Tag Archives: human trafficking

Bocah Penjual Koran - majalahborneo.wordpress.com

Anak Anak Jalanan

Satpol …. begitu teriak seorang bocah di perempatan. Dan kemudian seperti dikomando gerombolan bocah-bocah itu berlari tanpa memperdulikan lalu lintas jalanan. Mereka berlari menjauh untuk menghindari mobil satpol PP yang melintas.

Bocah-bocah yang berkumpul di perempatan itu adalah penjual koran, peminta-minta dan pengamen yang kini jumlahnya kian banyak pada berbagai penjuru di Kota Samarinda. Kumpulan anak-anak laki-laki dan perempuan ini bercokol di perempatan hingga larut malam. Tak jarang ditemui seorang bocah meringkuk di beton perempatan, duduk berusaha tidur dengan koran sebagai bantal yang ditumpukan pada pangkuannya.

Berita di media massa menyebutkan bahwa para legislator tengah menyiapkan sebuah peraturan daerah yang ditujukan untuk mengatasi persoalan ini. Anak-anak itu disebut sebagai Anak Jalanan atau Anjal.

Apakah benar diperlukan sebuah peraturan daerah untuk secara spesifik mengatur persoalan ini?.. Sebab yang disebut dengan Anak Jalanan selalu multi kategori. Mereka bisa masuk dalam kategori Pekerja Anak, Anak Yang Dipekerjakan, Human Trafficking, Anak Terlantar atau Ditelantarkan dan Anak-Anak yang bekerja dalam situasi berbahaya atau berisiko.

Jadi tanpa diatur dalam sebuah peraturanpun, kondisi atau situasi yang melingkungi mereka yang disebut sebagai anak jalanan sebenarnya sudah menjadi tanggungjawab dari para pihak yang meliputi penegak hukum dan satuan kerja pemerintah daerah/badan pemerintah seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja, Badan Pemberdayaan Perempuan & Anak (Keluarga Berencana, Satuan Polisi Pamong Praja dan Komisi Perlindungan Anak Daerah.

Di balik fenomena yang disebut dengan Anak Jalanan selalu ada sindikasi atau persengkongkolan jahat untuk memanfaatkan anak-anak demi keuntungan ekonomi oleh kelompok tertentu. Kelompok itu bisa jadi punya hubungan dengan anak-anak itu tetapi bisa juga tidak. Kebanyakan anak-anak ini tidaklah bekerja secara mandiri, melainkan diorganisir sehingga apa yang diperoleh disetor pada pihak tertentu.

Tentu saja upaya yang sedang dilakukan oleh para legisllator patut untuk dihargai meski sebagaimana banyak Peraturan Daerah lainnya kemudian tidak operasional di lapangan. Sebab banyak peraturan daerah hanya mengatur aspek hukum dari sebuah fenomena. Padahal fenomena Anak Jalanan bukan semata-mata aspek hukum belaka, melainkan juga aspek ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Membiarkan anak-anak di jalanan bukan semata-mata menimbulkan gangguan pada lajur atau jalur lalulintas semata melainkan juga kita tengah membiarkan munculnya sebuah generasi yang punya potensi untuk meneruskan atau melestarikan kebudayaan jalanan.

Anak-anak yang tidak bisa diselamatkan dari jalanan, kemudian akan tumbuh menjadi remaja, pemuda hingga orang tua jalanan. Mereka akan terus berada di jalanan dan memperoleh pendapatan dengan cara-cara yang kerap tidak pantas dalam ukuran publik bahkan melanggar hukum.

Jalanan adalah ruang yang tidak sehat baik secara fisik maupun psikis untuk anak-anak. Anak-anak yang berada di jalanan akan secara terus menerus terpapar panas, hujan, debu atau polutan lain yang akan menganggu kesehatannya. Dan secara psikologis budaya jalanan akan mengajarkan kekerasan, kekasaran atau pilihan kosa kata yang buruk, serta pintu masuk pada perilaku penyalahgunaan zat adiktif serta seks usia dini hingga penglacuran. Gejala perilaku tidak manis anak-anak jalanan ini diungkap oleh anggota pansus peraturan daerah tentang anak-anak jalanan, yang menyebutkan bahwa badan mobilnya digores oleh anak-anak itu.

Jadi sebenarnya tak aperlu menunggu adanya peraturan daerah sehingga para pihak yang bertanggungjawab atau berkepentingan melakukan langkah-langkah yang komprehensif untuk mengatasi persoalan anak jalanan ini. Membiarkan persoalan ini berlarut atau hanya melakukan tindakan yang sifatnya parsial seperti razia misalnya hanya akan membuat anak-anak ini semakin pintar berkelit, ahli dalam kucing-kucingan hingga memancing para organizer untuk melakukan penyuapan atau berbagi penghasilan dengan penegak hukum atau ketertiban agar operasi mereka aman dari pengerebekan.

Dan anak-anak tentu saja bukanlah kertas kosong, suatu saat mereka akan merasa bahwa dirinya diekploitasi dan ingin bebas dari situasi itu dengan melawan, atau kemudian justru melakukan perilaku ekpoitatif terhadap mereka yang lebih lemah sehingga lingkaran ekspoitasi itu terus berlanjut serta menjadi sebuah lingkaran setan.

@yustinus_esha