Tag Archives: ekologi

Kademba 10

Kita Mungkin Lupa

Ada yang barangkali kita lupa bahwa sebagai manusia kita adalah bagian dari ciptaan.   Kita adalah bagian dari bumi dan seisinya. Kita cenderung lupa dengan ini dan merasa lebih tinggi, menjadi pusat dari segala ciptaan, karena kemudahan-kemudahan. Kini asal ada uang kita tak perlu lagi menanam padi untuk menikmati beras terenak, kita tak perlu berburu untuk menikmati daging ternikmat dan kita tak perlu menanam aneka buah agar bisa meminum jus yang menyegarkan.

Kita yang tinggal di perkotaan memang kerap lupa pada fakta bahwa kita punya ketergantungan yang besar pada alam ciptaan. Kita lupa karena di kota kita menikmati kemudahan suplai dan distribusi. Semua sudah ada di swalayan bahkan kalau malas kita tinggal pesan dan akan diantar.

Orang kota meskipun lebih rakus menghabiskan semua produk alam tetapi miskin ikatan dengan alam karena semua serba tersedia. Berbeda dengan orang desa atau orang di pedalaman yang selalu mengusahakan sendiri apa yang dibutuhkannya. Air misalnya harus ditimba, sayur harus dipetik, beras harus ditumbuk, buah-buahan harus dipanjat dan dipetik dan seterusnya.

Maka untuk orang desa atau pedalaman jelaslah kepentingan mata air, pohon di hutan, sayur di kebun, beras di ladang dan binatang perburuan di alam liarnya. Orang desa aau pedalaman akan lebih merasakan betapa pentingnya alam dan seisinya untuk mereka.

Orang-orang kota lebih bicara soal pembangunan berkelanjutan tapi terus merusak atas nama pembangunan. Sementara orang desa tak pernah bicara soal pembangunan berkelanjutan tetapi mereka menjaga dan merawat hutan juga sungai-sungainya.

Banjir, longsor, kekeringan berkepanjangan, suhu makin memanas, air laut meninggi semua kita sebut bencana, bahkan ada yang getol menyebutnya sebagai pelajaran dari yang Maha Kuasa. Padahal banyak kali semua kejadian itu bukanlah bencana yang alamiah sifatnya melainkan karena ulah manusia termasuk di dalamnya para pengambil kebijakan dengan segala macam pemberian ijin.

Kita sesungguhnya saling terhubung satu sama lain. Coba pikirkan kalau kita minum jus jeruk, darimana jeruk itu berasal?. Serangga apa yang menyerbuki bunga jeruk, tanah dimana jeruk itu ditanam, hujan yang menyirami pohon jeruk dan seterusnya.

Jika kita terus menerus hanya menempatkan diri sebagai konsumen maka perhatian kita hanya akan berfokus pada produk akhir, kita tak peduli dengan rantai proses panjang sampai kemudian minuman kemasan itu dihasilkan.

Ada puluhan jenis bahkan ratusan mahkluk yang bekerja hingga sebuah minuman segar bisa membasahi kerongkongan, sebagian bekerja dalam dinamika alam, sebagian besar lain bekerja karena mencari pendapatan.

Mereka yang bekerja dalam dinamika alam sebagian sudah punah. Meski kepunahan adalah bagian dari dinamika alam, namun sebagian besar kepunahan terjadi karena campur tangan manusia dan ekploitasi yang berlebihan.

Semakin banyak hal yang punah maka akan diperlukan banyak hal sebagai subtitusi, Dan andaikan subtitusi tidak bersifat alamiah maka akan muncul biaya produksi sehingga segala sesuatu menjadi mahal.

Ke depan berbagai kepunahan akan terus terjadi jika kita tak merubah paradigma hubungan dengan alam. Kepunahan itu tentu akan merugikan kemanusiaan namun sesungguhnya yang akan paling rugi adalah mereka yang miskin, mereka yang hidup tergantung dari alam.

Maka jika kita ingin menolong mereka yang papa, miskin atau hidup jauh dari perkotaan, jagalah dan rawat keanekaragaman hayati. Kekayaan yang bukan saja akan menjaga keseimbangan alam melainkan juga akan melahirkan banyak penemuan baru yang berguna untuk kemanusiaan.

Pondok Wiraguna, 16/01/2017

@yustinus_esha