Tag Archives: kantor gubernur kaltim

samarinda under attack_web

Lampion dan Komersialisasi Ruang Publik

Tahun 2015 lalu, di sepanjang tepian muncullah lampion di ruang publik, dimulai dari tepian di depan Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Timur hingga Karang Asam. Beberapa figur lampion mungkin mewakili karakter Kalimantan Timur, tapi selebihnya tak ada hubungan sama sekali.

Pemasangan lampion di ruang kosong sela-sela pepohonan membuat tepian Sungai Mahakam di malam hari menjadi gemerlap. Nampak indah karena warna-warni, menyembunyikan centang perentangnya di siang hari.

Munculnya lampion segera mengundang atensi, membuat tempat-tempat yang dipasangi berubah menjadi tempat berkumpul di malam hari. Tentu saja tidak salah, sebab tepian adalah ruang publik. Hanya saja, menurut peruntukannya, tepian adalah ruang terbuka hijau, daerah green belt untuk menyangga kehidupan Sungai Mahakam. Di siang hari yang panas, hijau pepohonan di tepian bisa menjadi tempat berteduh, menikmati semilir angin, bukan hanya bagi warga tetapi juga bagi mahkluk hidup lainnya.

Dan disinilah pemasangan lampion menjadi blunder di ruang publik. Titik-titik di tepian menjadi ramai di malam hari, yang tentu saja mengundang komersialisasi ruang publik. Sepanjang titik keramaian, menjadi ramai dengan para penjual atau pedagang, juga tukang parkir. Ruang terbuka hijau kemudian diduduki untuk mengais rejeki. Tipisnya tanggungjawab untuk menjaga lingkungan, membuat ruang terbuka hijau yang sebenarnya sekarat semakin bertambah merana. Tanah dan rerumputan yang terus diinjak sepanjang malam akan padat dan mengeras sehingga membuat tanaman sulit bernafas dan menyerap air yang jatuh ke permukaannya. Belum lagi sesampahan yang umumnya adalah wadah makanan yang terbuat dari plastik.

Ramai orang yang datang dan menghabiskan waktu dengan makan serta minum, tentu saja menimbulkan limbah cair. Dan jalan termudah bagi para pedagang atau penjual adalah membuang limbah cair itu langsung ke aliran Sungai Mahakam sehingga tekanan bukan hanya pada ruang terbuka hijau di tepian melainkan juga ke badan air Sungai Mahakam.

Pertanyaannya adalah untuk apa sebenarnya ruang terbuka hijau itu, apa yang ada dalam benak para pengambil kebijakan dengan menaruh lampion di ruang terbuka hijau atau bahkan membuat wahana lampion di salah satu titik tepian Sungai Mahakam?.

Kita semua tahu bahwa Kota Samarinda yang kerap disebut sebagai ‘Ibukota Pertambangan Dunia’ karena sebagian besar wilayahnya dihibahkan untuk wilayah pertambangan ini, tuna hutan kota dan ruang terbuka hijau. Tepian Sungai Mahakam, sekurangnya dari depan Kantor Gubernur hingga Jembatan Mahakam I, berusaha dibersihkan dari aktivitas pemukiman sejak beberapa periode lalu. Penataan yang bahkan memakan korban, bangunan bersejarah untuk mengembalikan tepian sebagai jalur hijau, pagar Sungai Mahakam.

Namun yang terjadi justru inkonsistensi. Pengambil kebijakan kembali tergoda, tak tahan membiarkan ruang tidak menghasilkan pemasukan. Entah untuk PAD maupun pihak-pihak lainnya. Langkah yang sebenarnya membuat masyarakat menjadi tidak percaya pada niat pemerintah untuk menyehatkan lingkungan dengan memperbanyak ruang terbuka hijau.

Kejadian serupa, bisa juga dijumpai di titik normalisasi Sungai Karang Mumus. Wilayah-wilayah yang bisa dibebaskan dari pemukiman, kemudian di tanami, kini tumbuh menjadi tempat berjualan, mulai dari pagi hingga malam hari. Sulit menemukan ruang di tepian Sungai Karang Mumus yang bebas dari aktivitas pedagang, sehingga tepian yang merupakan ruang terbuka hijau bebas dari injakan kaki yang membuat tanahnya menjadi padat.

Kita semua tentu rindu atau ingin mempunyai tempat yang lapang, sepanjang mata memandang terlihat kehijauan, teduh dan tidak riuh. Sebuah suasana yang membuat kita saat duduk disana akan mampu berpikir jernih dan dalam. Sayangnya sampai sekarang kita tidak menemukan itu, sebab para pengambil kebijakan selalu mempersepsikan ruang publik sebagai ruang keramaian, ruang perdagangan yang malah akan membuat lingkungan semakin tertekan.

@yustinus_esha