Tag Archives: baliho

13935128_10210349924204879_1703830857365424909_n

Dari Sungai Merabu ke Sungai Martapura

Pertengahan bulan Juli 2016, saya berkesempatan jalan-jalan ke Kabupaten Berau. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Kampung Merabu, yang terletak di Kecamatan Kelay. Kampung yang bisa dicapai kurang lebih 2 jam dari Jalan Poros Berau – Kutim ini dikelilingi oleh hutan dan dibentengi oleh perbukitan karst.

Setelah istirahat semalam, keesokan paginya saya menyusuri sungai yang mengalir di samping kampung. Sungai dengan air yang jernih dan beralaskan bebatuan. Sungai ini merupakan jalur transportasi bagi warga untuk pulang pergi ke ladang atau berburu ke dalam hutan.

Di antara rintik-rintik hujan perahu ketinting mulai melaju menyusuri Sungai Merabu (Sungai Lesan). Di pinggiran sungai tak nampak ada jamban. Sesekali terlihat kumpulan warga sedang mandi atau mencuci. Setelah itu kanan kiri sungai diwarnai oleh rimbunnya pepohonan, pada beberapa titik terlihat pohon bertumbangan karena ditebas oleh warga untuk berladang. Beberapa batang pohon terlihat roboh hingga mencapai badan sungai.

Dedi, anak muda yang membawa perahu harus tetap berkonsentrasi disela-sela berbagai pertanyaan yang saya ajukan padanya. Pasalnya di beberapa titik, ada bagian dangkal dan bergelombang. Jika tidak tepat mengambil jalur maka perahu akan kandas dan harus didorong agar bisa melewati tempat yang dangkal.
Semakin ke atas, sungainya semakin jernih, tak nampak adanya sampah.

Pemandangan juga semakin asri, karena pepohonan semakin rimbun dan beragamam jenisnya. Sesekali nampak berbagai jenis burung melintas atau bertengger diatas dahan dan bebatuan. Tebing sungai dengan aneka formasi batu juga semakin membuat mata tak mau melepas pandang.

“Ini baru sungai,’ ucap saya dalam batin.

Ya, sungai yang masih terjaga akan selalu indah dan tidak perlu diperindah dengan apapun untuk menarik perhatian. Mungkin saja sungai ini masih terjaga karena letaknya ada di pedalaman, jauh dari keramaian dan hanya ada sedikit pemukiman di tepiannya.

Bisa jadi kenyataannya memang demikian, tapi itu tak selalu benar. Sebab sungai terjaga tidak selalu terkait dengan jumlah orang atau kampung di tepiannya, melainkan lebih karena pola penggunaan lahan dan ekploitasi terhadap sungainya. Sungai di pedalaman dan tak ada kampung di tepiannya bisa saja tetap rusak apabila hutan pelindung di kanan kirinya dibabat habis entah untuk tambang atau perkebunan sawit.

Sungai di bagian hulu meski tak ada kampung atau aktivitas penduduk, bisa juga hancur apabila bebatuan dan pasirnya ditambang. Jadi sungai di Kampung Merabu lebih terjaga karena kultur warganya yang tidak melakukan ekploitasi secara berlebihan. Mereka membuka lahan hutan di kanan kiri sungai tidak berlebihan, membuka sesuai dengan kekuatan dan kebutuhan sehingga tak akan lebih dari 2 hektar. Mereka mengambil ikannya bukan untuk memperoleh pendapatan, melainkan untuk dikonsumsi. Kalaupun ada kelebihan yang dijual itu hanya akan dijual di dalam kampung.

Mereka memilih secara sadar untuk menjaga dan merawat sungainya yang memang masih indah, bukan untuk diekploitasi sumberdayanya melainkan dillestarikan agar dapat memberi manfaat secara berkelanjutan sebagai sarana transportasi air, sumber air bersih, tempat menangkap ikan dan sebagai lokasi ekowisata. Dan dari kegiatan ekowisata, anak-anak muda semacam Dedi bisa mendapatkan penghasilan dari ongkos sewa perahu, guide ke lokasi wisata danau nyadeng atau gua karst, juga jasa porter ketika mengangkat barang bawaan pengunjung ke lokasi-lokasi wisata itu.

Tak lama sesudah pulang dari Berau, saya lagi-lagi berkesempatan untuk mengunjungi Kota Seribu Sungai yaitu Kota Banjarmasin. Saya memilih untuk tidak mengunjungi pasar apung, melainkan mengikuti kegiatan susur sungai yang dimulai dari Sungai Martapura masuk Sungai Kuin dan berakhir di muaranya yang ada di Sungai Barito.

Tentu Sungai Martapura, Sungai Kuin dan Sungai Barito berbeda dengan sungai yang mengalir di Kampung Merabu. Airnya coklat dan di pinggiran sungai banyak terdapat permukiman. Arus lalulintas sungainya juga lebih ramai. Sungai Barito banyak dilalui kapal-kapal besar dan ponton, mirip dengan sungai mahakam. Sementara Sungai Kuin yang menghubungkan antara Sungai Martapura dan Sungai Barito disisi kanan kirinya dipadati dengan permukiman.
Permukiman di Sungai Kuin mirip dengan yang ada di Sungai Karang Mumus. Warga juga kelihatan memanfaatkan airnya yang coklat untuk MCK. Bocah-bocah bermain dengan terjun dan mandi-mandi di sungai. Banyak juga jamban apung di belakang rumah. Yang membedakan adalah sesampahan. Meski ada sampah namun sampah di Sungai Karang Mumus jelas lebih mencolok kehadiran dan bentuknya.

Sungai Martapura tidak selebar Sungai Barito atau Sungai Mahakam, lalu lintasnya juga tak seramai di kedua sungai itu. Yang nampak hilir mudik adalah perahu kelotok serta perahu ketinting. Ada yang mengangkut siring (kayu), ada pula yang menebar pancing seskali terlihat melintas pedagang membawa barang diatas perahu.

Di tepi Sungai Martapura ini, Pemerintah Kota Banjarmasin membuat sebuah taman yang dinamakan sebagai Taman Siring. Mirip dengan kawasan di tepi Sungai Mahakam yang ditata dengan nama Tepian. Selain taman memanjang dengan jalur jalan untuk jogging dan area untuk duduk-duduk bercengkaram, di taman siring ini ada sebuah bangunan tinggi yang disebut menara pandang. Menaiki bangunan itu kita bisa memandang kesekitaran Sungai Martapura dari ketinggian.

Pada sisi lain ada undak-undakan panjang menuju ke sungai, untuk turun ke dek tempat tambatan perahu. DI lokasi ini setiap hari Minggu diadakan pasar terapung. Siapapun yang kebetulan ingin berkunjung dan tepat waktunya tak perlu menyewa perahu untuk pergi ke pasar apung di Muara Sungai Kuin atau Lok Intan. Pasar apung di Taman Siring menjadi lebih mudah diakses dan terjangkau untuk siapapun, meski hanya satu minggu satu kali.

Jika tidak sedang ada pasar apung, dek di taman siring menjadi dermaga untuk deretan kapal klotok. Kapal yang bisa disewa untuk menyusuri sungai dengan rute yang dikehendaki. Umumnya adalah menyurusi Sungai Martapura, masuk ke Sungai Kuin hingga ke muaranya di Sungai Barito. Kalau mau bisa juga dilanjutkan menuju Pulau Kembang, pulau yang berisi banyak monyet.

Tarif perahu kelotok antara Rp. 150.000 hingga Rp. 350.000 per perahu tergantung tujuan dan lamanya perjalanan. Hitungan tarif itu per perahu yang bisa diisi hingga 15 orang. Dengan demikian jika dihitung rata-rata per orang tidaklah terlalu mahal untuk perjalanan susur sungai paling tidak selama satu jam.

Membandingkan pengalaman di Kampung Merabu dan Kota Banjarmasin, muncul sebuah angan-angan dalam benak perihal Kota Samarinda. Selama ini teman-teman di Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM telah menginisiasi wisata di Sungai Karang Mumus. Memang masih setengah mati dan belum menunbuhkan alternatif pendapatan bagi banyak warga dalam hal penyediaan sewa perahu.

Belajar dari Kampung Merabu dan Kota Banjarmasin, wisata susur sungai di Samarinda dan pasar apung untuk keperluan wisata di hari Minggu atau hari libur memungkinkan untuk dikembangkan di tepian Sungai Mahakam yang kemudian dikoneksi dengan perjalanan susur sungai di Sungai Karang Mumus.
Alur perjalanan susur sungai bisa di mulai dari tepian Sungai Mahakam ke arah Jembatan Mahakam I kemudian berbalik ke arah Jembatan Mahakam Kota II, lalu kembali dan masuk muara Sungai Karang Mumus untuk kemudian menyusuri Sungai Karang Mumus melihat kehidupan di tepiannya.

Soal penyedian jasa pengantaran dan rute tentu saja bisa dikembangkan oleh masyarakat atau penyedia jasa wisata, namun pada masa awal, pemerintah harus terlibat terutama dalam menyediakan sarana atau prasarana dermaga dan area taman yang memadai untuk pengunjung.

Namun tidak selalu pemerintah harus memulai dari nol sebab kawasan tepi sungai yang berada di pasar pagi bisa dimodifikasi untuk mewujudkan kawasan wisata susur sungai di Kota Samarinda.
Bicara soal potensi, wisata susur sungai di Kota Samarinda bisa dipadukan dengan wisata sejarah, religius dan budaya. Dengan berkendara perahu kita bisa menyusuri sungai lalu mampir ke Islamis Centre dan kemudian ke Masjid Tua di Samarinda Seberang serta Kampung Tenun.

Banjarmasin menyebut diri sebagai Kota Seribu Sungai dan telah membuktikan komitmentnya untuk menjadikan sungai sebagai sumberdaya yang lestari. Kota Samarinda menyebut diri sebagai Kota Tepian, yang meski berarti Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman, sebenarnya juga mengandung makna kota ini berada di tepi sungai, sungai adalah beranda depan kota (Water Front City). Tapi sejauh mana Kota Samarinda memberdayakan dan menghormati sungainya?.