Tag Archives: GMSS SKM

15 tepi-K150

Wisata Lingkungan Karang Mumus

Apa yang muncul di benak anda jikalau ada yang mengajak berwisata di Sungai Karang Mumus?. Kemungkinan besar sebagian orang yang diajak akan memberi jawaban yang mengekpresikan ketidakpercayaan atau keheranan atas ajakan itu.

“Apaaah ……. wisata di Karang Mumus?”

Tak apalah dan tak perlu sakit hati jika ada yang berekpresi seperti itu, Sungai Karang Mumus memang bukan Kanal di Negeri Kincir Angin yang lazim didatangi pelancong untuk ‘Canal Cruise’. Ya wisata susur sungai di Belanda kurang lebih setiap tahunnya bisa mendatangkan 3 juta wisatawan. Mereka bisa menikmati perjalanan susur sungai dengan berbagai jenis kapal/perahu. Bahkan konon ada satu jenis perahu yang ditujukan untuk keperluan khusus yaitu kapal untuk mengadakan pernikahan di atas sungai.

Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS SKM) sejak awal tahun 2016, sudah mulai menghembuskan wisata pungut sampah. Dan kemudian berkembang menjadi wisata susur Sungai Karang Mumus. Dan ternyata respon dari mereka yang berani mencoba menyusuri Sungai Karang Mumus positif. Sungai Karang Mumus ternyata keren, banyak keindahan, pengetahuan baru dan pembelajaran di balik wajah utamanya yang compang-camping.

Tentu saja mempromosikan Sungai Karang Mumus sebagai arena wisata bukan karena ingin menyaingi ‘Canal Cruise’ sebagaimana yang ada di Belanda atau negara-negara Eropa lainnya. Selain tidak mungkin, juga karena Sungai Karang Mumus justru mempunyai karakter tersendiri sehingga siapapun yang menyusurinya pantas mengenakan kaos ‘my trip my adventure’.

“Ouw ….. seriuskah wisata susur Sungai Karang Mumus ini?”

Baik untuk mereka yang sinis, mari kita pelajari apa yang disebut sebagai ekowisata. Ekowisata kerap diartikan sebagai wisata alam sebuah istilah yang sebenarnya kurang tepat dan menjadi sempit pemaknaannya. Ekowisata yang sebenarnya adalah kegiatan wisata yang memanfaatkan jasa lingkungan, baik itu alam (keindahannya, keunikannya) atau masyarakat (budaya, cara hidupnya, struktur sosialnya) dengan mengemukakan unsur-unsur konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat setempat (Fandelli;2000).

Mendasarkan pada uraian diatas, maka Sungai Karang Mumus memenuhi berbagai macam unsur yang lazim ditemui dalam lokasi ekowisata. Jika tak percaya mari kita lihat bagaimana profil Sungai Karang Mumus. Sungai ini secara kesejarahan penting untuk Kota Samarinda, melewati sebagian besar wilayah Kota Samarinda dan menjadi salah satu penanda identitas Kota Samarinda (meski sekarang ini lebih banyak bermakna negatif).

Sepanjang alirannya, Sungai Karang menyajikan kesekitaran yang berbeda-beda yang bisa terbagi dalam beberapa segmen. Segmen itu antara lain segmen hilir, segmen permukiman dan ruang usaha, segmen perladangan, segmen tutupan alami. Pembagian atau segementasi dalam catatan ini adalah Sungai Karang Mumus yang dimulai dari beton Bendungan Benanga hingga muara di Sungai Mahakam.

Pada segmen hilir atau di bagian muara yang berada di Sungai Mahakam, Sungai Karang Mumus masih menyajikan dinamika transportasi air. Di bagian muara masih mudah disaksikan deretan kapal atau perahu besar juga hilir mudik speed boat yang cukup ramai. Bongkar muat komoditas juga menjadi aktivitas yang biasa ditemui di bagian ini.

Jangkauan aktivitas transportasi dan komoditi ini mencapai hingga sebelah Jembatan Baru. Setiap hari masih bisa disaksikan hilir mudik perahu pasir yang masuk dari muara, melintasi Sungai Karang Mumus hingga sampai ke tempat penumpukan pasir sungai tak jauh dari Jembatan Baru. Terkadang juga bisa disaksikan perahu ikan, sandar untuk bongkar muatan di bawah Jembatan Kehewanan.

Segmen hilir ini relatif sudah tertata dan bebas dari permukiman di bantaran sungai. Kanan kiri sungai sudah ditanggul. Dan antara tanggul beton dengan jalanan di kanan kiri sungai adalah Ruang terbuka hijau yang ditanami pepohonan. Di beberapa titik bahkan dikembangkan menjadi taman.

Segmen permukiman dan ruang usaha, bagian ini berada mulai dari Jembatan kehewanan hingga Jembatan Griya Mukti. Namun tidak seluruh kanan kiri sungai di bagian ini merupakan area permukiman dan ruang usaha. Masih ada beberapa titik atau spot yang terbebas dari permukiman. Permukiman di pinggir sungai meski merupakan kelaziman dalam sejarah kampung di Kalimantan Timur, namun permukiman di Sungai Karang Mumus tetaplah khas.

Permukiman di Sungai Karang Mumus, bukan berkembang ke arah menjauh dari sungai, melainkan merangsek ke badan sungai. Banyak rumah sesungguhnya berdiri diatas sungai sehingga membuat sungai menjadi menyempit. Banyak rumah di pinggir sungai tidak ditinggali oleh pemiliknya, melainkan menjadi rumah/kamar sewaan atau kerap disebut sebagai bangsalan. Area terpadat berada setelah Jembatan Baru hingga setelah Jembatan Ruhui Rahayu yang tak jauh dari Rumah Dinas Walikota Samarinda.

Selain menjadi tempat bermukim, permukiman pinggir sungai juga merupakan tempat usaha. Usaha yang paling lazim ditemui di pinggir Sungai Karang Mumus adalah pembuatan tempe. Lalu ada pemotongan unggas, pengolahan kulit dan kaki sapi, pengupasan bawang, pengasapan ikan dan lain-lain.

Di area permukiman ini bisa juga ditemui penjual ikan berperahu yang menjajakan jualannya dari rumah ke rumah. Juga ada beberapa pemulung berperahu yang memungut sampah plastik untuk dijual kembali. Pemulung berperahu juga bisa ditemui di muara.

Segmen perladangan, disepanjang aliran Sungai Karang Mumus pemanfaatan lahan untuk usaha pertanian cukup besar. Namun tampakan yang paling menonjol adalah daerah yang mendekati wilayah hulu (Bendungan Benanga), mulai dari Bengkuring hingga Muang.

Komoditas yang ditanam utamanya adalah tanaman pangan, sayur dan buah-buahan. Tanaman pangan yang ditanam adalah jagung, ubi jalar dan ketela pohon. Sementara sayuran antara lain kangkung, kacang panjang, bayam, lombok, tomat dan kemangi. Sedangkan tanaman buah yang banyak ditemui adalah pepaya dan pisang.

Ladang atau kebun ini banyak yang mencapai hingga pinggiran sungai, beberapa bahkan di area pasang surut sungai, sehingga tanamannya akan rusak jika sungai meluap. Perladangan ini membuat pinggir sungai, kanan kiri sungai menjadi area terbuka yang minim dengan hijauan pohon perlindungan yang tinggi dan besar.

Segmen tutupan alami, Sungai Karang Mumus masih mempunyai area dengan tutupan alamiah. Di beberapa bagian masih ditemui pinggiran sungai yang ditumbuhi aneka pepohonan seperti Rengas, Rumbia, Kademba, Bungur, Rambai Padi. Selain itu juga ada tumbuhan rumpun seperti Bemban.

Area dengan tutupan alamiah ini masih dihuni oleh satwa. Yang paling terdengar dan terlihat adalah berbagai jenis burung. Yang menarik adalah jenis Kuntul dan Blekok yang mulai bisa dilihat di pinggiran sungai yang berbatasan dengan Universitas Mulawarman. Di area ini sering juga terlihat Biawak, berenang atau menyembul dari air.

Yang paling menarik dari area tutupan alami ini adalah bagian Sungai Karang Mumus yang berada tak jauh dari belakang perumahan Bumi Sempaja. Disana ada satu bagian yang kanan kiri sungai masih ditumbuhi pepohonan. Dahan dan ranting pepohonan itu membentuk tajuk atau kanopi diatas sungai. Area ini mempunyai panjang kurang lebih 20 – 30 meter.

Selain itu pada segmen perladangan dan tutupan alami ini, akan dijumpai pemancing atau pencari ikan. Selain dengan pancing, mereka menangkap ikan dengan jala, ancau dan tempirai. Jenis ikan yang didapat antara lain Biawan, Puyau, Papuyu, Sepat, Haruan, Pipih, Bandeng Sungai, Patin dan lain-lain.

3 A Susur Sungai Karang Mumus

Sebuah wilayah atau kawasan layak dikembangkan menjadi sebuah lokasi wisata apabila mempunyai 3 A yaitu Atraksi, Ameniti dan Aksesbilitas. Bicara soal daya tarik (atraksi) atau keunikan, maka Sungai Karang Mumus jelas unik. Sepanjang aliran sungai ini jika disusuri akan menyajikan pemandangan yang berbeda pada masing-masing segmen. Pemandangan bukan hanya dari sisi alam melainkan juga dari aktivitas dan tingkah polah para pemukim di bantarannya.

Dengan situasi yang ada saat ini, sungai ini menarik sebagai arena pembelajaran tentang sungai dan interaksinya dengan masyarakat sekitarnya. Bagaimana masyarakat sekitar sungai yang tergantung kepada sungai sebagai sumber air memperlakukan sungainya.

Dalam konteks konservasi, sungai ini akan menarik untuk komunitas-komunitas yang peduli pada lingkungan hidup. Sungai ini bisa menjadi ruang aktivitas bagi mereka untuk memberikan sumbangsih dan mengembangkan kegiatan wisata khusus, seperti wisata bersih-bersih sungai, wisata penghijauan pinggir sungai, wisata pelepasan ikan di sungai dan seterusnya.

Dunia pendidikan juga bisa menempatkan sungai ini sebagai lokasi laboratorium pendidikan lingkungan. Para siswa bisa menyusuri sungai ini sambil belajar tentang bagaimana harus memperlakukan sungai, apa guna dan fungsi sungai serta bagaimana harus menjaga dan merawat sungai sehingga bisa bermanfaatan secara lestari.

Daya tarik lain yang mungkin jarang dijumpai di perkotaan adalah anak-anak yang memanfaatkan sungai sebagai ruang bermain. Anak-anak yang tumbuh di tepi Sungai Karang Mumus menjadikan sungai sebagai ‘water park’ tempat mereka mandi, berenang dan berterjunan ke sungai.

Wisata juga tak lepas dari Ameniti, atau bisa diterjemahkan secara luas sebagai kenyamanan, keenakan atau keramahan. Hal ini terkait dengan kondisi lingkungan atau interaksi, sikap dari masyarakat atau orang yang berada di suatu tempat.

Menyusuri Sungai Karang Mumus mungkin pada pertama kali menimbulkan ketidaknyamanan. Wajah sungainya yang kotor dan banyak dihiasi sampah bisa jadi membuat tak nyaman. Namun segera perasaan itu akan hilang ketika perahu mulai berjalan. Berperahu di perkotaan adalah pengalaman yang langka.

Dan mungkin juga serem ketika berperahu menyusuri kanan kiri sungai yang dipenuhi rumah. Apalagi daerah-daerah permukiman di pinggir sungai kerap distigma sebagai daerah yang ‘bronx’. Tapi perasaan itu akan hilang saat melihat penerimaan mereka ketika kita melewati sungai yang menempel dirumah mereka. Jika kita sapa mereka akan membalas, bahkan saat di foto mereka akan berpose. Apalagi anak-anak, mereka pasti akan berteriak foto-foto sambil melambaikan tangan atau beraksi meloncat ke sungai.

Soal keamanan, menyusuri Sungai Karang Mumus relatif aman. Yang paling penting adalah memakai pelampung sebagai antisipasi jika ada apa-apa dalam perjalanan. Sungai Karang Mumus dalam keadaan normal kedalaman rata-ratanya antara 1 – 3 meter. Arusnya juga tidak terlalu deras karena kontur sungai dari hulu hingga hilir datar.

Hambatan dalam perjalanan adalah belitan sesampahan yang membelit baling-baling perahu. Sehingga harus menepi dan membersihkan baling-baling. Selain itu pembawa perahu juga harus hati-hati karena di pinggiran banyak tunggul-tunggul kayu.

Jalur yang agak berarus adalah antara benton Bendungan Benanga hingga Muang Ilir. Di badan sungai juga masih banyak batang-batang kayu. Pembawa perahu harus ekstra hati-hati di jalur ini agar perahu tidak membentuk batang kayu dan kehilangan kendali.

Dari sisi aksesbilitas, Sungai Karang Mumus tidaklah susah dijangkau karena sungai ini mengalir melewati sebagian Kota Samarinda. Sungai ini melintasi sebagian jalan-jalan utama di Kota Samarinda. Beberapa jalan utama di Kota Samarinda ada disamping atau tak jauh dari aliran Sungai Karang Mumus. Diatas sungai ini juga membentang jembatan-jembatan yang dikenal di Kota Samarinda, yang dulu dinamai jembatan 1, 2, 3 dan seterusnya. Kini jembatan itu lebih dikenal dengan nama Jembatan Selili, Jembatan Sungai Dama, Jembatan S, Jembatan Kehewanan, Jembatan Perniagaan, Jembatan Lambung, Jembatan Arief Rahman Hakim, Jembatan Ruhui Rahayu, Jembatan Gelatik dan lain sebagainya.

Community Base Tourism

Pak Misman koordinator GMSS SKM yang getol mempromosikan wisata di Sungai Karang Mumus sejak awal ingin kegiatan wisata menjadi ladang pekerjaan dari masyarakat setempat, masyarakat yang tinggal di Sungai Karang Mumus. Sikap ini adalah cermin dari filosofi dari GMSS SKM agar masyarakat turut menjaga dan merawat Sungai Karang Mumus. Jika sungai ini kembali memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, maka masyarakat dengan sendirinya akan menjaga sungai, sebab sungai memberi penghidupan.

Apa yang disampaikan dan coba dipraktekkan oleh GMSS SKM secara konseptual disebut sebagai Community Base Tourism, sebuah konsep pengembangan ekowisata yang memperdayakan masyarakat setempat sekaligus mendorong pelestarian lingkungan hidup secara mandiri.

Konsep ini sesuai dengan identitas yang hendak dibangun oleh Kota Samarinda yang menyebut diri sebagai Kota Tepian, kota yang berada di tepian air. Dan dari pengalaman interaksi dengan Sungai Karang Mumus, terlihat dengan jelas bahwa potensinya sebagai lokasi pengembangan ekowisata cukup besar.

Yang diperlukan adalah upaya untuk mengintegrasikan upaya pembangunan wisata ini dengan segenap perencanaan oleh pemerintah yang lebih menekankan revitalisasi Sungai Karang Mumus lewat proyek relokasi dan pengendalian banjir semata.

Saatnya Samarinda berpindah, bukan lewat pemindahan Balai Kota, entah ke Samarinda Seberang, Makroman atau Sungai Siring. Berpindah atau hijrah adalah cermin perubahan pola pikir dan perilaku kebijakan dalam memandang sungai. Sungai harusnya tidak dipandang sebagai aliran air alamiah, melainkan ruang kehidupan dan penghidupan, sehingga harus didekati dengan semangat kemanusiaan dan memanusiakan yang bisa mendatangkan kebahagian dan kegembiraan bersama.

Maka berbahagialah dan bergembiralah Samarinda karena mempunyai Sungai Karang Mumus, meski selama ini kita nista dan sia-siakan.