Tag Archives: ektraktif

Sayur Umbut Rotan Sumber : Kaskus

Cabe Lebih Mahal dari Cabe Cabean

Seorang teman menuliskan status di halaman facebooknya. Isinya kira-kira begini “Kita bukanlah suami yang mencintai istri apabila tidak tahu harga cabe di pasar’. Ya harga cabe menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru terus naik melaju dan tak terbendung lagi hingga tembus Rp. 200.000 per kilo seminggu setelah perayaan Tahun Baru.

Mereka yang biasa membeli cabe dan tomat seharga Rp. 5000 di pasar bakal jantungan ketika kembali membeli dengan harga seperti itu. Barangkali pedagangnya tak mau melayani, pembelian minimal adalah Rp. 10.000. Dan dengan harga itu tak lebih dari segenggam cabe yang akan dibawa pulang.

Cabe memang bukan makanan pokok, tetapi trend kegemaran makanan pedas akhir-akhir ini mulai meningkat. Banyak orang sekarang gemar memakan jenis masakan dan sambal yang membuat mulut berasap dan rambut berdiri. Rica-Rica yang dulu populer di Manado, kini menyebar ke berbagai pelosok Nusantara, Rica-Rica menjadi masakan biasa yang mudah ditemui di berbagai warung, rumah makan hingga restoran.

Muncul pula restoran dan warung makan yang sengaja mengusung sambal sebagai penarik utamanya. Ada berbagai sambal yang disajikan dan berbagai level kepedasan. Wakan muncullah nama-nama resto atau warung seperti Sambal Ijo, Sambal Desa, Sambal Yogya, Gorengan Sambal Merah, Kecanduan Lombok dan lain sebagainya.

Kegemaran makan yang pedas-pedas dan naiknya harga cabe secara gila-gilaan tentu saja bermasalah. Untuk para penjual makanan pedas, keuntungan bisa jadi berkurang atau bahkan hilang. Dan tentu juga tidak mudah untuk menaikkan harga jual makanan karena nanti akan jadi fluktuatif.

Penjual makanan yang identik dengan menyediakan sambal kemungkinan besar jadi sasaran pengemar makanan pedas. Daripada bikin sambal di rumah maka lebih baik makan di warung atau rumah makan yang menyediakan sambal gratis. Alhasil kemungkinan besar ketika makanan yang dijual belum habis sambalnya sudah ludes.

Soal rasa dan kepuasan memang sulit ditakar harganya jadi meski banyak yang kaget dan ngomel-ngomel mau tak mau tetap membeli cabe meskipun jumlahnya berkurang jauh. Yang penting ada rasa pedas-pedasnya meski tipis-tipis.

Dan buat para penyuka sambal atau masakan rica-rica dan pedas lainnya tentu saja sambal botol bukanlah sebuah pilihan. Memang sekarang ada sambal-sambal botol, aneka sambal yang mirip dengan aslinya, namun harganya juga tak kalah mahal. Selain itu makanan yang dikemas dalam botol tentu saja terasa kurang segar, sehingga mengurangi sensasi sambal yang cetar.

Kecil-kecil Cabe Rawit begitu sebuah perumpaan yang mau mengatakan meski sesuatu itu kecil, sepele atau masih muda tapi sudah mumpuni atau digdaya. Dan dalam kenyataannya Cabe Rawit memang digdaya sehingga mampu menguncang perekonomian rumah tangga. Ibu –ibu pasti dibuat pusing soal bagaimana mengatur uang belanja yang tidak naik meski sudah tahun baru.

Mereka yang tidak belanja barangkali hanya terkaget atau setengah tak percaya dengan harga cabe yang melambung jauh, bagaikan lantunan suara Angun C Sasmi itu. Sementara yang berbelanja di pasar bukan hanya terkaget-kaget saja melainkan tersambar petir dan jantungan.

Kalimantan Timur yang beribu kota di Samarinda selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi yang kaya raya. Hanya saja sekarang ini kosa kata yang sedang terkenal adalah defisit. Kalimantan Timur mengalami defisit anggaran sehingga sekarang sedang berupaya untuk mencari lagi berbagai bahan galian untuk membiayai jalannya pemerintahan.

Dan betapa daerah yang dikenal kaya raya ini ternyata rentan goncangan. Terbukti gara-gara cabe saja sekarang warganya terguncang dan sedikit banyak ini akan berpengaruh pada dinamika ekonomi di masyarakat.

Sudah lama banyak orang mengingatkan betapa berbahayanya ekonomi yang mengantungkan diri pada ekploitasi sumberdaya alam. Penebangan hutan, konversi hutan untuk perkebunan dan penambangan yang masiv telah menghilangkan kesuburan tanah Kalimantan Timur. Kesuburan yang dibangun oleh serasah di hutan yang dibusukkan oleh berbagai mikroorganisme sehingga menjadi nutrien bagi pertumbuhan aneka tanaman.

Ekpolitasi sumberdaya alam yang tak terkendali menghilangkan banyak lahan-lahan produktif, termasuk model pertanian ladang berpindah, sebuah model yang sejatinya ramah hutan namun dipandang oleh para pengambil kebijakan dan pelaku pasar sebagai model pertanian yang merusak alam.

Mereka yang berdialog dan berinteraksi dengan alam Kalimantan Timur secara jujur akan paham bahwa tanah Kalimantan Timur adalah tanah yang rawan jika dibongkar. Maka para petani dan peladang perdana di Kalimantan Timur tidak bercocok tanam dengan cara dicangkul atau membalik tanah. Mereka menanam biji dengan cara menugal, hanya memberi lubang kecil dan dangkal. Membalik atau mengaduk-aduk tanah akan berbahaya karena tanah Kalimantan Timur mengandung banyak mineral dan apabila dibongkar serta kemudian tersapu hujan maka akan terbawa dalam air dan menimbulkan resiko tertentu.

Di masa lalu aktivitas masyarakat di dalam hutan dilandasi oleh penghayatan bahwa mereka adalah bagian dari hutan. Mereka bukanlah penguasa hutan atau pemilik hutan dengan demikian terjadi sebuah keselarasan. Kalaupun ada penebangan pohon di hutan, pohon itu akan diganti oleh pohon lain yang mempunyai fungsi ekologis yang sama namun mendatangkan keuntungan ekonomi secara berkelanjutan. Seperti pohon Meranti yang dipotong, kemudian diganti dengan pohon Durian dan lain sebagainya. Para pendahulu, masyarakat perdana, menanami atau tetap menghijaukan hutan dengan menanam biji, bukan bibit pohon pohon.

Alam telah memberikan tanda, biji mana yang harus ditanam. Tandanya adalah jika buahnya enak, maka yang memakan akan melemparkan bijinya. Dan kemudian biji itu tumbuh dengan restu alam. Mereka tidak mengumpulkan biji dan kemudian membuat pembenihan lalu mengadakan acara tanam pohon. Bijilah yang mereka lempar ke arah mana mereka suka, biji mana yang kemudian bertunas, tumbuh dan membesar menjadi pohon adalah biji yang dipilih dan dipelihara oleh alam.

Maka bicara soal ketahanan dan pertahanan pangan, Kalimantan Timur yang mempunyai tingkat keragaman tanaman yang luar biasa termasuk pedasan sejenis cabe, ternyata selalu terguncang oleh si kecil kecil Cabe Rawit. Provinsi dengan nama besar ini mudah sekali digoyang oleh pedasan yang sejatinya bukan tanaman pokok. Kalau yang bukan pokok saja bisa mengoyang, apalagi yang pokok bisa dipastikan pasti terguncang.

Adalah sebuah kecenderungan apabila merasa mempunyai banyak uang maka akan muncul anggapan bahwa segala sesuatu bisa dibeli. Sikap yang kemudian memunculkan ketergantungan yang tinggi. Dan apabila dipikir dalam-dalam, ketergantungan pangan dalam arti seluas-luasnya terhadap daerah di luar Kalimantan Timur mungkin saja lebih dari 90%. Kalau tidak percaya coba kita reflesikan dalam-dalam, apa yang kita kunyah, kita hisap, kita emut-emut dan kita sedot itu produk atau bahan buatan mana atau didatangkan dari mana?.