Tag Archives: mc world

Foto : artikelbunda.com

Melawan lewat Pasar Malam

Makan dalam banyak kebudayaan bukanlah sekadar aktivitas untuk mengenyangkan perut belaka. Maka ada pepatah lama yang mengatakan “Makan untuk Hidup, bukan Hidup untuk Makan”. Dalam makan terkandung peradaban, sopan santun, sistem nilai dan pengajaran.

Orang Jawa (dulu) kerap mengatakan “Mangan ora Mangan Sing Penting Kumpul”. Ini adalah ajaran soal harmoni, ikatan sosial. Bahwa suka dan duka mesti ditanggung bersama. Makan kepentingannya bukan untuk diri sendiri melainkan harmoni dengan sesama, saudara, keluarga. Di meja makan selalu ada ajaran untuk ‘tidak besar mata daripada perut’. Artinya makan secukupnya, berhenti sebelum kenyang.

Menyisakan makanan di piring adalah tabu. Karena menyisakan makanan berarti tanda tidak bersyukur bahwa kita telah diberi rejeki sementara banyak orang lainnya mungkin saja kekurangan. Makan juga harus hati-hati, piring tidak boleh klutak-klutik dan nasi tidak boleh tercecer di meja. Menunjukkan gaya makan yang ngotot, brokoh atau serakah dinilai menurunkan derajad kemanusiaan.

Namun di masa modern, dimensi makan menjadi semakin meluas. Makanan adalah kebutuhan manusia paling dasar. Maka makanan adalah sebuah senjata untuk menguasai dunia. Industri makanan adalah industri besar yang bukan sekedar menjual produk melainkan juga mendeterminasi selera termasuk kelas sosial dalam masyarakat ultra modern.

Amerika Serikat menjadi ‘raja dunia’ salah satunya dengan senjata makanan dalam arti luas. Dominasinya ditunjukkan lewat ‘Mc World’ yang hadir melalui bendera fast food macam Mc Donald, KFC, Pizza Hut, Starbucks, Coca Cola, Pepsi dan produk gandum lain dalam bentuk aneka rupa. Hadir dan menikmati aneka sajian dalam gerai-gerai Amerika itu membuat orang merasa secara otomatis masuk dalam peradaban terdepan.

Dalam konteks lokal pertarungan untuk melebarkan pengaruh sebenarnya juga tak kalah ramai. Rumah makan Padang, Warung Tasik, Warung Tegal, Coto Makassar dan lain-lain melebarkan sayap, melintasi batas wilayah dan bahkan populer justru bukan di tempat yang dipakai sebagai namanya.

Kota Samarinda adalah ruang pertempuran yang sangat nyata. Menelusuri ruas-ruas jalan di Kota Samarinda jajaran kuliner dengan bendera masing-masing bertempur memperebutkan pengaruh. Coto Makassar, Soto Banjar, Soto Ayam adalah cerita lama yang kini disusul Soto-Soto baru. Warung Padang, Warung Tegal dihajar oleh Warung Kediri, Warung Gresik, Warung Lamongan dan lain sebagainya. Dan kemudian sapuan angkringan tidak kalah masiv-nya.

Di tengah gelombang Angkringan yang belum juga meredup, arus lain muncul yaitu Nasi Uduk Bandung sebuah sajian yang serba minimal namun cepat dan tak kalah nikmat. Lalu dimana tempat kuliner asli Samarinda?.

Entah dimana kuliner Samarinda bisa ditemukan?. Mungkin saja ada, namun sedikit sebagaimana Warung Kutai dan Warung Dayak. Rasanya di Samarinda jauh lebih menemukan Warung Minahasa, Manado atau Lapo Batak ketimbang Warung yang menyajikan kuliner Samarinda, Kutai atau Dayak.

Geliat kuliner Kutai justru terdengar di Yogjakarta, ketika Butet Kartarejasa yang beristri orang Kutai membuka warung makan Bu Ageng yang menyajikan makanan khas Kutai. Sementara Warung Dayak di Kota Samarinda nampaknya hanya bisa ditemui di Jalan Barito.

Di permukaan benteng pertahanan kuliner lokal di Kota Samarinda sudah teramat jelas tak menyisakan ruang eksistensinya. Benteng pertahanan terakhir hanyalah dapur warga Kota Samarinda yang sebagian besar mungkin tak paham apa jenis makanan atau minuman lokal khas Kota Samarinda.

Dalam ruang ekonomi, pucuk daun labu, pucuk singkong, terong pipit, bawang tiwai dan umbut rotan serta cucur, serabi, nagasari atau lemper masih bisa ditemui di pasar malam, pasar tradisional yang kian tergerus oleh kehadiran ruko dan mall-mall. Pasar yang dahulu masih mempunyai tempat yang lapang di pinggir jalan kini hadir berderet di tepian jalan yang bagi para pengendara kerap menimbulkan gerutu karena jalanan menjadi macet.

Dan di ruang seperti itulah kini bahan makanan kuliner lokal masih bisa bertahan untuk merebut ruang dapur keluarga yang lebih banyak dipakai untuk memasak makanan instan macam indomie, sarimi, super mie, bubur instan dan ikan kaleng plus telur ayam broiler.

Jadi jangan mengeluh kalau anak-anak kita sekarang lebih sulit mendengarkan orang tua, lebih senang berada di luar rumah atau asyik dengan gadgetnya. Meski ada pelajaran etika dan budaya tradisional di sekolah namun mereka lebih senang berdandan ala orang Jepang atau Korea. Titik kehancuran budaya ini dimulai dari dapur dan meja makan rumah kita. Kita mulai meninggalkan pembangunan peradaban lewat makan bersama di rumah. Yang kita sebut makan bersama adalah pergi berkendara ke luar rumah dan kemudian makan bersama di restoran.

@yustinus_esha