Tag Archives: kuliner

lampion-samarinda

Samar Samar Indah

Beberapa kali saya bertemu mobil-mobl baru aneka merek bertulis Ekspedisi Kapsul Waktu. Saya sendiri tak tahu persis apa itu Ekspedisi Kapsul Waktu yang konon akan berkeliling seluruh Nusantara yang dimulai dari Aceh hingga Merauke. Apa yang mau dikumpulkan oleh ekspedisi ini adalah impian atau harapan serta gambaran Indonesia 70 tahun lagi. Jadi apa yang disimpan dalam kapsul itu akan dibuka 70 tahun mendatang.

Sebagai sebuah gagasan tentu menarik, impian masyarakat hari ini disimpan untuk kemudian dibuka pada saat tertentu dan dilihat apakah tercapai atau tidak. Namun rentang waktu 70 tahun adalah rentang yang panjang, mereka yang menuliskan impian, harapan atau gambaran itu barangkali sudah berbaring tenang di bawah tanah.

Kalau dilihat sambutan dan kemegahannya disetiap kota yang disinggahi, Ekspedisi Kapsul Waktu jelas berbiaya besar. Namun sungguh sayang jika tujuannya hanya mengumpulkan sesuatu untuk kemudian ditaruh dalam wadah berbentuk kapsul. Sebuah ekspedisi meski bertujuan untuk memproyeksi kondisi atau gambaran di masa jauh ke depan, mestinya menangkap kondisi hari ini dan menyimpannya dalam aneka bentuk sebagai bahan pembelajaran, perencanaan atau pengambilan keputusan untuk masa depan.

Saya tak hendak membandingkan Ekspedisi Kapsul Waktu dengan Ekspedisi Indonesia Biru yang juga sempat singgah di Kota Samarinda. Dua ekspedisi ini tak bisa dibandingkan karena memang tak sebanding. Ekspedisi Indonesia Biru adalah perjalanan dua orang yang tidak disertai gemebyar. Kendaraan yang dipakai juga bukan kendaraan baru, melainkan motor lama yang dimodifikasi agar tetap gesit dan irit di segala jenis medan. Ekspedisi Indonesia Biru juga bukan sebuah laku yang sengaja diwartakan melalui media massa, perjalanan mereka adalah sebuah perjalanan sunyi.

Namun perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru yang kurang lebih sudah berlangsung 10 bulan telah menghasilkan berbagai macam catatan, baik dalam bentuk tulisan, gambar maupun film yang bisa mengambarkan dinamika dan kondisi masyarakat terutama rakyat kecil yang tetap saja masih terinjak-injak akibat kebijakan pembangunan yang tak berpihak pada ‘wong cilik’. Dan buat saya, orang-orang yang berkutat dengan kesulitan hari ini serta kekhawatiran pada esok hari, tak akan mungkin untuk diajak bermimpi dan mengambarkan Indonesia 70 tahun lagi.

Malam tadi (31 Oktober 2015), ketika berbincang dengan beberapa kawan perihal Indonesia di masa depan. Seorang kawan sangsi bahwa negeri ini mampu mengambil bagian dan peran besar dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk menjadi penopang utama penghasilan atau pendapatan baik rakyat maupun negara. “Kita masih akan terus mengeruk sumber daya alam sampai habis, dan kemudian membelanjakan untuk teknologi yang tidak efisien, teknologi yang sebenarnya mau dibuang oleh pembuatnya,” ujar seorang kawan.

Dan kemudian dia melanjutkan bahwa yang potensial bagi negeri ini ke depan adalah keragaman makanan dan minuman serta tempat-tempat wisata. “Dua hal ini modal utama kita ke depan untuk bertahan hidup dan terus eksis di dunia ini,” katanya yakin.

Kalau dipikir-pikir mungkin ada benarnya juga. Negeri kita dipenuhi dengan keragaman dan itulah kekayaan kita. Sebut saja Kopi misalnya, terbukti bahwa kopi Nusantara beragam rasanya karena ditanam oleh banyak orang berbeda dan pada tanah yang berbeda sehingga menimbulkan ragam karakter yang berbeda pula.

Pertanyaan saya adalah bagaimana dengan Samarinda?.

Seorang teman yang lain menceritakan kebingungannya, saat beberapa orang anggota keluarganya datang bersamaan ke Samarinda. “Saya tak tahu mau ajak kemana, yah akhirnya saya bawa saja ke Islamic Centre,” katanya.

“Iya juga ya,” begitu terucap dalam batin saya.

Selama saya tinggal di Kota Samarinda, meski banyak outlet Tour and Travel, saya belum sekalipun menemui semacam brosur atau apapun yang menyajikan paket city tour, cultural show dan lain-lain. Ada juga banyak penyewaan mobil, tapi kalau kita datang dan mengatakan “Saya ingin menghabiskan waktu seharian dengan berkeliling Kota Samarinda, apa yang bisa saya lihat dan nikmati?”. Pasti sopir atau pemilik mobil sewaan bakal kebingungan dan mungkin akan bilang “Saya antar ke Balikpapan saja Pak, banyak pantai disana,”

Kalau soal makanan, jangan khawatir. Kota Samarinda banyak menyimpan berbagai jenis kekayaan kuliner Nusantara karena sejak semula keberadaannya, kota ini merupakan tujuan migrasi. Banyak kelompok penduduk dari penjuru Nusantara datang kesini dengan membawa kebudayaan masing-masing termasuk makanan dan minumannya. Begitu dominannya berbagai jenis makanan yang dibawa dari luar justru membuat orang malah kebingungan jika ditanya “Apa sih makanan atau masakan khas Samarinda?”.

Tapi sudahlah, toh kita mempunyai Dinas Pariwisata yang rajin mengelar berbagai event untuk mempromosikan potensi wisata dan menarik wisatawan ke Kota Samarinda. Walau buat saya sampai hari ini Kota Samarinda masih Samar Samar Indah (nya).

@yustinus_esha

 

Melawan lewat Pasar Malam

Foto : artikelbunda.com

Makan dalam banyak kebudayaan bukanlah sekadar aktivitas untuk mengenyangkan perut belaka. Maka ada pepatah lama yang mengatakan “Makan untuk Hidup, bukan Hidup untuk Makan”. Dalam makan terkandung peradaban, sopan santun, sistem nilai dan pengajaran. Orang Jawa (dulu) kerap mengatakan “Mangan … read more

Memanjakan Lidah dengan Rasa Pedas

Seseorang disebut kreatif biasanya karena mempunyai banyak gagasan atau ide yang berbeda dibanding banyak orang lainnya. Kreatif juga kerap dikaitkan dengan seni, mulai dari musik, seni pertunjukan, seni rupa, film dan video. Pengembang animasi dan games juga disebut sebagai industri … read more