13494993_10209968611992312_2462558939682698987_n

Ada Apa dengan Kita?

Beberapa hari lalu saya ngopi dengan kawan yang datang dari Jakarta. Coffee shop yang kami pilih adalah gerai yang dalam istilah saya adalah kedai kopi gelombang ketiga.

Kopi gelombang ketiga adalah jenis kedai kopi yang mulai muncul di Samarinda sekitar tahun 2014 yang mengusung specility coffee dan menyajikan seduhan kopi dengan tehnik manual brewing.

Ini adalah lanjutan dari gelombang sebelumnya yaitu munculnya kedai kedai kopi waralaba baik yang berbendera asing maupun lokal nusantara.

Sementara kopi gelombang satu afalah kedai lokal yang menyajikan kopi lokal yang buka semenjak pagi hari. Salah satu dari tinggalan kopi gelombang pertama adalah warkop Ko’ Abun di jalan Pelabuhan. Namun kini Ko’ Abun tak lagi memakai biji kopi produksi Samarinda.

Saat menikmati segelas kopi gayo yang diseduh dengan metode V60, teman saya itu mengungkapkan keheranannya atas kedai yang saya sebut sebagai gelombang 3 namun tampil seadanya. Tak nampak ada banyak colokan, tidak ada gejala adanya saluran wifi serta tak nampak pula banyak riasan di dinding. Pendek kata kedai itu tampil seadanya.

Saya menjawab bahwa ini adalah tempat ngopi dan yang penting orang nyaman dengan gaya masing masing alias tampil juga apa adanya.

Ya tampil apa adanya adalah sebuah ‘perlawanan’ di tengah tampilan dan perilaku mengada ada yang jamak berkembang di Kota Samarinda.

Kota yang mengada ada ketika mendeskripsikan diri sebagai Kota Tepian dan Kota Ramah Anak. Sebagai kota tepian seharusnya semua geliat pembangunan diarahkan untuk memberdayakan sungai sebagai aset pengendali banjir dan sumber cadangan air bersih.

Namun sungai justru dibunuh dengan gelontoran sedimentasi akibat pengbongkaran dan alih fungsi lahan. Pun juga sungai tak dimerdekakan sebab wilayah sungai tak benar benar diatur mulai dari hulu hingga hilir. Sungai kehilangan daerah penyangga, perlindungan juga resapan.

Lalu bagaimana kota ini mau dianggap ramah anak jika diseantero kota dipenuhi oleh lubang lubang eks tambang batubara yang ditinggalkan begitu saja oleh para pengeruknya. Dan sekurangnya sudah 15 anak tewas karena tenggelam di kedalamannya.

Lalu apakah tak mengada-ada ketika sudah puluhan bocah tewas baru mengerakkan para wakil rakyat untuk membuat pansus investigasi korban lubang tambang.

Dengan segala simberdayanya seharusnya Samarinda tak perlu memaksa untuk menjadi kota metropolitan dengan aneka bangunan mall yang besar besar, hotel yang menjulang tinggi atau kompleks kompleks perumahan yang maha besar. Semua yang akan membangun dengan model ‘mematangkan lahan’ alias mengempur bebukitan arau mengusur ruang terbuka hijau juga area yang semestinya dicadangkan untuk hutan kota.

Belum lagi semua terwujud lagi lagi muncul wacana Green and Clean City plus Smart City. Sebuah wacana yang sungguh cerdas, yang mungkin lahir dari orang orang cerdas yang kemana mana membekali diri dengan gadget cerdas pula.

Namun ide ide cerdas itu sesungguhnya cermin bahwa sudah habis kecerdasan kita. Karena kita ingin selalu jadii yang terdeoan tapi tak mempersiapkan pondasi untuk menopangnya.

Bagaimana kita akan berkembang menjadi kota cerdas jika kebutuhan pokok seperti air bersih dan pasokan energi kembang kempis serta bikin warga jadi stress.

Dan bagaimana pula kita akan berkembang jadi masyarakat yang cerdas apabila panas selalu menimbulkan kebakaran sementara sedikit hujan saja bakal membuat kita kebanjiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *