Tag Archives: Muara

5437_1542443052725142_2077138172842059250_n

Landai dan Cekung

Hari Minggu lalu (29/05/2016) saat mengambil gambar kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Jembatan Gelatik, ada seseorang mengajukan pertanyaan “Bagaimana membuat Sungai Karang Mumus jadi bersih?”.

Tentu ini sebuah pertanyaan sulit dan tak bisa langsung dijawab seperti layaknya acara kuis di televisi. Tapi kalau mau jawaban yang singkat dan padat, Sungai Karang Mumus bisa bersih kalau isi otak dan hati warga Kota Samarinda mulai dari pejabat, pengusaha, hingga warga pada umumnya juga bersih.

Secara kasat mata yang mengotori Sungai Karang Mumus adalah warga yang membuang sampah dan limbah secara langsung di Sungai Karang Mumus. Sampah dan limbah yang berasal dari aktivitas rumah tangga maupun industri rumahan serta pertanian/peternakan/perladangan. Yang dimaksud dengan warga tentu saja bukan hanya warga yang tinggal di bantaran/sempadan sungai melainkan juga warga lainnya. Sebab tidak sedikit warga yang jauh dari sungai juga meluangkan waktu dan meniatkan langkah membuang sesampahan ke sungai.

Sampah dan limbah bukan satu-satunya masalah yang membuat Sungai Karang Mumus menurun kwalitasnya. Ada banyak deret masalah lainnya yang menyumbangkan pengaruh sehingga wajah Sungai Karang Mumus menjadi berubah. Sungai Karang Mumus misalnya kehilangan ruang perlindungan, daerah yang menyangga keberadaannya.

Secara teknis keberadaan Daerah Aliran Sungai Karang Mumus pasti disangga oleh dokumen yang membagi kawasannya dalam berbagai zona. Namun apakah zona-zona itu terjaga hingga sekarang?. Sepertinya tidak dan ini dibuktikan dengan tingkat sedimentasi yang tinggi. Sedimentasi terjadi akibat pembukaan lahan untuk berbagai kepentingan mulai dari daerah hulu hingga ke hilir.

Percampuran antara kebiasaan membuang sampah dan limbah secara langsung ke sungai dan sedimentasi membuat air Sungai Karang Mumus menurun jauh kwalitasnya sehingga secara kasat mata saja bisa disimpulkan bahwa airnya tak layak untuk kehidupan. Kehidupan baik segala macam biota yang ada dalam air, maupun masyarakat di sekitarnya.

Suatu kali dalam bincang-bincang dengan Pak Iyau Tupang dikatakan olehnya karakter Sungai Karang Mumus berbeda dengan sungai di Kalimantan Selatan. Sungai disana mengalir deras, sehingga kotoran akan hanyut dan bertumpuk di muara. Sementara Sungai Karang Mumus tidak demikian, sehingga pembersihan dan pengerukan tak bisa hanya dilakukan di muara.

Apa yang dikatakan oleh Pak Iyau, senada dengan yang disampaikan oleh Yohanes Budi Sulistioadi yang pernah melakukan penelitian Bathymetry Survey di Sungai Karang Mumus tahun 2009 lalu. Menurutnya Sungai Karang Mumus landai sehingga arusnya tidak kuat dan uniknya, sungai ini membentuk cekungan. Jadi kontur sungai menurun mulai dari Waduk Benanga hingga Pasar Segiri, namun kemudian naik lagi hingga ke muara. Inilah yang kemudian membuat sampah misalnya, seolah mengalir ke muara, namun kemudian kembali lagi ke arah hulu karena didorong oleh air pasang dari Sungai Mahakam.

Dengan segala keunikannya, maka menjaga Sungai Karang Mumus agar tetap bersih tidak bisa dilakukan dengan model ‘bussiness as usual’. Cara yang biasa-biasa saja tidak akan menyelamatkan Sungai Karang Mumus. Ada banyak faktor yang membuat Sungai Karang Mumus menjadi ringkih, layaknya bejana kaca yang mudah pecah.

Sungai ini sudah berpuluh tahun dibiarkan begitu saja, kalaupun ada upaya untuk merawat dan menjaganya itu dilakukan secara parsial dan temporer. Tidak ada perhatian dan komintmen yang diwujudkan secara terus menerus, sehingga permasalahan semakin tahun semakin menumpuk dan melahirkan anak masalah bahkan cucu masalah baru.

Akibatnya beban yang ditimbulkan semakin berat. Misalnya kalau harus dikeruk agar kedalaman sungai ini kembali berkisar antara 5 – 7 meter, maka jelas dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, 100 hingga 200 milyardpun tak akan cukup. Belum lagi kalau ingin mengembalikan kelebaran sungai, sekurangnya antara 10 – 15 meter, tentu akan lebih banyak lagi biaya yang diperlukan.

Sungai Karang Mumus bersih mungkin masih merupakan impian andai kita tetap berlaku biasa-biasa saja.

Andai Mahakam Bisa Bicara

1545872_883876075029261_842523038490329971_n

Hajatan Festival Mahakam kembali akan digelar oleh Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda pada tanggal 6 hingga 8 November 2015. Penyelenggara meyakinkan bahwa akan lebih banyak mata acara ketimbang gelaran serupa pada tahun sebelumnya. Festival adalah sebuah … read more