15 tepi-K150

Setelah Susur Sungai, Selanjutnya Apa?.

Gubernur Awang Faroek Ishak gagah dan tegap pada tanggal 29 Mei 2016 tetap memompakan niat untuk menyusuri Sungai Karang Mumus mulai dari Jembatan Gelatik hingga Jembatan Kehewanan. Pemandangan saat naik dan turun perahu bagi sebagian orang mengharukan atau mungkin banyak yang tak tega menyaksikannya dengan seksama.

Barangkali banyak orang di sekitarnya mencegah atau meminta Gubernur AFI untuk mengurungkan niatnya. Namun ternyata tak berhasil sehingga di siang yang panas, Gubernur AFI yang disertai oleh Sekda Provinsi dan Inspektur Jenderal KLHK dengan diteduhi payung perlahan melintasi alur Sungai Karang Mumus menempuh jarak kurang lebih 3 – 4 km.

Dalam perjalanan sesekali Gubernur AFI menunjuk-nunjuk sampah yang ada di permukaan sungai. Meminta pendampingnya untuk mengambil sampah dengan galah berjaring yang dibawanya serta. Dalam perjalanan Gubernur juga kerap melambaikan tangan kepada warga yang ada di kanan kiri sungai. Warga memang tahu bahwa akan ada ‘sesuatu’ di Sungai Karang Mumus hari itu karena sehari sebelumnya banyak spanduk dipasang di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus mulai dari Jembatan I hingga Jembatan Gelatik.

Ada puluhan perahu menyertai perjalanan susur sungai Gubernur AFI, namun sebelumnya juga sudah ada beberapa perahu hilir mudik di Sungai Karang Mumus untuk memungut sampah. Di atas perahu-perahu itu ada banyak anak-anak muda dengan rompi bertulis Pramuka Peduli. Sementara itu di sekitar Jembatan Kehewanan sejak pagi sudah ada berbagai komunitas melakukan punggut sampah. Diantaranya adalah siswa-siswa dari SMP Aminah Syukur.

Iring-iringan perahu yang menyertai perjalanan Gubernur, berisi banyak pejabat baik dari lingkungan Provinsi Kalimantan Timur maupun Kota Samarinda. Salah satunya, meski tak mencolok kehadirannya adalah Wakil Walikota Samarinda, Nusyirwan Ismail. Wakil Walikota mengendarai speed boat kuning milik DKP. Ketika melewati belakang Pasar Segiri, tepatnya di rumah potong unggas, Wakil Walikota asyik memotret dengan smartphonenya.

Sayang dalam perjalanan susur sungai ini, baik Gubernur maupun Wakil Walikota tidak sempat menepi dan berinteraksi dengan warga yang banyak berdiri di tepi sungai. Andai interaksi ini terjadi, mungkin ini bisa menjadi awal dari dialog yang lebih manusiawi dan populis antara pemimpin dengan warganya dalam mencoba mencari jalan untuk mengurai persoalan di sepanjang Sungai Karang Mumus.

Perjalanan susur sungai yang dilakukan oleh Gubernur dan deklarasi Green Growth Compact yang sebelumnya dilakukan di GOR 27 September Universitas Mulawarman, hanya dikritisi secara terbuka oleh Forum Satu Bumi. Mereka memantau perjalanan Gubernur beserta rombongan dan kemudian membentang beberapa spanduk yang salah satu isinya meminta Gubernur untuk lebih fokus menyelesaikan persoalan lubang tambang yang telah menelan korban sebanyak 24 anak sejak tahun 2011 lalu.

Spanduk di bentang mulai dari Jembatan Kayu di Gang Nibung, kemudian Jembatan Lambung dan kemudian dipasang di Jembatan kehewanan berdampingan dengan spanduk himbauan dari Gubernur agar warga tak lagi melakukan MCK di Sungai Karang Mumus.

Kurang lebih satu jam perjalanan ditempuh oleh Gubernur dan rombongan hingga akhirnya turun di pangkalan pungut Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM yang berada di samping jembatan kehewanan. Beserta kursi rodanya, Gubernur Awang Faroek Ishak diangkat oleh Satpol PP dari atas perahu hingga ke Ruang Terbuka Hijau yang berada di samping tanggul. Butuh perjuangan karena jarak antara permukaan sungai dan tanggul cukup tinggi. Sementara dermaga yang ada memang tidak dipersiapkan untuk kegiatan susur sungai pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu.

Peristiwa turunnya Gubernur, Wakil Walikota dan jajarannya merupakan angin segar untuk membangun komitment para pihak agar lebih kuat lagi dalam menjaga dan merawat Sungai Karang Mumus. Namun jika susur sungai ini tidak ditindaklanjuti dengan langkah berikutnya maka hanya akan menyisakan keramaian sesaat dan spanduk yang bergelantungan di berbagai tempat yang sebagian telah lepas tali pengaitnya sehingga susah dibaca.

Bahwa ada banyak hal strategis yang harus dilakukan untuk menyehatkan kembali Sungai Karang Mumus. Namun mengacu pada apa yang dilakukan oleh Gubernur yaitu susur sungai untuk bersih-bersih. Maka langkah bersih-bersih inilah yang semestinya ditindaklanjuti karena tak perlu rapat berlarat-larat termasuk berdebat soal anggaran.

Gubernur dan Wakil Walikota bisa mulai memerintahkan agar ‘Juma’t Bersih’ misalnya diarahkan ke Sungai Karang Mumus. Semua elemen pemerintah mulai dari Camat, Lurah dan RT yang wilayahnya dilewati Sungai Karang Mumus, melakukan kerja bakti bersih-bersih SKM setiap hari Jumat. Tidak perlu lama-lama cukup dua atau tiga jam saja. Syaratnya adalah sampah diangkat, bukan dihanyutkan.

Lalu lembaga, instansi atau badan pemerintah diminta untuk memilih satu lokasi menetap sebagai lokasi untuk kegiatan bersih-bersih pada hari Jum’at. Kegiatan bersih-bersih ini juga menjadi kesempatan bagi para abdi negara untuk berinteraksi dengan warga setempat dan mendapat berbagai informasi terkait dengan kondisi riil kehidupan warga di tempat itu. Informasi ini yang kemudian akan menjadi bahan pertimbangan untuk merencanakan kegiatan atau memutuskan kebijakan.

Selama ini pendekatan terhadap Karang Mumus hanya dilakukan dari jauh, atau kalaupun dekat tidaklah sungguh mendalam karena dalam bentuk upacara, event atau ceremony belaka. Padahal yang diperlukan adalah upaya terus menerus, menetap dan konsisten.

Soal kebersihan yang dilawan di Sungai Karang Mumus adalah kebiasaan yang sudah menetap (habit). Kebiasaan semacam ini tak akan hilang hanya dengan cara diberi tahu atau bahkan diancam hukuman sekalipun. Yang paling penting justru keteladanan yang kemudian akan menumbuhkan rasa malu yang akan berujung pada kesadaran untuk merubah perilakunya.

Andai secara menetap, berbagai instansi pemerintah beserta perangkatnya mulai dari Provinsi, Kota, Kecamatan, Kelurahan hingga RT turun di Sungai Karang Mumus untuk bersih-bersih lewat Program Jumat Bersih niscaya warga yang tinggal di sekitar lokasi kegiatan akan tergerak hatinya untuk kemudian secara perlahan tak lagi membuang sampah dan limbah langsung ke sungai.

Semoga tahun depan tak ada lagi keramaian pawai perahu yang berisi rombongan Gubernur, Wakil Walikota dan segenap pejabat, karena keramaian bersih-bersih itu terjadi setiap Hari Jumat. Dan tahun depan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia kita tak lagi merayakannya dengan bersih-bersih melainkan berceburan ke badan sungai, karena Sungai Karang Mumus tak lagi dipenuhi dengan aneka sesampahan.

@yustinus_esha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *