Tag Archives: robusta

Juri Samarinda Barista ThrowDown

#coffeeducation : Kopi Spesiality

Beberapa minggu lalu saya sempat jalan-jalan ke Desa Long Anai, salah satu desa budaya yang ada di kecamatan Loa Kulu, kabupaten Kutai Kartanegara. Ketika ke tepi sungai, di atas dermaga saya lihat ada sedikit biji kopi (coffee bean) sedang dijemur. Nampaknya kopi itu belum lama dipetik sehingga bijinya masih terlihat kehijauan.

Dari cerita salah satu anak muda disitu, ternyata kopi dulu merupakan tanaman utama orang tua mereka di ladang. Namun kemudian tanaman kopi tidak dipelihara lagi ketika orang tua mereka mulai menanam coklat. Dan ketika tanaman coklat diserang hama, kini orang tua mereka lebih memilih menanam karet.

“Saya sekolah dari uang kopi,” begitu kata anak muda itu. Namun kini kopi tak lagi jadi komoditas utama, cenderung dilupakan atau bahkan dimatikan. Apa yang terjadi terhadap tanaman kopi di Long Anai adalah gambaran umum perlakuan terhadap kopi di Kalimantan Timur. Barangkali, dulu ketika komoditas kopi pemasarannya masih bagus, petani cenderung memperlakukan kopi secara asalan. Kopi dipetik tanpa dipilih demikian juga ketika pasca panen perlakuannya tidak hati-hati. Lama kelamaan kualitas kopi menurun demikian pula dengan harganya. Sehingga sampai pada suatu titik bertanam atau membudidayakan kopi tidak menguntungkan lagi.

Di pasaran dunia, tahun 90-an, pasar dibanjiri oleh kopi dengan kualitas rendah. Alhasil harga komoditas kopi menjadi anjlok dan menimbulkan krisis karena kopi merupakan salah satu komoditas andalan dari negara-negara beriklim tropis. Ada banyak negara mengantungkan diri kepada kopi sebagai komoditas untuk memperoleh pendapatan.

Negara produsen dan konsumen kopi kemudian mengambil inisiatif untuk kembali meningkatkan kualitas kopi. Tujuannya adalah mengembalikan kopi dalam kualitas terbaik, jika kualitasnya baik maka harganya akan baik pula. Harga yang baik akan membuat petani akan memperoleh pendapatan yang lebih baik pula. Sehingga menanam kopi kembali menjadi pilihan.

Inisiatif ini kemudian memunculkan istilah kopi spesial atau coffee speciality. Istilah ini kali pertama digunakan oleh Erna Knutsen (1978) dalam jurnal ‘Tea and Trade Journal’. Yang dimaksudkan oleh Knutsen dengan kopi spesial merujuk pada keunikan rasa dari biji kopi yang diproduksi di iklim dan wilayah tertentu. Tentu saja istilah ini memicu perdebatan dan pertanyaan lanjut, apa batasan iklim dan wilayah, batasan citarasa unik itu seperti apa?. Apa yang disebut sebagai wilayah itu merujuk ke perkebunan atau daerah. Dah bukankah citara itu bisa dipengaruhi oleh paska panen, seperti penjemuran, roasting dan lain sebagainya termasuk cara seduhnya.

Dan berbagai upaya untuk menjawab itu terus dilakukan termasuk dengan penelitian yang mendalam. Hingga kemudian istilah kopi spesiality menunjuk pada kopi spesies arabica yang berkualitas premium. Standar yang dipakai adalah yang dikeluarkan oleh SCAA (Specialty Coffee Association of America). Dalam panduan SCAA kopi premium adalah biji kopi (green bean) disebut memiliki nilai spesial ketika dari 300 gram biji kopi yang diambil secara acak, memiliki kadar air lebih-kurang 9-13%, dan tidak lebih dari 5% jumlah biji kopi yang lolos ayakan pada saringan berukuran 14-18 mesh. Pada biji kopi yang tertinggal tidak boleh terdapat biji kopi yang memiliki cacat penuh (full defect). Dan saat dilakukan cupping test oleh Q-grader tersebut wajib memiliki skor minimum 80 dari atribut body, rasa, aroma dan accidity.

Setahun terakhir ini di Samarinda terus bermunculan coffee shop yang menyediakan atau menyajikan single origin coffee dan kopi-kopi yang disebut sebagai kopi spesial, kopi premium yang berasal dari berbagai daerah diluar Kalimantan seperti Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua dan Jawa. Bahkan beberapa coffee shop menyediakan kopi dari benua Afrika dan Amerika, seperti Brasil, Guetamala, Ethiopia dan Konggo

Tentu ini angin segar buat pencinta kopi yang kerap kali tak mampu jika harus rutin ngopi ‘rasa uang’ di Excelso, Starbucks atau Coffee Bean. Tapi jauh di dalam hati, sebagai orang Samarinda terselip sebuah impian, suatu saat di coffee shop pada list menu tertulis Kopi Samarinda.

@yustinus_esha

#coffeeducation : Berbagi : Kopi Bikin Happy

Apa yang ingin dirasakan oleh para penikmat kopi?. Pasti mereka menginginkan rasa kopi yang memiliki variasi. Dan kopi memang memungkinkan penikmatnya untuk mendapatkan rasa yang berbeda meski dari biji yang sama. Rahasianya ada pada teknik seduh. Sebagai pengemar kopi dengan … read more

Kopi Se – Kopi-Kopi – nya

Gaya hidup secara sederhana bisa dirumuskan sebagai persepsi dan perilaku tertentu terkait dengan budaya konsumsi dan identitas kultural sebuah masyarakat dalam kurun tertentu. Terkait dengan kopi, menarik untuk melihat perkembangan gaya hidup dan budaya minum kopi di Samarinda. Perbincangan tentang … read more