Tag Archives: gelombang pergerakan kopi

Tuang Bubuk Kopi

#coffeeducation : Ngopi Tanpa Wifi

Tuang Bubuk Kopi

Tuang Bubuk Kopi

Apa yang membedakan warung tradisional dengan warung modern?. Tentu saja ada banyak perbedaan, namun yang paling mencolok adalah rayuan dari warung-warung modern lewat tulisan Free Wifi. Tak heran jika kemudian kafe, resto atau coffee shop berlomba menyediakan banyak colokan dan koneksi internet yang super kenceng. Dan hasilnya adalah pemandangan sekelompok orang yang saling janjian untuk bertemu lalu duduk bersama dan asyik dengan gawainya masing-masing.

Saykoji, lewat lagunya menyuarakan online..online..online. Mungkin itu adalah refleksi atau gambaran manusia saat ini. Manusia yang online kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja. Meski di ruang yang lebar, pandangannya hanya pendek, antara mata dan layar gawainya. Dunia luasnya adalah dunia maya, dunia yang mengatasi realitas ruang dan waktu dimana dirinya berada.

Ngopi, nge-teh, nge-wine dan lain-lain dari sononya adalah sebuah laku komunal, minum ramai-ramai, yang berarti minum bersama sambil disertai ‘kesah’ antar mereka yang hadir dalam lingkaran itu. Jadi apa asyiknya ngopi kalau kemudian 3 atau 4 orang yang hadir bersama kemudian saling asyik dengan lingkaran pertemanannya di media sosial?.

Ngopi dengan atau tanpa wifi menjadi perdebatan disalah satu scene film Filosofi Kopi. Dua orang sahabat yang mengelola rumah kopi berdebat soal itu. Demi menyedot pelanggan yang satu berpendapat perlu ditolerir keinginan mereka yang datang ngopi demi mendapat akses internet, sementara yang lainnya tetap kukuh, bahwa siapapun yang datang ke rumah kopi, tujuannya harus satu yaitu menikmati kopi, bukan berselancar di dunia maya.

Apa yang saya saksikan di scene film itu kemudian diulang oleh seorang founder kedai kopi yang saya temui beberapa bulan lalu. Saya tentu setuju, sebab minum kopi, terutama kopi single origin, kopi speciality, kopi honey, kopi wine dan lain-lain tak hanya sekedar diseruput namun perlu diperbincangkan.

Bincang kopi kemudian terwadahi atau secara otomatis akan terjadi apabila ngopi bareng dilakukan lewat ‘private brewing’. Nyeduh kopi dengan cara manual mau tak mau akan menarik perhatian dan pikiran untuk membincangkan kopi yang sedang diseduh. Berkembangnya trend ‘Manual Brewing’ dan munculnya penyedia baik alat maupun kopi biji yang makin banyak membuat ruang untuk ngopi tanpa wifi semakin lebar.

“Ah, ngopi saja dibikin rumit!” begitu ungkap seorang kawan. Ya, memang ngopi itu rumit alias kompleks. Sebab kopi Indonesia memang kompleks dalam artian kaya varian rasanya. Kopi di Indonesia tumbuh dari sejarah yang kompleks dengan kisah panjang menyertainya. Sejarah itu pulalah yang melahirkan berbagai macam jenis kopi di nusantara. Kopi tersebar mulai dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Kondisi geografis, iklim, kesekitaran dan perlakuan yang berbeda melahirkan berbagai macam varian kopi dengan kompleksitas rasanya.

Jadi kalo ngopi karena ingin ngopi dan mengekplorasi rasa dan sensasi kopi, free wifi atau online tak bakal jadi tuntutan. Mana sempat online kalau habis nyeruput ditanya “Bagaimana rasanya?”. Dan jawaban sesingkat apapun seperti “Enak masuknya”, tentu butuh waktu untuk berpikir.

Pertanyaan “Bagaimana rasanya?”, efeknya memang panjang, sebab satu jenis kopi pun bisa berbeda rasa apabila diseduh dengan cara berbeda termasuk juga oleh orang yang beda. Mencari-cari dan mencoba mengenali rasa serta sensasi kopi inilah yang bikin FREE WIFI nggak penting lagi.

@yustinus_esha

Gelombang Pergerakan Kopi Keempat?

“Perkenalkan nama saya ………………… Kali ini saya akan menyajikan kopi dengan teknik ……………. adapun kopi yang saya gunakan adalah Malabar natural proses ……. ,” Begitu kira-kira yang disampaikan oleh setiap Barista yang mengikuti kompetisi Manual Brewing yang diselenggarakan di Second … read more