Tag Archives: Semenisasi

Kota Cerdas  Sumber : Internet

Samarinda, Menjauhnya Rasa Aman dan Nyaman

Kota Cerdas  Sumber : Internet

Kota Cerdas Sumber : Internet

Ketika pertama kali tinggal di Samarinda pada akhir tahun 2002, saya masih bisa merasakan air PDAM mengalir sendiri. Tidak seharian penuh, melainkan menetes tak terlalu kencang pada jam tertentu. Sesekali airnya cukup kencang dan bertenaga sehingga mampu mengisi tandon air yang berada diatas dak kamar mandi.

Namun perlahan-lahan kekuatan air menurun dan 5 tahun terakhir ini tanpa disedot dengan mesin pompa, air PDAM tak akan mengalir sama sekali. Mesin pompa pun jika dihidupkan hanya akan mampu menyedot air di atas jam 12.00 malam. Alhasil, setiap malam, saya begadang menunggu bak mandi dan tandon air penuh.

Sekitar 12 tahun sudah saya tinggal di Kota Samarinda, berarti sekitar 3 periode kepemimpinan Wali/wakil walikota. Dalam tiga periode itu ada nama yang sama duduk selama dua periode sebagai Wakil Walikota dan satu periode yang hampir paripurna sebagai Walikota.

Air, siapapun tahu itu adalah kebutuhan pokok. Dan salah satu tugas utama dari pemimpin adalah memastikan ketersediaan kebutuhan pokok untuk warganya terpenuhi. Tanggungjawab ini adalah turunan dari tugas pemimpin sebagai pelayan dari mereka yang dipimpinnya. Berkaca dari orkestra pompa air setiap tengah malam, maka tidaklah berlebihan jika dalam layanan kebutuhan pokok, pemimpin Kota Samarinda selama 3 periode ini bisa dikatakan gagal total.

Tanggungjawab pemimpin yang lain adalah menyediakan ruang hidup yang bersih, aman dan nyaman untuk warganya. Dari catatan yang dikumpulkan oleh Jaringan Advokasi Tambang, Kaltim, mulai dari akhir 2011 tercatat 10 anak tewas di lubang tambang. Dan titik banjir setiap tahun bertambah banyak. Tahun ini banjir telah menyeret dua anak hingga tewas.

Terkait kinerja dari pemimpin kota, seorang kawan memberi perumpamaan. Pasangan Walikota dan Wakil Walikota ibarat kepala rumah tangga. Warga adalah anak-anak yang harus dijaga, dibesarkan dan diberdayakan. Sementara wilayah kota adalah rumah tempat tinggalnya. Menurutnya, sebagai kepala rumah tangga, pemimpin kota bertanggungjawab untuk mencari nafkah. Nafkah dalam bahasa kepemerintahan adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan PAD inilah kehidupan kota akan dijalankan.

Dari postur APBD Kota Samarinda, menjadi jelas bahwa PAD belum mampu menopang jalannya kehidupan kota. Kota ini lebih banyak menghabiskan uang untuk belanja ketimbang memperoleh pendapatan. Berita terakhir di media masa, dalam bahasan APBD perubahan Kota Samarinda tahun 2015 ini diproyeksikan defisitnya mencapai 800-an milyard. Maka tak perlu heran jika penanda proyek-proyek yang mogok atau molor berkepanjangan akan semakin mudah disaksikan.

Sebenarnya daftar panjang ketidakmampuan pemimpin kota menjalankan tanggungjawab kepemimpinannya bisa diperpanjang. Beberapa contoh diatas sudahlah cukup karena itulah hal-hal essensial yang tak mampu dicapai. Tapi bukan berarti pemimpin kota tak berbuat apa-apa untuk kota ini. Sebab ada juga beberapa kemajuan yang bisa dilihat dan dicatat. Sekurang-kurangnya dalam beberapa tahun ini muncul beberapa taman, ada yang dibuat baru ada pula yang merupakan pembaharuan dari yang sudah ada.

Wajah lain yang berubah adalah jalanan, di berbagai wilayah jalanan telah disemen sehingga penampakannya lebih halus. Dan yang paling menonjol adalah bertambahnya jumlah hotel dan pusat perbelanjaan entah dalam bentuk mall maupun minimart.

Namun jika membandingkan antara kemajuan dan kemunduran yang dialami, sebenarnya kehidupan dan lingkungan hidup warga Kota Samarinda tak mengalami perbaikan. Beberapa bahkan cenderung memburuk sehingga menyusahkan kehidupan warganya.

Nah, mereka yang bertanggungjawab terhadap keadaan ini, kini menjelang pemilihan kepala daerah serentak mencalonkan diri kembali. Mereka ingin memimpin lagi Kota Samarinda untuk lima tahun ke depan. Semoga ini bukan pertanda keponggahan dan tutup mata atas segenap ketidakberhasilannya dalam kepemimpinan yang lalu. Sehingga langkah untuk mencalonkan diri kembali adalah bentuk pengakuan atas segenap kelemahan dan niat untuk memperbaiki semua kekurangan dalam lima tahun mendatang. Dan sebagai warga, saya berharap andai mereka terpilih kembali maka perhatian yang utama adalah memenuhi kebutuhan pokok warga. Saya akan bahagia jika kran air di bak kamar mandi mengalir sendiri tanpa perlu disedot dengan pompa listrik.

@yustinus_esha