Tag Archives: lebaran

Foto : artikelbunda.com

Kupatan alias Lebaran Ketupat

Foto : artikelbunda.com

Foto : artikelbunda.com

Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, salah satu yang mengembirakan adalah acara ‘kupatan’. Acara ini biasanya diadakan saat hari kenaikan kelas. Setiap siswa diminta membawa beberapa ketupat dan lauknya ke sekolah.

Begitu diumumkan, pulang sekolah semua langsung sibuk. Saya biasanya bersama beberapa teman pergi ke Mbak Somo untuk minta tolong diambilkan janur atau daun kelapa muda. Setalah itu minta tolong ke orang yang lebih tua untuk membuatkan selongsong ketupat dari janur yang diambil oleh mbah Somo. Biasanya saya dan teman-teman ikut mencoba-coba membuat selongsong ketupat, tapi kebanyakan tidak jadi. Seingat saya waktu itu, saya dan teman-teman bisa membuat ketupat, namun ketupat kecil untuk mencari jangkrik, maka disebut ketupat jangkrik.

Setelah selongsong selesai, saya bawa ke rumah. Bapak atau ibu yang kemudian meneruskan kesibukan, mempersiapkan beras, mengisi dalam selongsong ketupat dan kemudian merebusnya di tungku dengan kayu bakar. Ibu biasanya membuat kering tempe sebagai lauk untuk ketupat itu dan menyuruh saya pergi ke warung untuk membeli telur asin atau abon sebagai pelengkapnya.

Karena dimasak di tungku dengan bahan bakar kayu perlu waktu berjam-jam agar ketupat itu masak. Biasanya saya bolak balik membuka tutup panci untuk mengecek apakah ketupat sudah masak atau belum. Setelah masak, ketupat ditiriskan dan yang akan dibawa ke sekolah disisihkan.

Heboh dengan ketupat, kembali saya alami ketika berada di Manado. Saat itu berkembang yang disebut Lebaran Ketupat. Sebuah kebiasaan yang diperkenalkan oleh masyarakat Jawa Tondano yang berada di Minahasa. Orang Jaton demikian sebutannya adalah masyarakat yang tumbuh dari pembuangan Kyai Mojo ke Sulawesi Utara oleh Belanda dulu.

Kyai Mojo dibuang dengan rombongan yang kesemuanya laki-laki. Mereka kemudian menetap di pinggiran Danau Tondano. Rombongan yang kesemuanya laki-laki ini kemudian menikah dengan perempuan-perempuan Minahasa hingga melahirkan keturunan yang disebut sebagai Jawa Tondano atau Jaton.

Di kampung Jaton ini lahir tradisi Bhada atau Riyaya Kupat atau disebut sebagai Lebaran Ketupat. Lebaran Ketupat biasanya dirayakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Kebiasaan Lebaran Ketupat ini kemudian diikuti oleh warga Muslim di Manado yang agak terkonsentrasi di Kecamatan Tuminting. Perayaan Lebaran Ketupat lebih ramai dari Hari Raya Idul Fitri karena di lorong atau gang didirikan panggung hiburan dan ditanah lapang biasanya diadakan acara panjat pinang. Lebaran Ketupat adalah pesta rakyat.

Entah sejak kapan ketupat menjadi penanda untuk merayakan hari raya terutama Hari Raya Idul Fitri, atau biasa disebut Badha oleh orang Jawa yang artinya sesudah hingga kemudian popular dengan sebutan Lebaran yang berasal dari kata dasar ‘lebar’ (usai).

Sejauh ingatan saya, ‘kupat’ dalam bahasa Jawa diartikan sebagai kependekan dari ‘Ngaku Lepat’ atau mengakui kesalahan. Sesuatu yang biasa dilakukan saat halal bihalal atau silahturahmi yang isinya saling mengucapkan selamat sambil bermaaf-maafan. Semua saling bermaaf-maafan, bahkan ketika saya sungkem kepada ‘Simbah, Eyang, Kakek-Nenek’ merekapun akan mengatakan ‘Sebagai orang tua mereka juga banyak salahnya”. Nah, saling maaf memaafkan ini akan membawa keluarga, masyarakat kembali dalam keadaan damai, berhubungan baik satu sama lainnya dan itu ditandai dengan ‘kupatan’.

Ketupat atau kupat sendiri selongsongnya terbuat dari janur. Janur dimaknai sebagai sejatine nur, atau kejatian roh, jatidiri. Hadirnya ketupat di hari setelah menjalankan puasa menjadi penanda siapapun yang menjalankan ibadah puasa telah kembali menjadi manusia sejati, manusia yang suci karena telah menerima berkah dan pencerahan selama menjalankan puasa secara penuh.

Bahan ketupat yang berupa rangkaian janur dari satu urat daun kelapa muda dan segenggam beras juga diajarkan sebagai sebuah perlambang adanya jalinan atau penyatuan. Sebagai sebuah kesatuan maka ada tabu ketika menikmati ketupat. Ketupat tidak boleh diurai untuk mengeluarkan segenggam beras yang telah masak dan kemudian menjadi semacam nasi padat itu. Maka untuk menikmati ketupat, mesti diiris agar selongsong ketupat tidak buyar.

Dengan demikian baik selongsong maupun isi ketupat semuanya melambangkan adanya penyatuan. Lembar daun yang dirangkai, kemudian menjadi wadah untuk merekatkan bulir beras menjadi makanan yang mengenyangkan sekaligus nikmat untuk dimakan. Maka menikmati ketupat secara bersama-sama menjadi perlambang adanya persatuan dan kesatuan dari masyarakat, sesama warga dalam kegembiraan.

Barangkali kini, pembuat dan penikmat ketupa tak lagi menghayati filosofi atau makna yang terkandung di balik ketupat itu. Namun menikmati ketupat di hari lebaran, disadari atau tidak, ketupat tetap membawa kegembiraan bersama, mengikat dan menyatukan keluarga, sanak saudara dan handai tolan dalam satu persatuan.

Dan rasa itu saya alami ketika beberapa kali ikut merayakan Lebaran Ketupat di Manado. Ketupat dan sajian penyerta lainnya menyatukan masyarakat Manado yang plural. Lebaran ketupat bukan saja menyatukan kaum muslim disana karena kaum nasrani-pun ikut dalam kegembiraan itu sebab Lebaran Ketupat telah menjadi pesta rakyat. Meski yang menjadi host adalah kaum muslim, namun yang turut dalam perayaan itu adalah semua orang. Pada hari Lebaran Ketupat, pintu rumah kaum muslim terbukta untuk semuanya, kenal tidak kenal, semua akan disambut begitu melewati pintu rumah.

Dan untuk saudara, kawan dan handai tolan, masyarakat Manado, dari jauh saya mengucapkan selamat merayakan Lebaran Ketupat yang akan jatuh pada hari Sabtu, 25 Juli 2015 ini. Torang Samua Basudara.

@yustinus_esha