Tag Archives: Anak Tenggelam

Korban13 5

Petaka : Celaka ke 13

Sehari menjelang pemilihan kepala daerah serentak, Kota Samarinda lagi-lagi dikejutkan dengan berita hilangnya seorang remaja di lubang bekas tambang batubara. Koko, demikian panggilan akrab dari remaja, Siswa SMK 1 Sanga-Sanga Kutai Kartanegara, tidak naik ke daratan setelah berenang di lubang bekas tambang yang berlokasi di Bentuas, Palaran, Samarinda.

Dari cerita teman-temannya, mereka sudah tiga kali pergi ke lubang bekas tambang batubara. Lubang itu bahkan dikenal dengan nama lubang ‘Derawan’ karena airnya nampak jernih dan menghijau dari atas. Mirip dengan lautan di kepulauan Derawan yang dikenal sebagai lokasi wisata laut terkenal di Kalimantan Timur.

Lubang bekas tambang batubara yang dibiarkan selama bertahun-tahun, tanpa tanda peringatan bahaya dan pengawasan jumlahnya bukan satu atau dua, melainkan puluhan dan tersebar di Kota Samarinda. Beberapa lubang bahkan menjadi viral di sosial media sebagai tempat wisata, lokasi untuk berfoto-foto baik ramai-ramai maupun selfie.

Tanggal 18 November 2015, di lokasi yang berbeda, hilang juga nyawa seorang pelajar SMP. Wulan demikian nama panggilannya juga pergi ke lubang bekas tambang batubara itu bersama teman-teman sekolahnya sepulang sekolah. Niatnya untuk melihat pemandangan sambil berfoto-foto.

Namun air selalu menarik perhatian anak-anak dan remaja. Watak mereka adalah mencoba-coba dan tidak terlalu peduli pada resiko yang ada di balik air lubang bekas tambang batubara itu. Keterkenalan lolasi itu sebagai tempat ‘wisata’ membuat mereka abai pada bahaya dibalik lubang bekas tambang batubara. Mereka menganggap lubang bekas tambang batubara bak danau alami, yang dimulai dari tepian landai hingga makin lama makin dalam. Padahal, lubang bekas tambang tidak seperti itu, tak selalu dimulai dengan pinggiran yang dangkal.

Pembiaran, ya lubang bekas tambang batubara adalah cermin dari pembiaran. Yang pertama membiarkan adalah para penambang, yang berlaku bak perampok, setelah mengeruk lalu pergi dan menghilang. Yang kedua tentu saja instasi yang berwenang, yang melakukan pembiaran dengan tak melakukan pengawasan termasuk memberi papan peringatan. Undang-Undang Lingkungan Hidup mengisyaratkan lingkungan yang berbahaya entah karena lokasi maupun kandungan di dalamnya harus diberi peringatan agar warga atau masyarakat tidak salah berlaku di lokasi itu.

Dari tahun 2011 hingga tahun 2015 ini sudah 13 anak dan remaja yang meninggal karena tenggelam di lubang bekas tambang batubara. Komisioner Komnas HAM, dalam konsultasi publik RAN HAM Bisnis baru-baru ini menyebut Kota Samarinda sebagai Kota Terjahat soal HAM karena terus melakukan pembiaran atas tewasnya anak-anak di lubang bekas tambang batubara tanpa penyelesaian.

Dalam catatan Jatam Kaltim misalnya hanya ada satu kasus yang sampai ke meja peradilan. Sementara kasus lainnya tidak ada perkembangan. Nampak tidak ada terobosan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun penegak hukum untuk membawa kasus ini menjadi kasus hukum yang menjerat pemilik atau pengusaha tambang.

Saya jadi ingat cerita guru saya dahulu, bahwa sesuatu disebut celaka kalau sudah 13 kali berulang. Maka dikenalah istilah celaka 13. Dan kematian Koko yang ditemukan dalam kedalamam 8 meter setelah kurang lebih 24 jam pencarian, adalah kematian yang ke 13 bocah dan remaja di lubang bekas tambang batubara yang tersebar di seantero Kota Samarinda.

Maka ini bukan lagi tanda awas lagi buat semua pemangku kepentingan. Ini adalah bukti yang tak bisa dihindari bahwa Kota Samarinda ini dikendalikan oleh para pembuat celaka. Celaka yang menjadi petaka bagi generasi masa depan yang harus mengakhiri impian akan masa depan yang cerah karena tenggelam di lubang bekas tambang batubara.

@yustinus_esha

Debat Kandidat, Kunjungan Presiden dan Korban ke 12 Bekas Lubang Tambang Batubara di Samarinda

Evakuasi 12

Tadi malam (Rabu, 18 November 2015) lewat layar TVRI Kaltim bisa disaksikan siaran langsung Debat Kandidat Calon Walikota Samarinda periode 2015 – 2020. Debat kandidat yang berlangsung di salah satu hotel berbintang ternama itu berlangsung meriah, utamanya diantara pendukung kedua … read more

Samarinda, Menjauhnya Rasa Aman dan Nyaman

Kota Cerdas  Sumber : Internet

Ketika pertama kali tinggal di Samarinda pada akhir tahun 2002, saya masih bisa merasakan air PDAM mengalir sendiri. Tidak seharian penuh, melainkan menetes tak terlalu kencang pada jam tertentu. Sesekali airnya cukup kencang dan bertenaga sehingga mampu mengisi tandon air … read more