Jadilah Penelusur Kota : Ada Banyak Kisah Di Sekitar Kita

Percayalah, tanpa keluar rumah sekalipun kita bakal menemukan banyak kisah. Mari kita mulai saja dari dua hal yaitu listrik dan air yang merupakan hajat hidup orang banyak namun jarang dibicarakan di sidang paripurna wakil rakyat atau dipidatokan oleh walikota kita.

Untuk listrik, kita warga Kota Samarinda yang katanya kaya dengan sumber energi, berapa kali dalam sebulan uring-uringan karena tiba-tiba saja listrik padam tanpa pemberitahuan. Listrik yang padam tiba-tiba bukan hanya membuat kita ketinggalan acara yang menarik di layar televisi melainkan bisa juga membuat televisi tak mau menyala lagi, rusak akibat kejutan listrik.

Nah untuk urusan air, Kota Samarinda sejatinya tak kekurangan air. Di kota ini mengalir sungai Mahakam yang tak pernah kering, dan saat diguyur hujan tak butuh waktu lama untuk muncul genangan air dimana-mana. Tapi benarkah, kebutuhan air bersih yang disangga oleh PDAM sudah mampu memenuhi kebutuhan warganya?. Banyak keluarga terganggu tidur malamnya karena menunggu aliran air PDAM yang harus ditarik dengan pompa listrik. Di daerah tertentu suara pompa air sahut sahutan bak orkestra yang terkadang membuat telinga sakit. Jadi soal air PDAM jangankan bermimpi untuk meminum langsung dari kran, berharap air mengalir di siang hari saja tak juga terwujud.

Soal listrik dan air sebagai kebutuhan dasar masyarakat memang bukan soal sederhana. Hanya saja kerap dilupakan karena para pembesar lebih sibuk dalam perbincangan tentang Dana bagi Hasil, Blok Mahakam dan Otonomi Khusus. Padahal soal listrik dan air tidak bisa diselesaikan secara cepat karena membutuhkan penanganan yang terpadu. Maka tak ada cara lain untuk membuat soal penting yang tak terlalu diperhatikan, menjadi menarik perhatian pihak yang berwenang selain terus menerus disuarakan. Disuarakan kepada sesama warga, kemudian kepada eksekutif, legislatif dan kemudian ke BUMN dan BUMD yang mengurusi kedua hal itu.

Tak perlu orasi atau demo untuk menyampaikan aspirasi

Dulu ketika teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang pesat, untuk menyampaikan aspirasi, kekecewaan dan harapan, kebanyakan orang akan mengorganisir diri dan kemudian ‘ngeluruk’ ke instansi tertentu dalam bentuk demonstrasi. Satu dua orang menyampaikan pesan dengan berapi-api, terkadang diselingi dengan caci maki. Alih-alih mendapat perhatian, sebagian dari aksi yang disertai orasi itu berakhir dengan dibubarkan oleh polisi.

Mereka yang tidak hobby demonstrasi barangkali akan memilih cara yang lebih lunak, misalnya dengan mengirim surat pembaca ke media massa. Tapi mengirim surat pembaca tak ada jaminan akan dimuat, atau kalaupun dimuat kita tak tahu kapan karena semua tergantung kepada redaktur dari media massa yang dikirimi surat pembaca. Tentu ada banyak surat pembaca yang diterima setiap hari, sementara ruangnya terbatas, lagi pula ruang surat pembaca kerap kali disunat atau direbut oleh ruang iklan.

Nah, ruang untuk bersuara itu sekarang semakin lebar karena perkembangan dunia internet dengan munculnya berbagai aplikasi yang memungkinkan kita untuk berbagi pesan, mempublikasikan apa saja yang menurut kita penting untuk diketahui oleh orang lain. Dengan modal smartphone dan paket data serta account sosial media, kisah dan cerita kita bisa diakses oleh mereka yang terhubung dengan kita.

Dalam era sosial media, makro dan mikro blog, menjadi peka, ceriwis dan rewel tak perlu takut akan suara menjadi serak atau tenggorokan menjadi sakit. Kita tak perlu teriak-teriak mengumbar suara lewat megaphone melainkan biasakan jari menari di tuts keyboard yang kini umumnya adalah virtual.

Reporter Kota, Pewarta Sukarela

Sebagian besar dari kita adalah pemakai mobilephone, maka bisa dipastikan juga termasuk dalam kategori mobile people. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain, klik sana sini, entah hanya sekedar narsis atau apapun. Adalah sia-sia belaka kalau perjalanan kita dari satu tempat ke tempat lain, melihat, bertemu atau berbincang tentang berbagai hal kemudian menguap begitu saja.

Mungkin ada yang berkata “Apalah arti informasi dari saya di tengah pusaran informasi lainnya?”. Sebuah pertanyaan yang wajar ketika kita mencoba menghitung posisi kita dalam pekabaran. Dihadapkan dengan media yang terlembaga pasti kita kalah, dihadapkan dengan para seleb informasi pasti kita tumbang. Jangan berkecil hati, apa yang kita publikasikan melalui internet akan di indeks dan terus tersimpan dalam mesin pencari. Jadi apa yang kita wartakan kemudian ditemukan oleh seseorang atau bahkan media tertentu kemudian akan menjadi umpan untuk ditindaklanjuti dan disebarluaskan.

Bicara soal posisi dalam pekabaran, kenapa kita tidak memilih menjadi penelusur kota agar kisah, warta dan cerita kita tak perlu bersaing dengan para pewarta profesional yang bekerja di media mainstreams. Para pewarta profesional umumnya mangkal di perkantoran tertentu, punya pos-pos berita untuk mengejar aktualitas. Tak perlu kita melawan itu, jika kita tak punya energi yang cukup. Pilihlah isu-isu yang awet, tidak menuntut aktualitas, waktu yang longgar dan tak penting untuk dilakukan konfirmasi ke sumber tertentu.

Kisah seorang penelusur kota barangkali adalah kisah yang ringan bukan sebuah telaah masalah yang begitu dalam. Tapi tidak berarti itu tidak penting, karena di balik kisah selalu saja ada makna yang bisa diambil ada suara-suara yang mungkin saja lebih penting dari pada nota tanggapan fraksi di gedung dewan perwakilan rakyat.

Mulailah dengan kisah sederhana namun nyata. Seperti misalnya kisah anak-anak penjual koran di perempatan, yang semakin hari semakin banyak dan bekerja hingga larut malam. Atau kisah kudapan tertentu di kedai-kedai yang tidak terkenal. Atau cerita tentang ‘taman lampu’ di tepian yang membuat sebagian kota ini hanya indah di malam hari. Atau kisah halte-halte baru yang dibangun untuk para penumpang kendaraan umum yang bisa jadi merana karena sepinya angkutan kota.

Melihat dengan hati adalah laku yang penting untuk penelusur kota. Bukan semata menangkap rupa di permukaan belaka. Sebuah kisah tentu saja bisa menjadi bias apabila tak disampaikan dengan kepekaan yang dalam. Semisal ‘danau bekas tambang’ yang kemudian dipromosikan sebagai lokasi wisata baru. Tampakannya mungkin indah, air yang tenang dan kehijauan. Namun perlu ditelusuri lebih jauh ke dalam, kenapa danau itu ada, ada apa di balik hijaunya warnanya, adakah bahaya yang terkandung di dalamnya?. Mempromosikan sesuatu yang ‘berbahaya’ menjadi tempat wisata baru tentu saja bukan kisah yang mulia. Jangan lupa, danau-danau bekas tambang yang mengoda itu telah menelan 9 jiwa anak, generasi muda Samarinda.

Kalau ada yang berkilah bahwa Samarinda kekurangan tempat wisata, mungkin bisa juga dimaklumi. Tapi apapun sebenarnya bisa menjadi tempat wisata. Toh sekarang ada yang disebut wisata kuliner, wisata baca, wisata belanja, wisata olahraga dan lain sebagainya.

Untuk para pengemar icip-icip Samarinda menyimpan banyak kekayaan rasa. Dengan penduduk yang beragam asal usulnya tentu saja mereka membawa kekayaan kuliner daerahnya masing-masing. Ambil contoh Soto, mulai dari Soto Ayam hingga Soto Sapi dengan label Coto Makassar, Soto Lamongan, Soto Betawi, Soto Banjar, Soto Betawi, Soto Madura hingga Soto Semarang. Pun demikian dengan Nasi Kuning, ada yang bergaya Banjar, Jawa dan Sulawesi.

Yang suka belanja, Samarinda memanjakan para sophaholic dengan muncul pusat-pusat perbelanjaan modern. Mall tumbuh di mana-mana menjadi katedral baru pecinta modernitas berkumpul dan bercengkrama, mendinginkan badan, menghabiskan waktu sambil cuci mata. Tapi jangan lupa Samarinda punya tempat belanja unik yang disebut pasar malam juga pasar subuh. Pasar dengan keunikan tersendiri yang tidak dijumpai di pasar-pasar modern. Jajanan, sayuran, buah-buahan dan daging-dagingan yang unik bisa dijumpai di pasar-pasar itu.

Pendek kata Samarinda banyak menyimpan sudut-sudut yang luput dari pengamatan baik para pewarta profesional maupun para pengambil kebijakan. Padahal sudut-sudut itu yang sesungguhnya menyimpan kehidupan sejati kota Samarinda. Suara dari sudut-sudut itu adalah suara asali yang jarang didengarkan atau dipertimbangkan dalam segenap aspek pembangunan dan pengembangan kota. Dan inilah ruang bagi para penelusur kota untuk membantu menyampaikan suara dari mereka yang selama ini tidak bersuara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *