Tag Archives: punggut sampah

15 tepi-K150

Jaga Kali

Konon nama Sunan Kalijaga, yang punya nama lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurarrahman dalam salah satu cerita versi Cirebon berawal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Saat berdiam di sana, beliau sering berendam di sungai (kali). Layaknya sedang menjaga (jaga) sungai (kali).

Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh syiar Islam di tanah Jawa yang dikenal karena cara dakwah yang sangat toleran kepada budaya lokal. Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, seni gamelan dan seni suara suluk sebagai sarana untuk memperkenalkan ajaran agama Islam.

Lagu suluk Ilir Ilir dan Gundul Gundul Pacul adalah ciptaannya yang populer. Beliau juga menggagas baju takwa, perayaan sekaten, gerebeg maulud dan lakon carangan Layang Kalimasada serta Petruk Dadi Ratu. Lanskap kota dengan bangunan keraton, alun-alun dengan dua beringin dan masjid juga diyakini dikonsep olehnya. Pendekatan yang dipakai oleh Sunan Kalijaga terbukti efektif, sehingga hampir sebagian Adipati di Jawa kemudian memeluk agama Islam.

Belajar dari spirit Sunan Kalijaga yang menghormati alam, lingkungan dan kebudayaan yang tumbuh di tempatan sebagai landasan untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di Samarinda, muncul sebuah aksi yang dikenal sebagai Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus. Gerakan ini memang tidak berada dalam jalan dakwah Islamiah, namun sejatinya juga meneruskan ‘aksi kenabian’ dalam konteks ‘Jaga Kali’ atau menjaga dan merawat sungai.

Kenapa sungai harus dijaga?. Sebab sungai adalah ciptaan yang mempunyai peran vital dalam kehidupan manusia di sekitarnya. Sungai dalam sejarah kehidupan di Kalimantan adalah lanskap kehidupan dan penghidupan dengan segala sistem sosial, budaya dan ekonomi yang tumbuh darinya.

Sungai Karang Mumus dalam catatan perjalanan Kota Samarinda adalah urat nadi sekaligus jantung pertumbuhannya di masa-masa perdana. Kehidupan Kota Samarinda dulu berada di sekitar jalur aliran Sungai Karang Mumus. Namun sungai yang menjaga kehidupan Kota Samarinda ini dalam perjalanannya kemudian tidak dijaga. Sungai ini diduduki di kanan-kirinya oleh permukiman dan pusat-pusat usaha ekonomi yang membuat wajahnya berubah.

Kanan-kiri sungai yang dulu rimbun oleh aneka pepohonan lokal, kini menjadi ruang terbuka maupun permukiman yang padat. Daerah perlindungan, area tangkapan airnya juga dihajar oleh berbagai kepentingan. Sungai tidak lagi dilindungi, hanya dimanfaatkan, dikuras habis sumber dayanya.

Sekitar September 2015, Pak Misman yang jauh sebelumnya mulai “Jaga Kali” Karang Mumus rajin mengupload foto-foto sesampahan yang memenuhi badan Sungai Karang Mumus terutama di bagian hilir. Setiap hari halaman facebooknya dipenuhi oleh foto-foto yang membuat hati teriris. Bahwa sebelumnya banyak orang prihatin pada kondisi Sungai Karang Mumus itu adalah pasti. Yang mulai bergerakpun juga banyak, namun yang konsisten melakukan ‘Jaga Kali’ tidaklah banyak.

Dan Pak Misman kemudian mengawali ‘Jaga Kali’ dengan ajakan untuk ‘Memungut Sehelai Sampah’. Ya sehelai, karena itu adalah representasi kekuatan dirinya dalam memungut sampah di Sungai Karang Mumus yang telah bertumpuk-tumpuk selama puluhan tahun. Tekanan dalam ‘Jaga Kali’ adalah memungut, sebab selama ini ada praktek membersihkan lingkungan Sungai Karang Mumus namun dengan cara menghanyutkan sesampahan. Yang penting lingkungan sendiri bersih karena sampah dikirimkan ke lingkungan orang lain di wilayah bawahnya. Cara seperti ini tentu tidak akan mengurangi volume sampah di badan Sungai Karang Mumus.

Dalam perjalanannya kemudian Pak Misman bertemu dengan Pak Bachtiar atau lebih dikenal dengan nama Iyau Tupang. Pak Iyau ketika mulai menjabat sebagai Ketua RT melakukan ‘Jaga Kali’ dengan melindungi area Ruang Terbuka Hijau di pinggir Sungai Karang Mumus yang masuk wilayah kekuasaannya. Sejengkal tanah di tepian tanggul SKM, dijaga betul olehnya agar pohon yang ditanam disitu tumbuh leluasa karena tidak diganggu oleh aktivitas warga yang permanen seperti berjualan, parkir dan lain sebagainya.

Paduan antara dua tukang ‘Jaga Kali’ inilah yang kemudian menghidupkan roh Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMS3KM) hingga kemudian mempunyai pangkalan pungut, alat dan armada pungut.

Gerak langkah ‘profetik’ yang dilakukan oleh GMS3KM tidak hanya sekadar menyadarkan atau mendidik warga Kota Samarinda tentang bagaimana seharusnya memperlakukan sungai, menjaga dan merawat sungai, namun sudah mampu mengerakkan sebagian warga Kota Samarinda untuk turut serta secara aktif.

Sudah puluhan komunitas, kelompok, instasi dan individu-individu yang kemudian aktif ikut berkontribusi untuk GMS3KM dalam berbagai bentuk. Walau apa yang dilakukan belum mampu merubah wajah Sungai Karang Mumus, namun gerakan ‘Jaga Kali’ ini secara perlahan mampu menghadirkan realitas yang utuh tentang apa yang terjadi di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus.

Jika semenjak pemerintahan Presiden Jokowi kerap digaungkan soal revolusi mental dan kemudian di halaman berbagai instansi pemerintah banyak baliho tentangnya. Maka GMS3KM dalam jalan sunyi, tanpa menggelar FGD, Diskusi dan Pelatihan Revolusi Mental sesungguhnya telah merintis jalan yang benar dalam me-Revolusi Mental warga Kota Samarinda.

Perjalanan yang kelak akan menghasilkan warga kota yang malu membuang sampah ke sungai, tak tega mengotori sungai dan kembali menyehatkan sungai dengan tidak menduduki badan sungai, merampas ruang hidup sungai.

Karang Mumus sesungguhnya masih mempunyai sumberdaya yang bisa dipakai atau diberdayakan untuk kembali menyehatkan dirinya. Yang diperlukan hanyalah sinergi antara warga Kota Samarinda dengan apa yang ada di Sungai Karang Mumus. Sinergi dalam bentuk kerelaan dan kesediaan warga untuk kembali menghormati sungai sebagai ciptaan yang perlu dijaga keutuhannya.

Kita tidak akan bisa hidup tanpa air dan sungai adalah salah satu sumber daya air terbesar di Kota Samarinda. Jika sungai tidak dijaga maka kita sebenarnya tengah melakukan bunuh diri massal karena membiarkan diri terpapar oleh air yang sebenarnya tidak layak pakai.

Revolusi Mental yang sesungguhnya untuk Kota Samarinda adalah ‘Jaga Kali’ dan itu harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan perilaku terkait tata guna lahan, memberi dan mempertahankan ruang perlindungan, area tangkapan air dan sabuk hijau untuk Sungai Karang Mumus.

Dengan ‘Jaga Kali’ Sungai Karang Mumus, berarti kita warga Kota Samarinda menjaga kehidupan bersama, menjaga peradaban kota dan menjaga kehidupan yang sehat serta nyaman untuk generasi sekarang dan masa depan.

 

Bebas dari Kemustahilan

52 Punggut Sampah

Hampir sebagian besar ‘prestasi’ yang mengagumkan dan berguna untuk lingkungan serta masyarakat diawali oleh kemustahilan. Mereka yang membuat terowongan di gunung batu untuk menjadikan saluran air ke kampungnya, pada awalnya dianggap sebagai orang gila. Seseorang yang menanami pantai dengan bakau … read more