Tag Archives: mandailing

segelaskopi

#coffeeducation : De-Globuckisasi

Rifki Ramadhan Sang Juara

Rifki Ramadhan Sang Juara

Dalam perbincangan tentang gelombang pergerakan kopi, Starbuck, gerai kopi modern dari Amerika Serikat menduduki tempat tersendiri. Gelombang globalisasi ‘Serba Amerika’ yang kerap disebut dengan McWorld tidak hanya membuat Coca-Cola, NBA, MTV dan Mc Donald ternama melainkan juga Microsoft, Macintosh dan ngopi dengan gaya baru ala Starbuck.

Amerika memang selalu punya gaya. Karena Starbuck, anak-anak muda Indonesia kemudian doyan dan kenal kopi. Caffee Shop kemudian jadi tempat yang favorit untuk kongkow-kongkow. Pangsa kopi non tradisional yang terus meningkat membuat pertumbuhan gerai-gerai kopi modern yang menyajikan kopi espresso base menjamur dimana-mana. Salah satu syarat agar gerai ramai dikunjungi adalah banyak colokkan dan tersedia free-wifi.

Peluang untuk meraup rupiah dari ‘ngupi-ngupi’ ini bahkan membuat gerai-gerai yang secara tradisional menyediakan kopi turut mencoba peruntungan. Sebut saja KFC, Kentucky Fried Chicken yang dibeberapa tempat merenovasi bangunan untuk menyediakan ruang bagi mereka yang pingin nongkrong sambil menyeruput kopi dan online. Beberapa jaringan minimart juga melakukan hal yang sama sehingga menjadi tempat favorit untuk anak-anak muda kumpul-kumpul.

Hal yang serba Amerika memang masih punya pengaruh kuat terhadap generasi muda di Indonesia. Mc Word tetap berjaya meski diinterupsi oleh manga, harajuku dan cosplay ala Jepang, boy dan girls band ala Korea, dan kisah-kisah mahabarata India serta kini sinema dari Turki.

Saya tak perlu membuktikan jauh-jauh, sebab hari minggu lalu (21 Juni 2015), anak saya yang baru naik kelas 4 SD, meminta sejumlah uang karena ingin nongkrong di Starbucks yang baru buka sehari sebelumnya di Big Mall Samarinda. Entah tahu dari mana, tapi sebelum Starbucks buka di Samarinda, setiap liburan sekolah, anak saya selalu ingin liburan ke Balikpapan. Pergi ke Balikpapan, bertujuan untuk menginap di hotel, berenang di kolam hotel, pergi ke pantai, tujuan utama yang lain adalah nongkrong di Starbucks.

Saya sendiri memasuki tahun 2015, mulai jarang berkunjung ke coffee shop modern ala Starbucks. Dan selain strarbucks tahun ini di Samarinda dibuka pula Coffee Bean. Namun kehadiran coffee shop ini tidak menarik lagi perhatian saya.

Dari bincang-bincang dengan beberapa kawan pengemar kopi, saya mendapat informasi tentang beberapa coffee shop lokal yang baru buka dan menyajikan kopi dengan cara manual brewing. Dan berbekal nama serta lokasi saya mulai perburuan coffee nusantara yang diseduh dengan cara non mesin itu.

Dan dari bincang-bincang di sebuah kedai yang menyajikan kopi dengan vietnam drips, mulailah ‘perjalanan kopi’. Seorang kawan memfasilitasi sebuah ‘private brewing’ dengan menghadirkan seorang ‘barista’ yang merupakan penghobby kopi. Sejak saat itu beberapa kali kegiatan private brewing dilakukan dan itu menambah pengetahuan saya tentang kopi nusantara, seduh manual dan bagaimana merasai kopi.

Saya bukanlah pembenci Amerika, namun juga tak mau luruh dalam McWorld. Dan pertumbuhan kopi nusantara dengan kedai-kedai yang menyajikannya tanpa mesin meski didasari oleh semangat berbisnis namun dalam pergerakan kopi bisa digolongkan sebagai de-globuckisasi. Manual brewing dengan pilihan biji kopi nusantara, mulai dari Gayo, Sidikalang, Mandailing, Java Preangers, Lintong, Kintamani, Wamena Papua, Toraja, Flores dan lain sebagainya bisa jadi merupakan langkah perlawan atas segala macam yang berbau Starbucks.

Jadi buat para pecinta kopi, ayo mulailah mengkonsumsi kopi dari penjuru nusantara yang sangat kaya rasa dengan cara seduh tanpa mesin. Cara seduh manual ini selain hemat listrik juga bisa dilakukan di rumah. Dan ramai-ramai minum kopi di rumah dengan kerabat dan sahabat akan membuat rumah menjadi tempat silaturahmi dan membina persaudaraan. Apapun yang dimulai dengan baik dari rumah tinggal akan menjadi pendidikan dan pengajaran baik bagi anak-anak kita, generasi muda penerus bangsa. Banggalah menjadi Indonesia.

@yustinus_esha