpin pemerintahannya. Setiap tahu juga dilakukan Musyawarah Rencana Pembangunan mulai dari tingkat pemerintahan terbawah hingga teratas.

Dari Musrenbang biasanya akan muncul ‘shopping list’ yang panjang yang perlu dilihat lagi tingkat urgensinya dan berbagai pertimbangan lainnya. Namun rencana pembangunan juga bisa muncul ‘mendadak’. Bisa saja karena desakan warga, balas budi dan hasil jalan-jalan keluar daerah atau ke luar negeri.

Jika rencana pembangunan disetujui maka akan dilakukan detail pengembangan berikutnya. Berbagai penilaian mulai dari aspek lingkungan, teknis, sosial dan detail engeniring desain-nya. Proses ini bisa memakan waktu yang panjang plus biaya yang tidak kurang banyaknya. Namun ada juga yang dimulai ketika semua proses belum selesai atau belum dilakukan. Pokoknya mulai dulu kalau ada soal urus belakangan.

Lalu kenapa ada sebuah rencana pembangunan yang direncanakan selesai 5 tahun misalnya lalu molor hingga berpuluh tahun kemudian belum juga jadi?. Atau ada sebuah proyek pembangunan yang bisa diselesaikan tepat waktu namun ternyata tidak berguna alias mubasir?. Dan ada juga pembangunan yang selesai namun kemudian ternyata menimbulkan masalah karena desainnya tak sesuai dengan kebutuhan?.

Tapi mungkin tak perlu bicara soal rencana pembangunan yang besar-besar. Cukup yang menengah dan kecil yang sudah bikin masalah. Kita ambil contoh saja jembatan di Sungai Karang Mumus. Titik pandangnya adalah jembatan dari sisi penyusur sungai atau pemakai perahu yang melintasi Sungai Karang Mumus dari Muara hingga ke Hulu (Bendung Benanga).

Nampak jelas bahwa pembangun jembatan, utamanya jembatan kayu yang menghubungkan antara warga dari satu sisi sungai ke sisi lainnya. Pembangunan jembatan kayu ini dalam bahasa Pak Iyau Tupang dikatakan mirip membuat pagar. “Ini mau bangun jembatan atau pagar?” katanya.

Ungkapan ini muncul karena tiang penyangga jembatan begitu rapat jaraknya antara satu dengan yang lainnya. Dan antar tiang dihubungkan dengan palang penguat yang juga begitu rapat sehingga hanya tersisa sedikit ruang untuk perahu melintas di bawahnya. Jembatan mungkin saja menjadi kuat menahan beban orang atau kendaraan roda dua yang melintas diatasnya. Namun sekaligus merupakan benteng penahan dari aneka sesampahan yang hanyut sehingga menutupi badan sungai dan tak bisa dilalui oleh perahu tanpa harus bekerja keras terlebih dahulu untuk membongkar sesampahan.

Memang yang menyusuri Sungai Karang Mumus atau yang memakai sungai sebagai jalur transportasi tak lagi sebanyak mereka yang memakai jembatan. Namun tak berarti mereka yang minoritas ini menjadi dikesampingkan dan tak dipertimbangkan dalam merencanakan pembangunan yang memakai sungai sebagai ruang.

Contoh lain yang lebih celaka adalah jalur pipa air bersih yang melintas di bawah jembatan Griya Mukti. Pipa biasanya berada tak jauh dari lantai jembatan, atau sejajar berada di samping dasar jembatan. Namun disini pipa berada jauh dibawah lantai jembatan, seperti menjadi portal penghalang bagi perahu yang akan melintas di bawah jembatan.

Bisa dipastikan para perencana dan pemasang pipa sama sekali tidak memahami salah satu fungsi sungai sebagai jalur transportasi. Mungkin mereka mengira bahwa Sungai Karang Mumus sudah mati fungsi, atau bahkan mereka sengaja ingin mematikan fungsinya.

Benar bahwa ekonomi kita saat ini lebih berkiblat ke ekonomi jalan raya. Namun sungai masih merupakan salah satu potensi ekonomi. Apa yang surut disebuah jaman bisa saja kemudian bangkit di jaman lainnya.

Mungkin memang benar tenggara banyak orang bahwa kita adalah bangsa pelupa, bangsa yang kerap melupakan apa yang dahulu berjasa untuk kita. Sungai Karang Mumus dahulu adalah sungai yang membentuk dinamika Kota Samarinda, sejarah dan kisah masa lalu perkembangan kota juga sumberdaya manusianya banyak terhubung dengan sungai ini. Namun kini mereka yang bahkan turut dibesarkan oleh sungai ini malah membunuhnya.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *