Tag Archives: coffee house

Memperbincangkan aroma dan rasa kopi

#coffeeducation : Kota dan Kopi untuk Semua

Memperbincangkan aroma dan rasa kopi

Memperbincangkan aroma dan rasa kopi

City for all. Kalimat pendek ini bisa jadi tidak sesederhana artinya. Kata-katanya boleh saja singkat tetapi latar belakang yang mendasari munculnya slogan ini jelas sebuah perjalanan refleksi dan pemikiran yang panjang.

Kota selalu didefinisikan sebagai lapangan modernitas, segala sesuatu mencerminkan tanda kemajuan paling muktahir. Maka kota selalu dipandang melebihi segala-galanya dari apa yang ada di desa. Tapi kota yang serba memuaskan dan maju adalah sebuah angan-angan. Banyak kota membangun dirinya dengan melupakan siapa saja yang tinggal, hidup dan menghidupi kota itu.

Samarinda, setiap saat di layar televisi lokal Sang Walikota selalu mengiklankan kota yang dipimpinnya sebagai Kota Jasa. Dijanjikan olehnya kemudahan-kemudahan yang akan diberikan bagi siapa saja yang akan berinvestasi di kota ini. Pertanyaannya, Samarinda akan menjadi kota jasa apa?. Dan siapakah yang akan disasar sebagai investor di kota ini dan kemudahan apa yang akan didapatkan oleh mereka?.

Memposisikan kota Samarinda sebagai kota jasa, tentu saja mudah untuk dikatakan. Namun jasa adalah jenis layanan yang sangat luas dan tentu harus diurai secara spesifik agar menjadi semakin terang bagi semua pihak. Sebab tak mungkin cita-cita sebagai kota jasa akan terwujud kalau penduduknya tak sadar dan turut mendukung perwujudannya.

Ambil contoh, misalnya saja Samarinda ingin menjadi kota jasa wisata. Maka tugas dari pemerintah adalah memastikan ketersediaan infrastrukturnya, sarana dan prasarana pendukungnya seperti jalan, pelabuhan, pasokan listrik, bahan bakar, lapangan udara yang bagus sehingga mobilitas wisatawan tak terganggu. Kemudian sektor swasta atau investor membangun tempat wisata, hotel, layanan angkutan, layanan ekpedisi, rumah makan, paket tour dan seterusnya. Sementara penduduknya tentu saja harus sadar wisata, mengerti daerahnya, memelihara tradisi atau budaya, menjaga kehidupan kota agar nyaman untuk mereka yang datang dan lain sebagainya.

Nah, berkaca dari kota Samarinda, kemudahan apa yang disediakan oleh kota ini?. Kalau mau bergurau maka kemudahan yang gampang didapat dikota ini adalah mudah banjir, mudah macet, mudah menemui jalan berlubang, mudah berdebu, mudah manti listrik, mudah mendapati badan jalan dipakai untuk jualan, mudah mendapati trotoar yang diperbagus tapi tak pernah dilalui oleh pejalan kaki dan lain sebagainya.

Jadi semua kemudahan itu akan memancing investor macam apa?. Dalam beberapa tahun terakhir ini, investasi yang menonjol di Kota Samarinda adalah jasa perdagangan dan hunian (real estate, hotel). Jasa perdagangan yang menonjol adalah retail dalam bentuk minimart dan ruko-ruko yang terus menjamur sampai di jalan-jalan kecil. Selain warung serba ada yang kecil-kecil muncul juga beberapa mall dan hotel-hotel. Hotel muncul di berbagai jalanan utama kota dan hampir semua seragam, tak punya halaman yang luas.

Nah, minimart, ruko, hotel dan tempat hunian lain ini ditujukan untuk siapa, memperdagangkan barang dan jasa apa?. Dari pengamatan sekilas di berbagai jaringan minimart, jelas yang diperdagangkan adalah barang yang mayoritas berasal dari luar Samarinda, bahkan luar Kalimantan Timur. Minimart menjadi outlet dari hasil dan karya orang atau perusahaan di luar Kota Samarinda agar dibeli dan dikonsumsi secara luas oleh warga Samarinda. Pun demikian dengan ruko yang menjamur dan kemudian banyak yang kosong tanpa usaha yang jelas. Jadi ruko itu dibangun untuk apa dan siapa?.

Kalo kemudian semua investasi hanya ditujukan untuk mengeruk uang warga Kota Samarinda dan kemudian keuntungannya dibawa keluar, apa yang kemudian tersisa di kota ini?.

Jadi kalo kemudian Kota Samarinda mengalami defisit dalam rencana Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah tentu saja menjadi wajar. Sebab sesungguhnya dalam beberapa periode kepemimpinan di kota ini, para pemimpinnya gagal membangun Anggaran Pendapatan, para pemimpinnya lebih gemar menyusun Anggaran Belanja.

Sekurangnya dalam 15 tahun terakhir ini, tidak nampak tanda bahwa kota ini menghasilkan sesuatu yang mendatangkan pendapatan untuk daerah sehingga mampu menopang pengeluaran. Kota ini rajin mendatangkan segala sesuatu dari luar, tetapi gagal membangun dan menghasilkan barang maupun jasa yang dikonsumsi, dibeli dan dinikmati oleh orang luar sehingga menghasilkan pemasukan.

Politik dan Kopi

Keberadaan kafe pada suatu masa pernah dilarang di Eropa. Popularitas kedai kopi selain mengancam popularitas teh juga dipandang menjadi tempat kumpul-kumpulnya kaum oposan untuk merencanakan makar. Watak warung kopi sebagai tempat ngumpul dan ngobrol-ngobrol masih terus bertahan hingga sekarang.

Tapi, apakah menarik membincangkan politik di Kota Samarinda sembari menikmati segelas kopi?. Harusnya iya, sebab akhir tahun ini Kota Samarinda akan masuk sebagai salah satu daerah yang ikut jadwal pemilihan kepala daerah secara serentak. Namun sayangnya dinamika politik di Kota Samarinda tidak terlalu menarik untuk dicermati. Dalam bursa calon yang belum resmi ditetapkan, terlihat tidak ada figur-figur baru yang hendak bertarung dalam pemilukada nanti.

Dari baliho-baliho yang bertebaran, figur yang menyatakan diri hendak maju dalam pemilukada adalah orang-orang yang merupakan bagian dari pemerintahan Kota Samarinda semenjak 15 hingga 5 tahun belakangan ini. Dan dalam rentang waktu itu hampir tak ada prestasi essensial yang dicapai oleh kota ini. Sekurangnya hal paling mendasar yaitu naiknya pendapatan asli daerah (PAD) sehingga mampu untuk menopang biaya pembangunan di kota ini.

Namun membincang tentang kota ini sembari minum kopi tetap menarik. Terutama mulai awal tahun 2015 ini, Samarinda disemarakkan dengan munculnya coffee house yang harga per gelasnya tak membuat kerongkongan dan kantong kering. Dibanding dengan kedai atau rumah kopi yang lahir sebelumnya, kedai kopi yang tumbuh belakangan ini lebih komunikatif. Mereka bukan hanya menyajikan kopi namun membuka diri untuk berbincang tentang kopi.

Suasana ini tentu membawa angin segar bagi ‘politik kopi’ di Kota Samarinda. Kopi bisa menjadi batu pijakan untuk mengikatkan kembali ikatan sosial, perbincangan antar sesama warga yang perlahan bisa diarahkan menuju rasa cinta dan kepedulian terhadap kota ini.

Lepas dari siapa yang nanti akan memimpin kota ini dan dengan kinerjanya yang mungkin sudah bisa ditebak dari sekarang, perbincangan di sekitar gelas dan meja kopi tak perlu terpengaruh karenanya. Toh, kehadiran kopi di kota ini sama sekali lepas dari peran dan campur tangan para pemimpin di kota ini. Tapi nanti seandainya kopi bisa memperoleh tempat seperti halnya nasi kuning atau batu akik, niscaya mereka, para pemimpin kota bakal berlomba-lomba untuk turut menaguk pengaruh darinya.

Dari berbagai kesempatan bincang-bincang, Kota Samarinda sebenarnya mempunyai penanda tentang kehadiran kopi. Nama Handil Kopi, pasti terkait dengan keadaan dahulu dimana di wilayah yang dinamai itu banyak terdapat tanaman kopi. Kok Abun, pemilik Warung Kopi Pelabuhan, sampai awal tahun 2000-an masih memakai kopi dari Samarinda. Tapi kini tidak lagi karena pasokan yang tak tetap dan kwalitas yang tak terjaga.

Kopi rupanya tak masuk dalam ‘radar’ politik penguasa dan politisi. Kalaupun tidak cenderung dihabisi, keberadaan tidak menjadi perhatian. Di Makroman, masih terlihat sisa-sisa kopi di lahan pertanian yang kemudian tergerus kehadiran lahan pertambangan batubara.

Berharap bahwa kopi akan menjadi perhatian pada era pemerintahan Kota Samarinda 2015 – 2020 bisa jadi merupakan kesia-siaan. Adalah lebih masuk akal meletakkan harapan itu kepada para pelaku usaha kopi agar mereka bukan hanya menyajikan kopi yang terbaik melainkan juga terdorong untuk melahirkan petani-petani kopi terbaik dari Kota Samarinda.

@yustinus_esha