Tag Archives: kopi

12190009_10208167413003463_5345578540369712291_n

Samarinda Bermadu

Madu, apa yang dibiarakan orang ketika ada madu di hadapannya. Bisa dipastikan pembukaan perbincangan tentang madu bukan soal khasiatnya melainkan soal asli atau tidak. Entahlah apa yang disebut dengan asli. Apakah asli itu berarti madu yang dihasilkan oleh lebah liar bukan lebah ternakan?. Atau lebah yang dihasilkan oleh lebah entah liar entah ternakan versus madu buatan atau madu oplosan?.

Soal madu asli atau palsu, barangkali cerita lelaki beristri lebih mudah dipahami. Madu asli atau tidak dengan mudah dikenali. Madu asli bila dibawa ke rumah, besar kemungkinan sang lelaki akan disambut dengan piring terbang yang dilayangkan oleh istrinya. Nah, bicara soal Samarinda, mungkin madu asli sejenis ini yang banyak ditemukan dan itu dibuktikan dengan tingginya angka perceraian yang tercatat di Pengadilan Agama serta berita-berita di halaman koran.

Tapi saya tak hendak bercerita soal madu yang bisa membuat piring melayang, melainkan madu lebah hutan yang dikenal dengan nama latin apis dorsata. Orang Berau menyebutnya dengan Unyai, orang Jawa kerap menyebutnya Tawon Gung. Lebah jenis ini merupakan lebah besar, yang ganas dan sengatannya bisa membuat orang demam semalaman.

Nah tadi malam (Sabtu, 7 November 2015) atas kebaikan dari Mas Panthom yang baru pulang fasilitasi pertemuan tahunan Jaringan Madu Hutan Indonesia, disajikan 7 jenis madu hutan dari berbagai tempat di nusantara. Semenjana, rumah seduh kopi yang biasanya menyelenggarakan cupping coffee, malam tadi menjadi berbeda karena yang di ‘cupping’ adalah madu. Madu yang dirasa berasal dari Bulungan, Riau, Alor, Ujung Kulon, Sumbawa dan Berau.

Ini adalah kali pertama saya dalam satu kesempatan mencicipi madu dari berbagai tempat dalam satu kali kesempatan. Dan hasilnya luar biasa, meski madu-masu itu dihasilkan oleh jenis lebah yang sama namun rasa dan sensasinya berbeda-beda. Madu dari Ujung Kulon, rasanya manis pahit karena lebah-lebahnya hinggap di bunga Salam Hutan. Sementara madu dari Bulungan manisnya ringan dan membawa rasa asam layaknya jeruk. Sedangkan madu dari Alor membawa rasa kimia, semacam obat.

Dari obrolan sembari menikmati sensasi dari masing-masing madu, bisa disimpulkan ternyata madu tidak berbeda jauh dengan kopi. Nusantara kaya dengan aneka citarasa kopi karena kopi ditanam di daerah yang berbeda-beda sehingga membawa karakter geografisnya. Meski sama-sama berjenis arabica namun kopi dari Aceh Gayo, Toraja, Wamena, Sunda dan Papua mempunyai karakter dan rasa yang berbeda.

Demikian juga dengan madu yang dihasilkan oleh kerja keras Si Lebah Hutan Raksasa ternyata membawa rasa yang berbeda karena perbedaan struktur vegetasi dan iklim lingkungan hidupnya. Jadi sulit mengatakan mana yang terbaik karena akan tergantung dari lidah yang merasakannya. Namun buat saya itulah yang justru membuat semua menjadi terbaik karena membawa karakter masing-masing. Jadi ketika kita ingin madu yang strong serta ingin aftertaste yang bertahan lama maka pilihlah madu dari Ujung Kulon misalnya, atau ketika ingin madu dengan rasa yang kompleks maka pilihlah madu dari Riau.

Nah, apakah Samarinda bisa mempunyai madu lebah hutan?. Kemungkinannya kecil, bukan karena di Samarinda banyak madu yang bertebaran di tempat hiburan malam (yang juga berasal dari berbagai tempat di Nusantara) melainkan karena Samarinda tak punya hutan dan jenis pohon tertentu yang menjadi tempat kesukaan lebah hutan bersarang. Namun tidak ada yang tidak mungkin sebenarnya. Samarinda bisa mem-branding Madu Samarinda meski tak menghasilkan madu lebah hutan.

Ambil contoh saja kopi, kita mengenal kopi Toraja Kalosi. Kalosi adalah nama tempat dan tidak menghasilkan kopi namun namanya dikenal sebagai ‘trade mark’ kopi arabica Toraja. Nah Samarinda bisa membangun diri, mengumpulkan madu lebah hutan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur misalnya dan kemudian mendistribusikannya dengan merk ‘Samarinda’.

Branding, meskipun itu merupakan rekayasa pemasaran, namun tetap bertumpu pada kualitas. Artinya madu yang hendak dijual harus benar-benar berkualitas baik. Mulai dari kualitas lingkungan tempat lebah hidup, pemanenan dan penanganan paska panen. Madu lebah hutan adalah madu alami, tidak diternakan, maka keberadaan tergantung dari alam. Apabila hutan terjaga maka madu lebah hutan akan terus dihasilkan.

Etika bisnis madu lebah hutan adalah madu lestari. Di mulai dari pemanenan yang tidak memakai asap atau api sehingga tidak membunuh banyak lebah, sarang tidak diambil seluruhnya dan madu ditiris bukan diremas sehingga terjaga kemurniannya.

Samarinda selama ini hidup karena aktivitas ekploitatif sumberdaya alam, baik di Samarinda sendiri maupun daerah-daerah lain di sekitarnya. Ada dosa yang harus ditebus dan madu hutan bisa menjadi sebuah ‘penebusan’ itu. Samarinda bisa mempromosikan madu hutan yang dihasilkan oleh daerah-daerah di sekitar Samarinda. Sebuah langkah yang bisa turut menjaga lingkungan, mensejahterakan masyarakat sekitar hutan sekaligus menikmati manis madunya.

@yustinus_esha

 

Samar Samar Indah

lampion-samarinda

Beberapa kali saya bertemu mobil-mobl baru aneka merek bertulis Ekspedisi Kapsul Waktu. Saya sendiri tak tahu persis apa itu Ekspedisi Kapsul Waktu yang konon akan berkeliling seluruh Nusantara yang dimulai dari Aceh hingga Merauke. Apa yang mau dikumpulkan oleh ekspedisi … read more

#coffeeducation : Kota dan Kopi untuk Semua

Memperbincangkan aroma dan rasa kopi

City for all. Kalimat pendek ini bisa jadi tidak sesederhana artinya. Kata-katanya boleh saja singkat tetapi latar belakang yang mendasari munculnya slogan ini jelas sebuah perjalanan refleksi dan pemikiran yang panjang. Kota selalu didefinisikan sebagai lapangan modernitas, segala sesuatu mencerminkan … read more

#coffeeducation : Kalibrasi lidah

Cicip Kopi

Ketika mulai bergaul lebih dalam dengan kopi, saya menjadi akrab dengan berbagai istilah seperti acidity, sweetness, after taste dan seterusnya. Kesemua itu terkait dengan sensasi rasa yang ditimbulkan oleh kopi setelah diseduh. Untuk menjadi penikmat kopi ternyata perlu lidah dengan … read more