Tag Archives: Proyek

salah satu speed rombongan Walikota Samarinda

Blusukan di Karang Mumus

Kurang lebih sebulan lalu, Pak Syafruddin Pernyata, Kepala Badan Diklat Provinsi Kaltim yang juga tetua dari Komunitas Jelajah di tepi Sungai Karang Mumus mengatakan bahwa Gerakan Memungut Sehelai Sampah Karang Mumus adalah sebuah gerakan besar. Dikatakan besar karena dilakukan oleh masyarakat tanpa campur tangan pemerintah. Namun dia juga menyatakan Walikota dan Wakil Walikota terpilih pasti akan memperhatikan hal ini.

“Saya yakin, Pak Sjaharie Jaang dan Pak Nusyirwan akan datang ke Karang Mumus, sekarang belum karena menunggu dilantik,” ujarnya waktu itu.

Setelah dilantik bersama dengan pemimpin daerah kabupaten/kota lain di Kalimantan Timur (Rabu, 17/02/2016), Sjaharie Jaang yang kembali resmi memimpin Kota Samarinda menyatakan akan blusukan ke Sungai Karang Mumus.

Dan benar, keesokan harinya (Kamis, 18/02/2016) bersama dengan rombongan, Sjaharie Jaang menelusuri Sungai Karang Mumus. Sebelum memulai blusukan, kepada wartawan Sjaharie Jaang menyatakan bahwa akan segera melakukan relokasi terhadap 84 rumah yang ada diantara Jembatan Kehewanan dan Jembatan Lambung Mangkurat. Selain itu juga disampaikan tentang penurapan pinggiran Sungai Karang Mumus.

Cerita relokasi adalah cerita lama, sebuah upaya yang tak berhasil dituntaskan. Namun sebagai sebuah langkah alternatif untuk restorasi Sungai Karang Mumus, relokasi warga yang tinggal di bantaran masih terus bertahan. Para pengambil kebijakan dan perencananya nampaknya yakin betul bahwa relokasi adalah jalan ampuh untuk kembali menyehatkan Sungai Karang Mumus.

Pengambil kebijakan dan para penasehat pembangunannya selalu saja meyakini bahwa jalan penyelesaian masalah adalah serangkaian proyek. Dan umumnya proyek itu dilandasi dengan alas untuk menertibkan dan merapikan.

Padahal, jika merujuk pada persoalan yang menimpa Sungai Karang Mumus selama beberapa puluh tahun terakhir ini semua berujung pada perilaku kebijakan dan perilaku masyarakat. Perilaku kebijakan terutama pada pemberian ijin pembukaan lahan atau alih fungsi lahan di daerah hulu Sungai Karang Mumus yang mengakibatkan terjadinya pelumpuran yang luar biasa sehingga mendangkalkan juga menyempitkan Sungai Karang Mumus.

Penyelenggara pemerintahan juga abai dan gagal menjaga tata ruang kota, sehingga Karang Mumus tidak mempunyai daerah penyangga. Padahal Sungai Karang Mumus merupakan salaah satu outlet pengendalian banjir di Kota Samarinda. Kegagalan ini membuat daerah-daerah di sekitar Sungai Karang Mumus menjadi lokasi banjir di kala Kota Samarinda diguyur hujan lebih dari 2 jam.

Sementara perilaku masyarakat yang berpengaruh pada kesehatan Sungai Karang Mumus adalah kebiasaan dalam membuang limbah dan sampah. Dan ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di bantaran sungai saja melainkan juga masyarakat lainnya.

Maka bicara soal perilaku, yang pertama seharusnya dilakukan bukan proyek-proyek yang bersifat fisik. Yang semestinya dikembangkan adalah program dan kegiatan yang mendorong adanya perubahan perilaku, baik di tingkat kebijakan maupun di tingkat masyarakat.

Pendekatan kebijakan terhadap problem Sungai Karang Mumus tidak lagi boleh bersifat parsial, hanya memperbaiki penampilan fisiologi belaka. Memindahkan warga, menurap sungai bukanlah jaminan untuk membuat Sungai Karang Mumus menjadi sehat kembali.

Terbukti pada beberapa alur dimana warga telah direlokasi dan pinggirannya telah diturap, sampah tetap saja mengotori sungai. Dan ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi ruang bernafas untuk Sungai Karang Mumus diduduki oleh pedagang baik pagi, siang maupun malam. Dan lagi-lagi pemandangan yang tidak elok dan tak sedap tetap saja menjadi bagian Sungai Karang Mumus meski rumah-rumah di bantarannya telah dibersihkan.

Soal perilaku membuang sampah, terbitnya peraturan daerah yang mengatur hal itu tidaklah cukup. Sebab sungguh berat untuk melakukan pengawasan. Apalagi jika mandat pengawasannya hanya diberikan kepada Satuan Polisi Pamong Praja.

Merubah perilaku dengan ancaman, sungguh tidaklah cukup. Sebab perubahan perilaku terkait dengan pengetahuan, ketrrampilan, niat dan dukungan serta penyemangat untuk terus bertahan dalam perilaku baru.

Sesungguhnya untuk mengenal permasalahan Sungai Karang Mumus tidaklah cukup dengan sekali melewatinya. Kita harus datang dan merasakan baunya, menatap hitam airnya, memungut aneka sampah didalamnya dan kemudian merasakan gatal di kulit kita.

Pengalaman dan sentuhan langsung dengan Sungai Karang Mumus niscaya akan membuat kita merasakan betapa menyedihkan keadaan sungai ini. Dan kemudian kita akan meyakini bahwa pertama yang harus kita singkirkan adalah sampah yang tak mudah terurai. Menyingkirkan sampah di Sungai Karang Mumus tidak harus dilakukan dengan menyingkirkan warga yang tinggal di bantaran sungainya.

Dengan kedalaman berpikir dan kecerdasan yang mumpuni, pemukiman di bantaran sungai bisa ditata dengan model pengelolaan limbah yang ramah lingkungan sehingga kemudian justru akan berkembang menjadi sisi baik dari kehidupan di sepanjang Sungai Karang Mumus. Dan syukur-syukur jika kelak justru kemudian berkembang menjadi obyek wisata.

@yustinus_esha