Tag Archives: jembatan kehewanan

5437_1542443052725142_2077138172842059250_n

Membeber Karang Mumus

Tahun lalu bersama beberapa teman, saya merancang sebuah ekpedisi dengan nama Eksprimus. Ekpedisi Pria Karang Mumus, adalah sebuah rencana perjalanan menelusuri DAS Karang Mumus dari hulu ke hilir.

Kami menganggap penting perjalanan ini agar bisa memperoleh dokumentasi dalam bentuk gambar maupun video tentang kondisi Sungai Karang Mumus terkini. Dokumentasi yang kemudian bisa dipakai untuk berbagai keperluan terkait dengan pemulihan kondisi Sungai Karang Mumus. Sampai sekarang Eksprimus masih tetap disimpan sebagai sebuah keinginan.

Menjelang akhir tahun 2015, saya membaca berita tentang aksi memungut sampah di Sungai Karang Mumus. Sontak saja ini kembali membangkitkan ingatan soal Eksprimus. Aksi yang dimulai oleh Misman, mungkin terkait dengan keinginan saya menelusuri Sungai Karang Mumus. Namun tetap saja bisa menjadi sebuah pintu masuk.

Dengan bantuan seorang teman akhirnya saya bertemu Misman, berkenalan dan kemudian turut meluangkan waktu untuk memungut sampah atau duduk-duduk bercerita di tepian Sungai Karang Mumus. Saya merasa apa yang dilakukannya baik dan perlu ditularkan, sehingga saya juga turut terdorong untuk mempromosikan apa yang dilakukan Misman kepada lingkungan pergaulan saya baik di dalam nyata maupun di alam maya.

Selama beberapa bulan perjalanan pungut sampah yang kemudian dinamai dengan Gerakan Memungut Sampah Sungai Karang Mumus ada banyak perkembangan yang dicapai. Termasuk salah satunya adalah perahu dan mesin yang disumbangkan oleh donatur yang tersentuh hatinya.

Nah, dengan perahu itu saya mulai bisa menelusuri sebagian alur Sungai Karang Mumus. Memang baru sebagian kecil yaitu antara Jembatan Kehewanan hingga sekitar daerah Pemuda III. Dari perjalanan yang masih sejengkal itu, saya bisa menyaksikan berbagai macam hal yang sebelumnya tidak saya lihat.

Apa yang saya lihat dalam perjalanan itu semakin menegaskan bahwa Sungai Karang Mumus memang berada dalam titik kritis. Sungai yang dulu merupakan alur transportasi air itu mengalami penyempitan di banyak titik. Penyempitan karena sebagian badan sungai dijadikan permukiman, juga karena sedimentasi yang kemudian menumbuhkan gulma di kanan kirinya.

Soal sampah semua orang juga tahu, tapi ada lebih banyak sampah yang tidak kelihatan. Berkali-kali baling-baling perahu terhenti karena terlilit platik, kain dan pampers yang tidak kelihatan di permukaan. Selepas Jembatan Baru, perjalanan kerap kali terhenti karena harus minggir mencari tambatan untuk melepaskan lilitan di baling-baling.

Titik belakang Pasar Segiri adalah salah satu yang terparah. Sungai sedemikian menyempit, yang berada di badan sungai bukan hanya pemukiman melainkan juga tempat usaha. Salah satunya adalah usaha pemotongan ayam. Dan semua limbah dari usaha itu dibuang langsung ke sungai. Limbah yang bukan mengotori sungai malainkan juga meninggalkan bau yang menyengat.

Satu hal yang unik, di belakang Pasar Segiri masih dijumpai satu perahu penyeberangan. Penyeberangan yang tidak akan menguras tenaga pengayuhnya karena jarak tempuhnya sungguh sangat dekat. Satu dua kali kayuh saja perahu sudah sampai di sisi lainnya.

Di beberapa titik permukiman tidak berada di sisi kanan kiri, melainkan hanya disalah satu sisinya, sementara sisi lainnya masih berupa lahan hijau. Hanya saja sudah mampak muncul satu dua rumah. Juga masih ada titik yang kanan kirinya kosong dari permukiman, namun titik semacam ini justru sungai nampak menyempit karena ditumbuhi gulma yang lebat.

Satu hal yang menarik, selepas Jembatan Gelatik, masih ramai terdengar suara binatang, nyayian burung yang nyaring terdengar. Beberapa blekok kelihatan terbang dan kemudian bertengger di pucuk pepohonan.

Hanya saja meski tidak nampak permukiman, namun tetap saja disela-sela rerumputan dan enceng gondok yang tumbuh subur, jelas terlihat aneka sesampahan.

Walikota Samarinda, Sjaharie Jaang sehari setelah dilantik langsung menelusuri Sungai Karang Mumus. Entah sampai daerah mana. Namun apapun yang sempat dilihat, blusukan Walikota sebenarnya tidak melahirkan gagasan baru. Sebab sebelum berangkat Walikota sudah mempunyai kesimpulan yaitu relokasi dan turap pinggiran sungai.

Jadi untuk apa blusukan, kalau Walikota sudah mempunyai rencana yang sudah akan dijalankan, atau bahkan sudah dijalankan bertahun lalu tapi tak selesai-selesai. Dan walikota sebenarnya tak perlu meluangkan waktu khusus untuk blusukan, karena permukiman pinggir sungai adalah tetangganya. Tak sampai dua ratus meter dari rumah dinas walikota, terletak salah satu titik permukiman pinggir Sungai Karang Mumus yang termasuk terpadat.

Jika penyelesaian permukiman pinggir sungai adalah memindahkan maka untuk apa blusukan. Blusukan semestinya dilakukan oleh Walikota jika ingin menggali alternatif penyelesaian lain, semisal pemukiman pinggir sungai yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan, yang tidak menganggu kesehatan sungai, melainkan mendayagunakan sungai untuk kesejahteraan bukan hanya masyarakat yang tinggal di tepi sungai melainkan juga mahkluk hidup yang ada di dalamnya.

@yustinus_esha