Tag Archives: ruang kota

10981435_461165974060721_6192351113812130828_n

Ekologi Baliho

Semalam (Sabtu, 14 November 2015) saya melewati jalan depan GOR Segiri. Dan sepanjang pagar dipenuhi dengan aneka baliho. Ada wajah-wajah yang saya kenal dan banyak pula yang tidak. Sebagian diantaranya adalah tokoh sungguhan karena kedudukannya, namun ada pula yang nampaknya ditokoh-tokohkan dan mungkin pula ada diantaranya yang menokoh-nokohkan diri. Tapi baik tokoh, menokohkan atau ditokohkan, semuanya sama saja membuat pinggir jalan subur dengan baliho.

Soal baliho ini, dulu orang ribut dan menyoal kala mau ada pemilihan umum. Namun kemudian KPU mulai mengatur pemasangannya. Dan saat ini meski pemilihan umum serentak tinggal beberapa hari lagi, baliho pasangan calon yang hendak bertarung tak lagi jadi polusi visual. Sayangnya demam baliho yang dulu kerap melanda para calon entah eksekutif maupun legislatif ternyata menular ke berbagai pihak. Jadi meski baliho pasangan calon tak menghiasi pinggir jalan kelewat kelebihan dosis, baliho-baliho berbagai tokoh lainlah yang kini banyak mencemari pandangan kita sebagai pemakai jalan.

Saya bukanlah orang yang ahli dari urusan iklan atau promosi. Tapi cukup tahu bahwa semua baliho itu pasti hendak ditujukan untuk mempromosikan diri. Masalahnya promosinya menurut saya tidaklah tepat. Misalnya saja baliho berisi sederet wajah orang mengucapkan selamat terhadap institusi tertentu, nah menurut saya tidak seharusnya ini dipamerkan di depan publik karena yang diberi ucapan sekalipun belum tentu melewati tempat itu.

Jadi apa sebetulnya pamrih dari pemasang baliho yang tidak tepat sasaran itu?. Lebih aneh lagi jika ada baliho besar yang menuliskan permintaan restu karena akan bersaing menjadi ketua ini dan itu. Apa coba hubungannya publik dengan musyawarah atau konggres tertentu. Apa pula pentingnya restu dari masyarakat apabila hak suara hanya ada di peserta yang hadir dalam sebuah pertemuan internal.

Baliho dipasang di ruang publik, jadi kalau isi baliho tidak ada urusannya dengan publik mestinya tidak perlu dipasang di ruang publik. Mesti diingat ruang publik adalah ruang bersama, jadi jangan mencampuradukkan kepentingan ‘saya’ agar menjadi kepentingan ‘kita’.

Maka menjadi mengelikan, jika beberapa waktu lalu ketika asap menyerbu Samarinda, tak ada satupun baliho yang menunjukkan keprihatinan ekologis muncul di pinggir jalan. Tidak ada satupun pesan yang mengingatkan agar kita tak membakar sampah meski di tempat pembuangan sampah kita sendiri. Alhasil pinggiran jalan kota kita kaya dengan baliho tapi miskin pesan yang mengingatkan bahwa kehidupan kota ini adalah kehidupan bersama, bukan kehidupan ‘saya’ atau ‘dia’ melainkan kehidupan ‘kita’.

Mohon tidak buru-buru menilai saya anti baliho. Sebab ada banyak teman saya yang memperoleh pendapatan dari mendesain dan mencetak baliho, sehingga saya juga berharap mereka terus mendapat order pesanan baliho. Tapi sebagai seorang pengendara motor yang kerap berkendara melawan panas dan debu, tentu saya ingin baliho yang saya lihat di sepanjang jalan adalah baliho yang menyejukkan hati dan membuat pikiran menjadi dingin karena pesan-pesannya yang berkenaan dengan hati.

Jadi kepada siapapun yang berencana memasang wajahnya di baliho untuk dipasang di pinggiran jalan utamanya jalanan yang strategis, mohon dipertimbangkan matang-matang. Untuk apa anda membuat baliho, apakah baliho itu mewakili kepentingan ego sendiri atau kepentingan masyarakat umum. Kalau nuansa baliho adalah ego anda sendiri, maka urungkanlah sebab baliho itu hanya akan mengotori ruang publik dan kemudian menjadi sampah visual. Baliho itu tidak akan mendatangkan keuntungan apa-apa untuk diri anda sebagai pemasangnya.

Sekali lagi, ruang pinggir jalan adalah ruang umum, ruang kita maka jangan kotori dengan pemandangan yang tujuannya hanya memamerkan kepentingan diri kita sendiri lewat pesan-pesan yang tidak ada hubungannya dengan para pemakai jalan.

@yustinus_esha