Tag Archives: lalu lintas

Taman Bhayangkara  Sumber : beritakaltim.com

Taman Itu Bernama Samarendah

Sudah beberapa lama saya tidak melewati taman yang dibangun diujung jalan Bhayangkara. Dan ketika melewati ternyata di satu disisi telah dipasangi tulisan Taman Samarendah. Sontak saja timbul pertanyaan dalam hati kenapa dinamakan dengan nama Samarendah. Sebab dari penampilannya saja jelas taman itu lebih tinggi dari kesekitarannya.

Ya, penamaan Samarendah tentu saja bakal menimbulkan tanya bagi orang yang melewatinya terutama mereka yang tidak tahu asal usul atau sejarah penamaan Kota Samarinda. Cerita umum yang dipahami di balik kata Samarinda adalah Sama Rendah. Artinya permukaan daerah atau kota Samarinda sama rendah dengan permukaan air sungai Mahakam.

Pemahaman ini menyiratkan bahwa dulu pemukiman di Kota Samarinda yang umumnya di pinggir sungai Mahakam merupakan area pasang surut. Sehingga warganya terbiasa dengan ‘banjir’. Pemahaman seperti inilah yang mungkin membuat para pengambil kebijakan seolah-olah tidak terlalu gesit menanggapi banjir di Kota Samarinda yang terus berkembang intensitas dan keluasan wilayahnya. Kini yang banjir bukan lagi di tepian Sungai Mahakam tetapi banjir tetap dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja, seharusnya terjadi atau bahkan ‘takdir’ Kota Samarinda.

Tafsir lain yang lebih bermakna sosial altruistik berasal dari kisah perdana masyarakat Sulwesi Selatan yang datang untuk menetap di Samarinda. Mereka yang datang terdiri dari kaum bangsawan dan rakyat biasa. Ketika mereka datang menetap di Samarinda membangun rumah di tepian sungai. Tinggi rumah antara kaum bangsawan dan rakyat biasa tidak berbeda, sehingga tidak terlihat perbedaan antara kaum bangsawan dan rakyat biasa. Jadi di Samarinda munculah egalitarianisme, kesetaraan diantara warga yang datang yang ditempat asalnya mengenal stratifikasi sosial.

Tafsir kedua ini mungkin lebih cocok untuk Kota Samarinda yang dari sejarahnya tidak mengenal aristrokrasi. Kota ini tumbuh sebagai melting pot, wadah dari berbagai kelompok yang kemudian datang menetap tanpa memelihara kelas sosial dari daerah asalnya.

Namun jika tafsir satu dan dua dihubungkan sebenarnya sifat egalitarian itu mulai hilang. Karena serangan banjir kini banyak warga Samarinda meninggikan rumah, atau membangun rumah dengan pondasi lebih tinggi dari rumah-rumah yang sudah ada tanpa memperdulikan bahwa keberadaannya tambah menenggelamkan tetangganya. Muncul juga perumahan-perumahan di perbukitan yang diiklankan sebagai bebas banjir. Dan pemukiman bebas banjir itu dibangun dengan tumbal memunculkan banjir di sekelilingnya.

Jadi apa makna Sama Rendah?. Apakah ini merupakan pertanda perilaku kontemporer dari warga Kota Samarinda yang sama-sama rendah kesadaran berlalu lintas misalnya sehingga banyak terjadi kecelakaan. Menerobos lampu merah, belok tanpa tanda lampu sein, parkir sembarang sehingga menyebabkan macet. Atau menggunakan trotoar untuk parkir kendaraan atau melintas ketika jalanan macet. Tak heran jika kemudian ada trotoar di ruas jalan tertentu diberi patok-patok besi. Trotoar kemudian menjadi steril dan enak dipandang namun pamakai kursi roda dipastikan tak bisa melewati trotoar itu. Alhasil sebuah upaya mengatasi masalah ternyata menimbulkan permasalahan baru secara kasat mata.

Atau bisa jadi Sama Rendah adalah cermin kesadaran lingkungan dari warga Samarinda yang mencari selamat sendiri, meninggikan pondasi rumah tanpa memperhatikan kesekitaran, melakukan pematangan lahan dibebukitan untuk menyediakan pemukiman bebas banjir tapi menimbulkan kebanjiran bagi pemukiman lainnya. Atau menjaga kebersihan rumahnya sendiri dengan membuang sampah di lahan-lahan kosong yang jauh dari rumahnya.

Atau Sama Rendah berarti kinerja pelayanan publik yang sama-sama tidak memuaskan bagi warganya. Listrik yang mati-mati, perijinan yang berbelit dan lama, layanan jaring pengaman sosial yang birokratis dan layanan kebutuhan dasar seperti air bersih yang terus memburuk dari waktu ke waktu. Sehingga warga saling berlomba untuk memperbesar daya sedot pompa untuk mengalirkan air dari pipa PDAM ke bak-bak di rumahnya.

Tapi entahlah, ini semua hanya sebuah duga-duga yang muncul dari diri saya ketika membaca tulisan Taman Samarinda. Jadi apa maksud dan tujuan sebenarnya hingga taman itu dinamakan sebagai Taman Samarinda saya sendiri tidak tahu dan saya yakin kebanyakan warga Kota Samarinda bgitu juga. Barangkali pertanyaan yang kerap muncul di benak warga Kota Samarinda ketika melewati Taman Samarendah ini adalah “Kapan taman yang dibongkar pasang ini akan jadi?.

@yustinus_esha