13620092_10210080500829463_4122209784126932265_n

Melimpah Sampah di Hari Penuh Berkah

“Selepas open house di rumah jabatan. Saya bersama tim dari Dinas Binamarga dan Pengairan, langsung menuju Jl. Teuku Umar, Depan Pasar Kedondong Jl. Ulin, dan Depan Kelurahan Loa Bakung Jl. Jakarta untuk membersihkan sampah yang menumpuk di TPS yang berada di tepi jalan yg padat kendaraan. Dalam beberapa jam total sampah yang berhasil dibersihkan kurang lebih 130 ton. Malam ini juga semua sampah yang tertumpuk di TPS harus dibersihkan. Kami juga menghimbau kepada semua warga untuk tetap membuang sampah sesuai dengan jadwalnya mulai pukul 18.00 sampai 06.00. Karena kebersihan dan keindahan kota adalah tanggungjawab kita bersama. Bersama kita bisa”.

Rangkaian kalimat diatas adalah status yang diposting oleh Walikota Samarinda di halaman facebooknya (Syaharie Jaang) pada Kamis, 7 Juli 2016 jam 20.17. Postingan itu disertai dengan 13 foto yang menunjukkan kegiatan Walikota Samarinda membersihkan sampah. Selain mengerahkan armada pengangkut, alat berat juga digunakan untuk mempercepat proses pembersihan.

Walikota bukan sedang melakukan kegiatan yang normal, aksinya mengajak tim dari Dinas Binamarga dan Perairan , entah kenapa bukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Samarinda, adalah respon atas keluhan warga akibat tumpukan sampah di TPS yang tidak diangkut oleh petugas hingga hari kedua Lebaran.

Hari Raya Lebaran atau Idulfitri seharusnya menjadi hari penuh berkah namun di Samarinda justru dipenuhi oleh sampah. Sampah yang menumpuk dan luber ke badan jalan bukan hanya membuat ramai kendaraan warga yang berhalal bihalal menjadi terharu, melainkan mereka juga harus menutup hidup saat melewatinya.

Adalah jamak jika di hari-hari menjelang peringatan Hari Raya Lebaran, volume sampah jauh lebih meningkat. Sebab menjelang lebaran, kebanyakan warga melakukan bersih-bersih rumah, menganti perabot rumah tangga dengan perabot baru. Dan perabot lama yang sudah usang atau rusak akan dibuang.

Dan TPS kemudian menjadi sasaran tempat membuang semua barang-barang itu. Maka bukanlah pemandangan asing jika di TPS bertumpuk kasur, spring bed, bantal, guling, kursi hingga sofa rusak sampai aneka sandal dan sepatu yang tak dipakai lagi.

Sementara TPS umumnya terletak di pinggiran jalan dan dengan perilaku pembuang sampah yang enggan meletakkan sampahnya baik-baik di dalam bak, maka tak heran jika sampah kemudian meluber ke badan jalan.

Jumlah TPS yang terbatas, membuat sampah-sampah yang berada di TPS seharusnya diangkat dua kali sehari, yaitu pagi dan sore/malam hari.

Namun sejak dua hari sebelum lebaran, armada pengangkut tak beroperasi. Mereka libur dan meliburkan diri. Konon aksi ini dipicu karena ketiadaan upah lembur untuk kerja mereka di hari libur. Dan hasilnya adalah tumpukan sampah di mana-mana.

Kemudian ada sekelompok warga yang meradang. Misalnya warga di sekitar Pasar Kedondong yang kemudian malah menumpuk sampah di jalanan sehingga jalan tertutup tak bisa dilalui kendaraan.

Adalah benar bahwa warga kurang tertib dalam membuang sampah, bukan hanya soal jam buang melainkan juga barang yang dibuang serta cara membuangnya.

Maka menjadi benar apabila Walikota memberi himbauan untuk membuang dengan tertib dan mengajak warga menjaga kebersihan serta keindahan kota sebagai tanggungjawab bersama.

Namun seandainya warga tertib membuang sampah, tumpukan sampak yang mengesankan kejorokan di Hari Raya Lebaran juga tak bakal terhindar andai sampah tidak diangkut setiap hari. Dan adalah tugas pemerintah melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk memastikan ketersediaan infrastruktur dan sumberdaya untuk pengelolaan sampah perkotaan.

Maka peristiwa menumpuknya sampah di segala penjuru kota hingga Hari Lebaran kedua adalah bentuk kegagalan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan dalam menjalankan tugas serta tanggungjawab yang dimandatkan kepadanya. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan nampaknya menyerah dengan mengatakan tidak mempunyai biaya operasional akibat defisit anggaran.

Mungkin benar bahwa APBD Kota Samarinda sedang tidak sehat, namun kebersihan adalah hal utama dan sebenarnya tak butuh anggaran bermilyard rupiah untuk mengangkat dan mengangkut sampah dari TPS ke TPA.

Aksi Walikota Samarinda di Hari Raya Lebaran Kedua memang menuai tanggapan positif dari warga. Namun aksi ini sesungguhnya ambigu, sebab selain tak banyak menolong mengatasi kondisi yang ada juga membeber betapa bobroknya manajemen sampah di Kota Samarinda. Nampak menjadi jelas bahwa tak ada strategi atau rencana menghadapi darurat sampah.

Minim Kreatifitas Untuk Menggalang Partisipasi Warga

Setahun terakhir ini di Kota Samarinda banyak digelar berbagai event dengan label kreatif. Kreatifitas seolah dipahami hanya dalam bentuk gebyar gemebyar. Kejadian darurat sampah menunjukkan ketiadaan kreatifitas dari pihak yang bertanggungjawab untuk mencari jalan keluar.

Soal yang disebut dengan defisit anggaran yang berujung pada ketiadaan dana operasional bukanlah sesuatu yang ujug-ujug. Kas kosong tentu tak diketahui satu atau dua jam sebelumnya. Ancaman bahwa sampah yang menumpuk dan bakal tak terangkut pasti sudah diketahui beberapa hari sebelumnya sehingga masih membuka ruang antisipasi.

Dan dalam waktu yang masih tersisa beberapa hari itu seharusnya kreatifitas dikembangkan. Misalnya dengan mengalang partisipasi publik untuk turut membantu mengangkut sampah dari TPS ke TPA. Ada banyak komunitas di Kota Samarinda yang bisa digerakkan. Dan terbukti ada beberapa komunitas atau pribadi yang bergerak untuk mengangkut sampah di lingkungannya ke TPA.

Konon Walikota bergerak karena memantau keluhan netizen di sosial media. Kenapa tidak dibalik atau menggunakan sosial media dan saluran komunikasi lain yang dipunyai oleh Pemerintah Kota untuk menggalang partisipasi warga.

Hari Raya Lebaran adalah saat untuk saling memaafkan, saat dimana siapapun mengakui kesalahan atau kekurangan. Maka tak ada salah lewat saluran komunikasi yang ada Pemerintah Kota mengakui ketidakmampuannya untuk mengangkut sampah dari TPS ke TPA misalnya dari H-2 hingga H+2. Dan kemudian meminta bantuan warga atau komunitas untuk menjadi sukarelawan.

Sukarelawan misalnya untuk menyediakan angkutan (truk atau mobil bak terbuka dengan bensinnya), sopir dan tenaga pengangkat sampah. Dengan data TPS yang ada di Dinas Kebersihan dan Pertamanan plus lokasi-lokasinya maka bisa diperkirakan jumlah kendaraan serta tenaga yang diperlukan. Dan semua itu bisa dilakukan lewat gadget bernama Smartphone sehingga tak akan menganggu persiapan atau perayaan Hari Lebaran dari pejabat yang bertanggungjawab.

Mengakui kekurangan dan kemudian menggalang partisipasi nyata dari warga atau komunitas untuk urusan kebersihan dan keindahan kota bukanlah hal yang nista. Sebab kebersihan dan keindahan kota adalah tanggungjawab bersama. Yang diperlukan hanyalah manajemen atau tata kelola untuk menggalang dukungan atau partisipasi nyata itu. Dan Pemerintah Kota mempunyai infrastruktur untuk itu baik infrastruktur teknologi maupun kepemerintahan hingga ke level terkecil yaitu Rukun Tetangga.

Tumpukan sampah di Hari Raya Lebaran ini bukan peristiwa kebakaran atau longsor di satu tempat maka kehadiran pucuk pimpinan tertinggi tak akan banyak menolong, sebab yang hanya mampu diatasi hanyalah 3 atau 4 TPS saja. Padahal ada ratusan TPS di seluruh penjuru kota yang butuh tindakan massal bersama.

Maka bersama kita bisa sebagai slogan tak akan berarti apa-apa jika tidak ada inisiatif dari penanggungjawab urusan untuk mengoperasionalisasikannya.

Di hari puasa kita diuji untuk menahan nafsu, menahan lapar dan haus. Dan ujian itu belum usai di saat Hari Raya Lebaran yang seharusnya menjadi hari penuh berkah. Sampah bukan hanya menguji keimanan sosial kita melainkan juga menguji dalil yang kerap diucap dalam berbagai pidato dan seminar-seminar tentang participatory governance.

Dan terbukti, apa yang terjadi terkait sampah hingga Hari Raya Lebaran Kedua ternyata kita gagap dan gagal dalam mewujudnyatakan kepemerintahan yang partisipatif. Maafkan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *