Tag Archives: Menjadi Berarti

Karangmumus5

Menjadi Berarti Meski Terkadang Dianggap ‘Mengecat Langit’

Seorang teman mengatakan untuk menjadi orang besar maka harus berteman dengan orang besar, melakukan hal besar dan kemudian mengalahkan orang besar lainnya. Namun tentu saja tidak semua orang bisa melakukan hal ini, atau tidak banyak orang dikaruniai keberanian besar semacam teman saya yang kini memang sudah jadi orang besar itu.

Kebanyakan dari kita tidak akan menjadi orang besar namun itu tidak berarti bahwa kita tak akan bisa mempunyai arti bagi kehidupan dan masyarakat dimana kita hidup. Kita semua punya potensi yang sama untuk menjadi orang yang berarti.

Menjadi berarti tidak butuh aksi-aksi besar, rumit dan mengerahkan sumberdaya yang besar. Orang bisa menjadi berarti melalui tindakan-tindakan kecil dan sederhana. Asalkan tindakan itu dilakukan secara konsisten, konsekwen dan berbasis pada sesuatu yang dibutuhkan. Menjawab kebutuhan itulah inti menjadi berarti. Kebutuhan itu bisa saja kebutuhan individu, kelompok maupun kebutuhan lingkungan.

Tadi malam seorang teman saya yang lain membeber sebuah analisis psikososial atas Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM yang kini seakan sedang berkembang menjadi wabah. Gerakan yang dimulai dari tepi jembatan Kehewanan ini kini tengah menjadi viral bukan hanya di dunia maya melainkan juga di dunia nyata.

Minggu lalu dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan Pak Misman dan Pak Iyau begitu kepayahan karena diserbu oleh berbagai komunitas yang datang untuk ikut bersih-bersih di Sungai Karang Mumus. Mereka kepayahan karena menemani dan mengawasi aktivitas memungut sampah di Karang Mumus agar apa yang dipungut benar-benar merupakan sesuatu yang harus dipungut.

Dan saya juga yakin Pak Sugianto tidak kalah payahnya karena harus bolak-balik menuju TPS untuk menaruh sampah yang berhasil dipungut yang jumlahnya tidak hanya satu dua gerobak saja.

“Gelombang orang yang datang adalah buah dari konsistensi. Laku yang menunjukkan integritas seseorang atau sekelompok orang akan mudah untuk mengajak orang lain berlaku sama,” ujar teman saya itu.

Menjadi konsisten memang tidak mudah. Saya tahu persis bahwa Pak Misman, Pak Iyau dan teman-teman lainnya kerap dicemooh karena aksi kecilnya itu. Ada yang mengatakan apa yang dilakukan adalah sebuah kesia-siaan, sebagaimana diucapkan dalam kalimat “mengarami air laut” atau bahkan lebih ekstrim lagi “mengecat langit”.

Namun cemooh atau anggapan miring tidak ditanggapi oleh mereka. Meski itu terkadang menyakitkan dan tidak mengenakkan hati namun sampah di Karang Mumus tetap dipungut seberapapun jumlahnya. Sehelai menjadi perlambang bahwa kita memang tak bisa memungut banyak, namun jika semua orang mengambil sehelai setiap harinya dan tidak membuang sehelaipun ke sungai maka sungai akan bersih.

Kini setelah berbulan memungut sampah di Sungai Karang Mumus terus dilakukan dan hasilnya menyajikan sedikit penampakan sungai yang berbeda. Memungut sampah di Sungai Karang Mumus menjadi sebuah laku yang berarti.

“Saya yakin mereka yang kini berbondong datang ke Karang Mumus untuk memungut sampah, pasti disadari akan sebuah keinginan untuk menjadi berarti, berarti bagi Samarinda. Dan mereka bangga bisa menjadi bagian dari sebuah gerakan tanpa pamrih untuk menjadikan Sungai Karang Mumus sebagai kebanggaan Kota Samarinda,” terang teman saya.

Ini sungguh membanggakan dan memberi harapan bahwa masih ada persaudaraan di Kota Samarinda yang bisa menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan. Kita bisa belajar dari gerakan ini dibanding gerakan-gerakan lain yang dicanangkan oleh pemerintah misalnya. Gerakan yang diawali dengan rapat-rapat, workshop, studi banding, kajian yang rumit yang tentu saja membutuhkan dan mengeluarkan biaya banyak dari APBD namun kemudian sirna setelah dicanangkan dan hanya tersisa di baliho atau spanduk di sekeliling kota.

Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus menjadi berarti karena ini adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh Kota Samarinda untuk menyehatkan lingkungan hidupnya. Jika kemudian gerakan ini kemudian memperoleh dukungan dari relawan, mereka yang meluangkan atau bahkan mengorbankan waktunya, ini karena dengan terlibat di dalamnya orang merasa menjadi berarti tanpa menyombongkan diri.

“Menjadi berarti dengan melakukan hal yang sederhana dan bangga karenanya, inilah roh yang harus kita jaga,” pungkas teman saya itu.

@yustinus_esha